Translate

Rabu, 27 September 2017

THE MEMOIRS, A Gay Chronicle BAB 25




 BAB 25



Keesokan harinya, aku kembali terbangun sendirian. Kepalaku terasa sakit dan pening luar biasa. Aku mengedarkan pandangan, mencoba mengenali keadaan dan lingkungan di sekelilingku yang asing. Ingatan samar tentang kejadian semalam justru membuatku semakin pusing. Aku hanya mampu mengerang keras sementara kepalaku entah bagaimana, terasa semakin berat. Aku meraih sebuah gelas kecil berisi kopi yang aku temukan di atas meja lampu ada disamping tempat tidur dan menenggak isinya. Kopinya masih hangat dan pahit, tapi hal itu membuatku merasa lebih baik. Aku juga menemukan satu stel pakaian tertata rapi di kaki ranjang.

“Aku harus mandi,” gumamku pelan sembari mengutuk dalam hati. Aku benar-benar harus menjauhi anggur, putusku, membatin dengan kesal. Kurang dari seminggu di Paris, dan aku sudah mendapat hang over 2 kali. Rekor yang tak akan mungkin pernah bisaaku bahas didepan Bunda.

Kopi dan mandi air hangat benar-benar membuatku merasa lebih baik. Dan meski cuaca masih lumayan dingin, baju ganti yang disediakan untukku cukup tebal untuk menghangatkanku. Saat aku menuruni tangga menuju lantai satu, aku mendengar suara Soni yang sedang berbicara dalam bahasa Perancis dari arah dalam rumah. Aku mendekati dan aku lihat dia sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang kemudian pergi.

Sepertinya Soni mendengar aku turun, karena ia segera berpaling ke arahku. Soni tersenyum, sementara aku hanya membalasnya dengan tipis, ragu dan canggung. Ingatan akan apa yang terjadi semalam membuatku benar-benar jengah dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku bahkan masih bertanya-tanya dalam hati,  apakah semua yang terjadi itu hanya hasil imajinasi liarku saja.

“Sudah bangun rupanya,” sapa Soni riang dan mendekat, “Selamat pagi,” katanya lagi setelah dekat dan langsung mencium keningku, “How do you feel? Lebih baik sekarang? Kau minum lumayan banyak semalam,” katanya lembut. 
Satu tangannya meraih pinggangku dan menariknya untuk lebih dekat, sementara tangan kanannya membelai lembut sedikit rambutku yang basah dan jatuh ke dahi.

I’m................okay,” jawabku lirih dengan kepala tertunduk malu. Tuhan!! Sebenarnya apa yang terjadi? Nyatakah semua ini?!!

Soni tergelak kecil dan merengkuhku, memelukku erat dan menyandarkan kepalaku di dadanya, “Ehhmmmm.... baumu harum dan segar. I like it!” gumamnya pelan saat dia menarik napas dalam, seolah-olah menghirup aromaku. Hal yang justru biasanya aku lakuka saat berada di dekatnya. Lalu kurasakan dia mencium ujung kepalaku, “Ayo kita sarapan,” katanya dan melepas pelukannya. Dia menarik satu tanganku untuk mengikutinya.

Ou t’es mon petit ange?!!!

Terdengar suara keras dari ujung ruangan hingga aku merasa sedikit terselamatkan dari suasana canggung yang kurasakan. Kulihat seorang pria bule masuk dari pintu depan dan mendekat dengan cepat ke arah kami. Seorang lelaki awal empat puluhan yang tampak gagah dengan tubuh terbalut jas rapi dan jelas menunjukkan kelas. Dia terus melangkah masuk seraya menyunggingkan senyum lebar dan berseru, “Bienvenue en France my dear one! Ça fait longtemps que tu n’as pas visite!

“Felix!!” Soni berseru senang dan menghambur ke arahnya.

Kalau menurutku Soni adalah cowok dengan fisik paling menarik yang pernah aku temui, maka orang yang dia panggil Felix tadi adalah versi dewasanya. Lelaki itu benar-benar mengagumkan. Sosoknya terlihat rapi, classy dan menawan. Tubuhnya ramping dan terawat dalam balutan jas mahal dan mewah. Sepatunya mengkilap tak tercela dengan rambut yang tersisir rapi. Sosoknya lebih mirip model sebuah biro hukum yang bonafid dan bergengsi.

“Felix, I want you to meet TJ!” kata Soni, berganti ke bahasa Inggris, saat mereka melepaskan pelukannya dan berpaling padaku. Soni kembali melangkah mendekatiku. Dia memeluk pinggangku dengan tangan kirinya, “TJ, ini pamanku. Jean Felix Damian Duainne. Felix, this is TJ and he can’t speak French!” katanya dan menghadapkanku langsung pada pria tadi dengan kedua tangannya di pundakku.

Sepertinya bukan aku saja yang kaget. Felix tampak sedikit terbelalak, memandangku dan Soni bergantian dengan tatapan tak percaya. Tapi kemampuannya dalam menghadapi situasi yang tak terduga benar-benar mengagumkan. Dengan cepat dia bisa menguasai diri dan tersenyum padaku.

“Aaahh........dari Indonesia? Senang bertemu denganmu TJ. Panggil aku Felix,” katanya ramah dalam bahasa Indonesia yang terbata namun toh jelas dan tertata rapi. Membuatku tambah shock. Aku menyambut ulurannya dengan keheranan yang tak mampu ku sembunyikan.

“Paman?” gumamku, lalu beringsut dengan jengah dan sedikit takut. Melepaskan diri dari pelukan Soni di pinggangku.  
Dia gila apa?!!! Bersikap seperti ini di depan pamannya!! Pikirku ngeri.

“Iya. Dia adik ayahku Jean Phillipe Damian Duainne.”

“A-ayahmu.........orang Perancis?” tanyaku tambah heran dan juga kaget. Tunggu sebentar? Apa semalam kami juga sudah membahasnya?, batinku bingung.

“Kau tidak tahu? Bukankah sudah jelas kalau malaikat kecilku ini berdarah campuran?” tanya Felix dengan nada menggoda.

Aku ternganga. Kejutan baru lagi! Aku bergantian menatap Felix dan Soni. Memang benar ada kemiripan pada profil wajah mereka! Aku sedikit menyadarinya tadi. Ini menjelaskan banyak hal! Jadi inilah kenapa Soni selalu tampak berbeda dari yang lainnya di sekolah. Rona kulitnya yang cerah, matanya yang kecoklatan dan dalam, serta profil wajahnya yang berbeda dari teman-temannya yang lain. Dia indo! Blasteran!Tapi............rambutnya sama sekali tak ada nuansa coklatnya. Rambut Soni hitam legam, sehingga aku sama sekali tak memiliki dugaan kalau dia berdarah campuran. Pantas saja semalam dia mengatakan kalau perkebunan ini milik ayahnya. Dia menceritakan semuanya secara harfiah. Hanya aku saja yang terlalu lambat untuk menyadari.

“Aku....tak tahu,” gumamku lirih.

“Kau harus melihatnya saat dia tak mengecat rambutnya,” tambah Felix lagi.

“Di cat? Rambutnya?” ulangku bego.

Soni tersenyum melihatku, “Aku mewarnai rambutku dengan warna hitam supaya tidak terlalu mencolok. Sebetulnya rambutku berwarna kecoklatan. Akan ku jelaskan nanti. Felix, kita sarapan sama-sama. Ayo TJ,” ajak Soni dan kembali menarikku menuju ruang makan.



Aku lebih banyak diam saat sarapan. Bukan hanya karena beberapa kejutan beruntun yang baru aku dapat tadi, tapi juga karena sikap Soni. Dia begitu...............mesra dan intim memperlakukanku. Sesekali dia menyuapiku atau memegang tanganku. Terkadang mengusap kepalaku sembari bercanda. Padahal ada Felix, pamannya yang ikut makan bersama kami. Meski pria itu kelihatan anteng-anteng saja, hanya sesekali tersenyum dengan sikap Soni. Tapi aku benar-benar jadi canggung dan mati kutu.

“Jadi apa rencana kalian?” tanya Felix kemudian.

“Setelah sarapan, aku mau ajak TJ keliling. Siang nanti mungkin ke kota, sekalian makan siang. You should join us.

Sure! Uhm, yang mengingatkanku. Jangan lupa untuk mencari setelan resmi. Akan ada pesta kecil besok malam.”

“Yeah, I heard about that. Rencananya memang beli kami akan membeli baju juga. Semua pakaian kami ada di hotel. TJ tak punya baju ganti.”

“Apa aku tak bisa pakai punyamu? Closet di atas penuh dengan baju kan?” potongku, “Gak usah beli baju lagi deh.”

Honey, ukuran tubuh kita berbeda. Baju-baju yang ada disini adalah baju lamaku. Seperti yang kau pakai sekarang. Kegedean kan?”

I don’t mind. I like yours.

Soni tersenyum, “No! Aku tak akan memberimu baju bekas or anything. I want you to have the best, ok?” kata Soni  kembali mengusap kepalaku, membuatku kembali sedikit mengkeret jengah karena Felix. Parahnya lagi, dia kemudian menarik kepalaku dan mencium ujung kepalaku sembari tertawa kecil. Sikapnya yang seakan-akan menganggap semuanya baik-baik saja tak membuatku tenang. Dia begitu natural. Hampir menakutkan bagaimana dia bisa menganggap Felix seakan-akan tidak mempermasalahkan kalau kami.................

Aku tak ingin memikirkannya!

 “Lagipula, seperti yang Felix bilang, kita harus mencari tuxedo. Semua milik kita ada di Paris. Ngomong-ngomong soal pesta, apa yang sebenarnya kita rayakan besok Felix?”

“Evelyn tak mengatakannya? Chantal masuk Cambridge University. Kami akan mengadakan pesta kecil untuk merayakannya. Juga untuk kedatanganmu. Kau tahu orang-orang kita kan?”

“Cambridge? That’s awesome! Tapi kau tahu aku tak akan lama disini. Apa perlu aku di ikutkan di dalamnya?”

“Jangan khawatir,” ujar Felix dan mengibaskan tangannya, “Ini hanya perayaan kecil. Hanya beberapa orang terdekat saja. Dan kita juga perlu mengadakannya. Ada seseorang dari keluarga Monaco yang meminta kita melakukan pengiriman rutin kesana. Jadi acara kita kali ini juga perayaan untuk kerja sama kita.”

“Monaco? Jadi kau sudah menembus pasar mereka?” tanya Soni, terlihat senang.

“Kau tahu bahwa mereka sudah lama menginginkan produk kita. Aku sengaja menahan kerja sama dengan mereka hanya supaya mereka semakin menginginkan kita. Tapi................aku harus mengirim produk kitadari  hasil olahan terakhir Phillipe. Kau tak keberatan?”

“Semua?” tanya Soni. Meski aku tak paham akan pembicaraan mereka, aku bisa menangkap sedikit nada khawatir atau mungkin sedih dari pertanyaan Soni yang singkat itu.

Felix tersenyum lembut, “Tidak. Aku menyisakan sedikit untuk perayaan khusus kita. Kau tahu aku tak mungkin menghabiskan olahan terakhir ayahmu untuk orang lain.”

Soni mengangguk, “Thanks. Lakukan saja yang menurutmu terbaik,” ujar Soni akhirnya, “So.............kau dan Evelyn pasti girang dengan keberhasilan Chantal,” ujar Soni, jelas berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Chantal?” gumamku sedikit heran, “Yang kita temui di butik yang ada di Paris waktu itu?”

“Yep!” jawab Soni mengangguk, “Chantal adalah putri Felix. Sepupuku.”

“Oh...jadi Evelyn istri anda Mr. Felix?”

Felix tertawa pelan, “Please call me Felix seperti Soni ma cherrie. No, I’m not. Chantal memang anakku. Tapi Evelyn bukan istriku.”

Oh, I’m sorry. Kalian sudah bercerai rupanya,” gumamku sedikit menyesal.

“Tidak, bukan!” kata Soni dan meminum susunya, “Felix dan Evelyn tidak pernah menikah. Felix...................” Soni menggantungkan kalimatnya dan berpaling ke arah Pamannya yang tersenyum.

I’m gay,” kata Felix ringan, membuatku yang sedang meminum susuku langsung tersedak keras dan sontan batuk-batuk. Soni cepat-cepat bangkit, mengangsurkan lap dan menepuk pelan punggungku. Felix hanya kembali tertawa dengan reaksiku, “Sepertinya banyak kejutan yang  akan kau dapat hari ini, my dear. Kau mungkin harus bersiap-siap,  karena aku pastikan bahwa kau akan dapat banyak lagi nantinya.”

“Baikan?” tanya Soni sedikit geli. Aku yang sudah agak tenang hanya mengangguk pelan.

“Kau dan keluargamu benar-benar................penuh kejutan,” kataku sedikit menggerutu.

Trust me, kau akan mendapatkan lebih banyak nanti,” ulang Felix ramah sembari tertawa kecil, “Just so you know, aku dan Evelyn hanyalah teman baik. Chantal adalah hasil dari inseminasi buatan.”

“Felix, maaf,” ujarku cepat, “Aku tak bermaksud untuk.........”

Felix sudah mengibaskan tangannya, “That’s okay. Jangan khawatir. Now, bagaimana kalau kita memberimu sedikit tour? Come on. Kau harus melihat-lihat rumah kami,” ajk Felix dengan luwes dan bangkit.




Meski benakku sedikit kacau dengan kejuta beruntun tadi, aku tak bisa menyangkal kalau tour yang diberikan Felix di perkebunan anggur ini, tak kalah menariknya dengan tour yang Soni berikan di Paris. Bukan hanya karen acara penyampaian Felix yang luwes dan menyenangkan, tapi juga kaena banyak hal tentang anggur dan pembuatannya yang tak pernah aku ketahui sebelumnya.

Sebelumnya tadi Soni yang memberi tour singkat keliling rumahnya yang dibangun di depan chateux.. sejauh ini, tempat favoritku adalah sebuah perpustakaan besar yang nyaman dengan rak buku penuh setinggi atap, dengan kursi-kursi besar empuk nyaman, lengkap dengan perapian. Tapi yang kemudian paling menarik perhatianku adalah sebuah lukisan minyak berukuran besar, bergambar Jean Phillips Damian Duianne, ayah Soni saat beliau berusia 25 tahun. Benar-benar mirip Soni. Hanya saja yang ini benar-benar kelihatan bulenya.

Lalu kami ke perkebunan.

Aku baru tahu kalau anggur hanya dipanen 1 kali dalam setahun. Yaitu sekitar bulan september atau oktober. Kemudian ranting dan daun-daunnya akan dipangkas (karen aitu waktu malam ketika kami datang, aku melihatnya seperti jalinan ruwet batang pohon). Tanaman anggur akan tidur selama musim dingin dan gugur. Daunnya baru akan keluar dibulan April. Sampai saat itu, tanaman anggur tidak akan disiram. Hanya diberi sedikit pupuk dengan pupuk organik.

Untuk buahnya, setelah diperas, anggur akan disimpan dalam drum kayu oak selama 1 tahun atau lebih. Tapi makin lama disimpan, maka makin enak dan makin mahal harganya. Harga anggur sendiri bervariasi, dari beberapa euro sampai ribuan euro. Di daerah Bordeux sendiri ada sekitar 500 tempat pengolahan anggur atau biasa disebut dengan chaeteux. Anggur di daerah ini juga mendapat pengawasan dan sertifikat dari AOC, Appelation d”Origin Controle.

Lalu siangnya, kami berjalan-jalan di kota. Ada sebuah jalan di Bordeux yang terkenal sepanjang 1200 meter. Dimana mobil dilarang lewat, yaitu Rue St.Catherine.Jalan ini menjadi ikon di Bordeux. Felix mengajak kami makan siang disalah satu restoran yang ada disana. Ada sedikit insiden kecil yang terjadi. Felix mengajak kami ke sebuah restoran mewah. Jenis restoran yang seumur-umur belum pernah aku masuki. Dengan kata lain, aku harus berhadapan dengan berbagai peralatan makan yang membingungkan. Di depanku ada 3 jenis garpu, 2 jenis sendok dan pisau. Masing-masing memiliki kegunaan dan urutan sendiri-sendiri yang tidak pernah aku ketahui.

Untuk mengakalinya, aku menunggu Soni melakukannya. Dan sepertinya dia mengerti kalau aku membutuhkan bantuannya. Dia menyentuh kakiku dibawah meja dan memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.

Felix juga membawa kami ke taman Jardin, yang mirip dengan Botanical Garden. Felix bilang, ada kursus tango gratis yang diadakan disini sebulan sekali, dan selalu ramai dengan peminat. Singkatnya, Bordeux benar-benar menakjubkan, meski dalam musim dingin seperti sekarang. Felix bilang kalau aku harus kesini saat musim panas atau saat panen anggur. Aku pasti akan lebih terkesan. Bordeux yang juga dikenal sebagai La Belle au Bois (The Sleeping Beauty) terletak di dekat laut, memiliki daerah seluas 1.000km persegi. Terbagi menjadi 57 daerah. Salah satu putra Bordeux yang terkenal adalah King Henry II yang pernah memerintah Inggris.

Berikutnya kami masuk ke sebuah butik kecil namun tampak elegan dan mahal. Felix jelas sekali sudah sangat dikenal disana, begitu pula Soni. Kami dilayani dengan sangat ramah, malah sedikit berlebihan. Karena manejer butik sendiri yang menyambut kami. Sepertinya aku masuk ke dunia para elit nih, batinku setelah melihat sambutan mereka.
Pengukuran sendiri tidak memakan waktu lama. Keluar dari butik, Felix pamit pergi untuk menyelesaikan suatu urusan. Dia meninggalkan kami menikmati suasana sore di dekat pelabuhan.

Felix benar-benar orang yang mengagumkan! Hal itu yang pertama kali terlintas di benakku saat kami duduk di restoran ini, menikmati segelas anggur yang sudah Soni yakinkan, tak akan lagi ditambah, untuk mencegahku mabuk lagi. Sikap Felix yang begitu luwes, ramah, elegan, berkelas juga berwibawa , mengingatkanku pada karakter tokoh-tokoh bangsawan barat dalam film-film yang ku lihat. Dan baru kusadari bahwa cara Felix bersikap dan berperilaku, sedikit mengingatkanku pada Soni. Ada kemiripan pada cara mereka bersikap, berbicara dan bahkan berbusana. Begitu serasi, sejalan. Seakan-akan semuanya memiliki tema yang saling mendukung dan membentuk sebuah imej tersendiri. Dan baru kusadari pula, bahwa hal-hal inilah yang membedakan Soni dengan teman-temannya yang lain di sekolah. Dia jauh lebih terdidik dan beradab dibandingkan dengan teman-teman seusianya.

Karena Soni tak membahas lagi cerita pahit yang semalam dia ceritakan, aku memutuskan untuk tidak menyinggungnya. Bukan karena aku tak tertarik, tapi karena aku sadar, kalau luka seperti itu bukanlah topik yang menyenangkan untuk dibahas. Tak akan ada seorangpun bisa membicarakan hal-hal mengerikan seperti tanpa terguncang pada akhirnya. Aku bahkan bergidik hanya dengan mengingatnya sekilas. Jadi aku mengikutinya. Membiarakan apa yang sudah kami bahas semalam, berlalu.

“Kau..............benar-benar pernah mengambil pendidikan kepribadian?” tanyaku penasaran, ingat akan kebodohanku di restoran tadi.

Soni mengangat sebelah alisnya mendengar pertanyaanku, “Apa?”

“Cara Felix bersikap, mirip denganmu. Benar-benar jauh dari kesan remaja Indonesia pada umumnya. Sikapmu kadang mirip.............bangsawan,” kataku, meski merasa sedikit aneh dengan diksi yang aku gunakan. Meski aku tak menemukan kata lain yang lebih pas untuk menggantikannya.

Soni tertawa kecil, “Yeah.......... Felix mewajibkanku untuk belajar etiket, tata krama dan semua hal yang perlu ku ketahui. Perkebunan kami adalah satu penghasil anggur terbaik di negara ini. Aku dan Felix, sebagai pemiliknya, harus sering berhubungan dengan berbagai kalangan elit. Tidak hanya dari Perancis,tapi juga negara-negara lain di Eropah. Jadi, mau tak mau, aku harus tahu bagaimana bersikap dan berperilaku pantas di depan mereka. Plus.....hal itu sudah menjadi tradisi keluarga.”

“Jangan katakan kalau kau benar-benar memiliki garis keturunan bangsawan,” gerutuku. Soni tak menjawab, hanya tertawa sembari mengangkat bahunya, “Aku benar-benar tak mengenalmu,” gumamku kemudian lirih.

“Kau...........kecewa?’ tanya Soni dengan nada yang membuatku berpaling padanya.

No!” sergahku cepat, “Hanya saja, selalu ada hal yang baru tentangmu. Setiap kali kita dekat, aku selalu menemukan hal-hal baru yang tak ku ketahui.”

“Menarik kan?” goda Soni, “Karena itu kau harus selalu ada di dekatku.”

“Soni...........”

I’m sorry,” jar Soni dan tersenyum geli, “Hanya saja, aku tak terbiasa harus menjelaskan tentang diriku pada orang lain. But I swear, I’ll tell you everything you want to know. Just ask me. Kau toh sudah mengetahui bekas luka terburuk yang pernah aku alami.”

“Kenapa kau tidak tinggal disini saja Son? Bukankah kau dan keluargamu cukup terpandang disini?” tanyaku lagi.

Soni kembali tertawa, “Sayang, I’m just a boy. Etiket, tata krama dan sopan santun yang kau lihat hari ini, hanya kugunakan saat aku menghadapi orang-orang yang membutuhkannya. Dan itu sangat melelahkan. Aku emmang cukup dikenal di sini, tapi aku lebih banyak membatasi diri. Aku tak banyak bergaul. Faktanya, I’m just a boy. Aku ingin menikmati apa yang umumnya dimiliki oleh orang-orang seumurku.

Erma sudah merampas banyak masa remajaku TJ. Karena apa yang dia lakukan, aku tak pernah merasa sama denagn anak-anak seusiaku. Selain itu, psikiaterku juga menyarankan agar aku bisa berbaur dalam lingkungan normal. Agar aku menjadi anak yang biasa. Karena itu aku menetap di Indonesia dan masuk ke sekolah kita. Sekolah yang biasa-biasa saja, tidak terlalu banyak aturan dan tidak menjadi sorotan. Suatu tempat dimana aku bisa membaur. Tempat dimana aku bisa merasa normal dan biasa-biasa saja.bukan korban maniak seks atau bangsawan seperti disini.

Disini aku akan diperhatikan. Semua tingkahku akan dibicarakan baik buruknya. Pantas tidaknya. I don’t want any of those. I don’t need them. Aku hanya ingin menjadi seorang .......Soni.”

“Son.................”

“Aku tak ingin merasa lain atau...................aneh,” kata Soni pelan, “Kau tahu maksudku kan?”

Aku tersenyum tipis menanggapinya, “Aku tahu sekali. Karena selama ini aku juga selalu dipandang aneh dan lain. Look at me. Kau pasti ingat dengan kejadian Brino dulu. Hal itu bukan pertama kalinya. Aku sering mendapatkannya.  Selama ini, aku kira hanya aku saja yang merasakan hal itu. I never thought that a person like you, could feel it too,” kataku pelan dan mengusap sekilas tangannya yang ada diatas meja.

Now you have me,” kata Soni dan meraih jemariku, kemudian meremasnya lembut. Membuatku sedikit jengah dan 
celingukan. Takut kalau ada yang melihat ke arah kami. Tapi Soni terlihat tenang, “Aku janji kamu tidak akan diperlakukan seperti itu lagi. Kau akan dihormati dan dipandang tinggi.”

Aku malah jadi semakin salah tingkah, ”I like Felix,” kataku kemudian. Mencoba memcah suasana yang mulai terasa aneh, “Dia.............menakjubkan.”

Yeah, he is,” ujar Soni dengan senyumnya padaku, “Felix adalah salah satu orang yang terpandang dan sangat diincar oleh masyarakat sini. Dia tampan, berkelas, kaya dan...........” dia menatapkau tajam, “Hei!! Jangan bilang kalau kau naksir Felix! Aku tak akan membiarkannya!”

Untuk sesaat aku jadi terpana oleh reaksinya, “Jangan konyol ah!!” sergahku kemudian dengan tersipu, “Aku gak akan mungkin macam-macam dengannya.”

“Tentu saja. You’re mine!

Apa yang bisa ku katakan? Aku Cuma nyengir mendengarnya, “Bagaimana dengan identitasnya sebagai...........” aku tak bisa melanjutknnya.

“Gay? Memang kenapa? It’s France. Justru karena dia gay dan memiliki Chantal dengan Evelyn, Felix sering kelabakan. Karena tidak cuma wanita-wanita bebal yang mengejarnya, tapi juga laki-laki brengsek yang hanya menginginkan uangnya. Untungnya Felix bukan orang bodoh. Dia orang yang berpengetahuan luas.”

Yeah.........I can see that. Kau mau mengajariku untuk bisa seperti kalian?”

“Kenapa?”

“Kamu nggak ingat kejadian di restoran tadi? Aku nggak mau jadi orang bego seperti itu lagi,” rungutku.

Soni kembali tertawa, “Fine. Kita akan mengaturnya setelah kita pulang ke Indonesia,” katanya dan kembali meremas jemariku pelan.

“Son..........”

Je suis tellement heureuse que vous etes ici avec moi,” katanya.

“Eh? Artinya?”

“Aku senang kau disini bersamaku.”

Pelan aku menarik tanganku dengan kepala tertunduk. Situasi seperti ini benar-benar membuatku tersipu tanpa tahu harus bersikap bagaimana, “Son, please.........

Je t’aime,” kata Soni lembut.

Tanpa bertanya, aku sudah tahu arti kalimat terakhir yang dia ucapkan itu. Aku diam tanpa mampu mengangkat wajahku. Kejadian semalam berkelebat dengan cepat di benakku. Cerita Soni, ungkapan hati Soni dan juga......ciuman Soni. Aku tak tahu harus bagaimana. Beberapa saat tadi aku sudah dibuat lupa. Pikiranku cukup tersita dengan kejutan-kejutan Felix dan jalan-jalan. Kejadian semalam, sedikit banyak tertahan. Dan sekarang, semuanya kembali dengan jelas.

Tanpa sadar aku menggigil.

“Ayo pulang,” ajakku dan bangkit tanpa menunggunya.




Langit sudah gelap saat kami tiba di chateux Soni. Aku langsung masuk menuju kamar dan duduk didepan perapian yang kemudian dinyalakan oleh Soni. Dia lalu pamit untuk mencari minuman hangat bagi kami berdua. Beberapa saat kemudian, aku mendengarnya kembali. Aku lebih memilih untuk diam menatap nyala api yang bergerak-gerak abstrak.

“Kau...........................sadar dengan apa yang kau katakan tadi?” tanyaku pelan setelah beberapa lama dia duduk diam di sebelahku. Tanpa harus ku jelaskan, sepertinya Soni sudah tahu apa yang aku maksud. Aku meliriknya sebentar, melihatnya duduk dengan santai, “Kau.................ingat dengan apa yang terjadi semalam?”

What? Kau pikir aku terlalu mabuk untuk mengingatnya?

Aku berpaling untuk menatapnya, meski akhirnya kembali kalah dalam waktu kurang dari 1 menit. Aku alihkan pandanganku pada lukisan yang ada di belakangnya, “Look at us, Son. Kau sudah sadar kan kalau kita berdua sama-sama..............” aku tak meneruskannya.

Soni meraih daguku dengan tangan kanannya, mengangkatnya sedikit sehingga pandangan kami berdua bertemu, “I don’t care. Yang aku tahu adalah, aku jatuh hati padamu.”

Tuhanku!! Aku mengeluh dalam hati. Apa aku harus tertawa senang? Histeris? Atau justru menangis sedih? Semua ini terasa.................terlalu sempurna untuk jadi nyata. Lebih pas kalau dikatakan mimpi saking sempurnanya. Soni, Paris, perkebunan ini, pengakuan Soni. Kami bahkan sedang membicarakannya sekarang di depan perapian yang sedang menyala. Aku tak akan heran kalau beberapa detik kemudian, seorang sutradara muncul dan berteriak ‘cut’ dengan megaphone yang dipegangnya. It’s all too good to be true! For real!!

Atau mungkin Soni sudah lama tahu akan persaanku dan semua ini hanyalah jebakan...

Pemikiran itu membuat hatiku mencelos, “Kau tahu bukan?” gumamku pelan dan tersurut mundur.

“Soal?” tanya Soni tak mengerti.

“Kau tahu kalau aku sudah lama menyukaimu. Kau tahu aku memendam perasaan itu sejak lama. Karena itu kau...............seperti ini?” ku arahkan kembali tatapanku pada perapian, terlalu takut untuk beradu pandang dengannya, 

“Aku sudah berusaha menahannya, Son. Aku bersumpah! Aku sudah berusaha mati-matian menghilangkannya. Mencoba menganggapmu hanya seorang teman biasa, seperti yang lain. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa mencegahnya,” aku kembali berpaling padanya yang kini diam menatapku, “Kau...............akan kembali membenciku kan? Semua ini, perjalanan keliling Paris, perkebunan ini, dan semua yang kau katakan semalam. Itu semua.............hanya supaya aku mengaku kan?”
Dugaan yang kemudian muncul itu membuatku ngeri sehingga hampir-hampir tak kusadari air mata sudah mengalir di pipiku.

“TJ...........”

“Aku akan berhenti!!” kataku cepat dan mengangkat tanganku untuk mencegahnya yang sudah hendak mendekat, “I swear I’ll stop!! Jangan khawatir. Aku hanya butuh waktu. Just don’t hate me. Aku tak tahan kalau kau membenciku seperti dulu. Kita berteman saja. bisa kan? Aku tak akan meminta lebih.”

“Terkadang aku tak bisa mengikuti arah pikiranmu berjalan. Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?” tanyanya yang kini terlihat geli, membuatku tertawa sedikit karena frustasi.

Look at you, Son!! Kau begitu...............sempurna! Semua orang menginginkanmu. Kau juga mapan, kaya. Hell, kau bahkan memiliki keturunan darah biru dari ayahmu. Aku sudah memperhatikan kalau kau tak menyangkalnya tadi. Then look at me! Look at us!! Kau tak akan mungkin segila itu untuk jatuh cinta padaku. Ini akan jadi lelucon yang ironis.”

“Dengarkan aku TJ. I-DON’T-CARE!!! I love you! Just the way you are. Aku tak peduli seperti apa kamu, atau siapa kamu. I just love you. Just. You!!” kata Soni tegas.

But..............”

“Bohong kalau ku katakan aku tak menyadari perasaanmu padaku sejak lama. I’ve gotta be an idiot if I didn’t. Dari caramu berbicara, bersikap dan juga caramu memandangku............... I know. I know all along that you love me. Hanya saja.............aku tak mau peduli pada awalnya. Aku sudah sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Dan kalau boleh jujur......................aku sempat merasa ketakutan.”

Aku diam. Apa yang bisa ku katakan?

Soni tertawa kecil dan mengusap rambutnya, terlihat sedikit gugup, “Maaf kalau terdengar salah. Tapi aku memang sempat merasakannya. Aku banyak dikejar cewek, TJ. Here or in Indonesia. Aku tak bermaksud sombong, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Cewek-cewek di Indonesia mudah mengatasinya. Mereka hanyalah sekelompok remaja yang gampang hanyut hanya dengan pesona fisik, tapi orang-orang disini.....”” Soni menggelengkan kepalanya, “Banyak keluarga yang mencoba mendekati aku dan Felix untuk tujuan lebih besar. Berbagai macam rayuan dan ancaman sudah pernah aku dan Felix alami. Kami sudah mengembangkan mekanisme pertahanan yang kadang terlalu konyol untuk diungkapkan. Dan setelah sekian lama, kami mulai terbiasa dan tahu harus bersikap bagaimana. Aku sudah mulai terbiasa dengan sikap mereka. Tapi denganmu......... ini yang pertama. Apalagi aku harus mengalaminya di Indonesia.”

“Hah?”

“Aku punya Felix yang menjagaku. Tapi kamu..........aku menghadapinya sendiri. Dan kau......cukup membuatku sedikit ketakutan. Apalagi saat aku menyadari, kalau aku lebih sering memikirkanmu daripada seharusnya. Saat aku menyadari perasaanmu...............aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Aneh bagiku. Maka aku lebih memilih bersikap seperti biasanya. Tak acuh. Seperti yang biasa aku lakukan. Tak peduli! Tapi banyak hal-hal yang terjadi kemudian. Seperti di Ijen waktu itu. Saat aku mendapatimu tergeletak tak sadarkan diri dan terus-terusan memanggilku. Saat ku gendong, kau meringkuk begit dalamnya dalam pelukanku. Kau genggam jaketku begitu eratnya, seakan-akan nyawamu tergantung padaku.

Jauh setelah itu aku mulai menyadari. Itulah awalnya. Itulah awal munculnya perasaanku yang ingin melindungimu. Waktu itu aku belum menyadari sepenuhnya. Puncaknya adalah saat kita di perkebunan dan surprise party yang kau berikan untukku. Saat itulah aku menyadari kau sudah memasuki perasaanku.  Dan aku takut! Aku tak mengerti kenapa kau bisa membuatku terjaga dan memikirkanmu. Pada akhirnya...........aku marah. Itu baru pertama kalinya aku mengalami hal seperti itu. Dan aku tak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah menjauh darimu.

Tapi kemudian aku kembali mendapatimu tergolek sakit dan lemah di akmarmu waktu itu. Kau mengingatkanku pada diriku yang dulu. Aku yang selalu meringkuk di pojokan kamar, ketakutan kalau-kalau Erma akan masuk lagi ke kamarku untuk.................

Mulai saat itu aku memutuskan, kau milikku. I don’t care about anything else. Not anymore,” pungkas Soni pelan.

 “Soni...........” sekali lagi, aku hanya bisa membisikkan namanya.

“Mungkin sekarang, aku yang harsu bertanya padamu. Setelah kau tahu aku. Masa laluku yang............mengerikan. Kau sudah tahu bahwa aku tidak sempurna seperti bayanganmu. Ibarat buku, aku sudah penuh dengan coretan. Koyak. Tak berharga. Setelah tahu semua itu.....................apa kau masih sayang padaku? Kau bisa menyayangi orang yang sepertiku?”

Aku tak menjawab. Hanya meraih tangan kanannya. Mencium telapaknya dan kemudian kuusapkan telapak itu ke pipiku, 

With all my heart,” bisikku lirih, tanpa ragu sedikitpun..

Soni hanya tersenyum. Dia melingkarkan tangannya ke belakang leherku dan menarikku maju. Aku memejamkan mata saat bibir kami bertemu. Kali ini bibir Soni mengulum bibirku dengan lembut. Dan sekali lagi, bulu-bulu ditengkukku meremang hebat. Saat Soni melepas bibirnya, aku mengeluarkan desahan pelan yang tak dapat kutahan.

Ketika aku membuka mata, kudapati Soni tengah memandangku dengan mata teduhnya. Ia tersenyum melihatku yang kemudian hanya mampu tertunduk malu.

“Kamu.................tak merespon,” komentarnya pelan. Mendengarnya, aku semakin tertunduk dalam. Kupejamkan mataku 
rapat-rapat.

Duh!! Apa aku harus memberitahunya kalau sebelum ini, aku tidak pernah.............

“TJ...................?” panggil Soni pelan.

“Aku............” aku menghirup napas dalam-dalam untuk menguatkan diri, “.......aku nggak tau.”

What?

Aku makin merapatkan kelopak mataku yang terpejam, “Aku nggak pernah ciuman,” kataku lirih dan cepat.

“Apa?!!”

UGH!!!! Aku menggerutu dalam hati. Rasa-rasanya aku ingin pergi dari tempat ini. Dan untuk sesaat kemudian aku menyadari bahwa itu mungkin ide yang bagus. Sudah cukup aku mempermalukan diri di depan Soni. Jadi aku buru-buru bangkit, namun detik berikutnya, Soni meraih tanganku dan menyentakkannya dengan kuat.

Aku terpekik dan jatuh! Yang membuatku semakin gelagapan adalah saat Soni menggulingkan tubuhku hingga akhirnya dia berada di atasku. Posisi yang dalam sekejap membuatku kalang kabut dan merinding hebat.

“Son.................”

“Aku tak akan melepasmu, sampai kamu kasih tahu dengan sejelas-jelasnya,” ujar Soni dengan nada menggoda, tak memperdulikanku yang sudah panas dingin. Dengan jengah, aku memalingkan wajahku, menolak untuk memandangnya.

“Aku................belum pernah ciuman,” kataku lagi dengann geraham menyatu. Sedikit jengkel tapi hanya mampu pasrah.

Soni tergelak kecil, “Itu bisa diatur. Aku bisa mengajarimu,” kata Soni dan kembali mendekatkan wajahnya, menciumku dengan lembut seperti tadi. Dan kembali aku harus menahan napasku, sementara jantungku berontak gila-gilaan. Tubuhku kembali menggigil.

“Itu disebut ciuman ringan dan........” kening Soni berkerut saat satu tangannya meremas tanganku yang dia pegang, ”......tanganmu jadi dingin seperti es. Sepertinya aku benar-benar telah mencium seorang virgin,” katanya geli, tak memperdulikanku yang susah payah harus mengatur napas dan jengah luar biasa, “Let’s see what happen if I give you a french kiss.

Kali ini Soni menciumku dengan intens. Aku bisa merasakan tekanannya. Aku juga bisa merasakan lidahnya mengusapku dengan sapuan lembut, menggoda bibirku untuk membuka perlahan. Aku bereaksi dengan instingku. Saat lidah kami bertemu, aku mengerang pelan. Tanganku melepaskan diri dan kini menyusup diantara rambut Soni. Bergerak mengusap rambut, leher dan punggung Soni.

Soni memainkan lidahnya dengan ahli, hingga tidak hanya membuatku belingsatan kehabisan napas, tapi juga membuatku merasakan sebuah sensasi nyaman yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Mengusik sisi saraf lain yang tak pernah aku ketahui keberadaannya sebelumnya. Kali ini saat dia melepaskan ciumannya, tanpa kusadari, tanganku menahan lehernya.

Saat aku membuka mata, Soni tengah menatapku lekat dengan senyum lebar tersungging di bibirnya, “Kau murid yang cerdas,” komentarnya singkat.

Aku yang masih trengah-engah, lagi-lagi dia buat malu luar biasa. Kusurukkan kepalaku dilehernya untuk bersembunyi dari tatapan matanya, membuat Soni kembali tertawa kecil.

“Jangan lakukan lagi. Tolong! Dadaku mungkin tak bisa menahannya,” pintaku pelan, namun serius. Dadaku memang jadi nyaris tak tertahankan sesaknya.

Bahu Soni kembali berguncang oleh tawa, “Kita punya banyak waktu untuk menjelajahi semuanya. Now, let’s just sleep.
Aku mendelu dalam hati. Dari caranya mengatakan ajakan itu, dengan bibirnya yang berada persis di sebelah telingaku, membuat ajakan sederhana tadi bermakna besar bagiku. Aku lalu dibuat sedikit terpekik saat tubuhku terangkat. Soni menggendongku dan dengan perlahan membaringkanku di ranjang. Ya Tuhan, jangan katakan kalau dia ingin............
Aku tak ingin meneruskan kalimat itu.

Rasa panik langsung menyelimutiku, “Son, a-aku..”

Soni hanya menahan bibirku dengan telunjuknya, “Tenanglah. Jangan tegang. Kita tak akan melakukan apapun. Kamu mau ganti baju dulu atau....” aku tak menjawabnya. Dengan penuh kelegaan aku menganggukan kepala. Tak mungkin juga aku tidur dengan kemeja yang ku kenakan sekarang, “Baiklah. Aku juga akan ganti baju di kamar mandi. Kau ganti disini saja, ok? Setelah selesai, kau boleh ganti masuk untuk menyikat gigi,” katanya pelan dan bangkit untuk menuju kamar mandi setelah mengambil piyamanya.

Saat tubuhnya menghilang di balik pintu yang tertutup, baru kusadari desakan dalam dadaku yang membuncah. Dan untuk pertama kalinya, setelah beberapa menit yang menegangkan tadi, aku bisa menarik napas panjang.

Aku baru selesai mengganti baju dengan piyama saat Soni keluar. Wajahnya tampak segar dan bibirnya makin kelihatan memerah, “Kamu bisa cuci muka dan gosok gigi,” katanya mempersilahkanku. Aku tak menjawab, tapi langsung menghambur  ke kamar mandi. Saat kembali, dia sudah setengah berbaring di ranjang. Aku yang masih jengah, tak mengatakan apa-apa. Hanya langsung berbaring di sebelahnya.

“Langsung tidur?”

“Ehhmm........” sahutku pelan sembari membetulkan selimut. Aku sudah hendak membalikkan tubuh untuk memunggunginya saat ku lihat dia mendekat dari sudut mataku. Sesaat kemudian dia mencium bibir dan keningku dengan singkat.

Good night..........” kata Soni dan mematikan lampu kamar.

Malam itu, butuh beberapa jam  bagiku untuk terlelap.
 

Selasa, 08 Agustus 2017

THE MEMOIRS, A Gay Chronicle Bab 24




BAB 24    
  

Entah karena lelah atau apa, aku ternyata bisa tidur untuk beberapa jam lamanya. Ketika aku terbangun, jam sudah menunjukkan jam  8 malam. Dan aku kembali tidak mendapati Soni didalam kamar. Dia baru datang 1 jam kemudian dengan penampilan yang lain dan ajaib, meski entah bagaimana, masih aja terlihat keren. Dalam hati aku hanya bisa bertanya, kok bisa ya? Dia datang dengan celana jeans hitam, sepatu boat dengan warna yang sama, t-shirt putih polos dan di balut dengan jaket kulit. Kesemuanya membungkus tubuhnya dengan apik.

Are we gonna watch a rock and roll concert?” godaku dan sedikit tersenyum.

Sort of,” sahutnya nyengir, “Kita dinner ditempat tujuan kita nanti. Kamu siap?”

“Aku harus pake apa?”

“Yang jelas bukan jas resmi. Pake yang kasual saja. Cari yang paling tebal dan jangan lupa syal. Sepertinya cuaca kurang bagus malam ini. Dan kau bisa memakai jaket ini,” kata Soni dan mengangsurkan sebuah tas tangan dengan tulisan Hugo Boss. Tas itu berisi jaket kulit tebal yang berpotongan kasual dengan kerah pendek. Super keren!

It’s Hugo!” seruku girang dan langsung memakainya.

“Jangan lupa syal,” saran Soni lagi. Aku menurut saja karena tahu kalau dia lebih paham akan situasi di Paris. Kalau dia bilang aku memerlukan syal, sudah bisa dipastikan aku akan benar-benar memerlukannya.
Keherananku bertambah saat kami sampai di depan lobby hotel, aku mendapati sebuah sepeda motor besar terparkir untuk kami. Motor yang jauh lebih keren dengan model racing yang aku jamin bisa membuat teman-teman di sekolah kami ngiler melihatnya. Aku tak bisa membaca merk-nya karena Soni segera saja naik setelah mengenakan helm racing-nya dan menghidupkan motor.

“Ayo naik,” katanya dan mengulurkan sebuah helm padaku.

“Kita naik motor?” tanyaku heran, memastikan.

“Lebih cepat dan simpel. Cepet deh,” serunya lagi, mendesakku untuk segera mengikutinya naik. Sebentar kemudian, kami telah melaju di jalanan.

Soni benar tentang cuaca malam ini. Paris entah kenapa, terasa lebih dingin daripada malam-malam sebelumnya. Ditambah angin kencang yang menerpa tubuh ketika kami melaju, aku dibuat cukup menggigil. Aku memasukkan tanganku ke dalam saku jaket untuk menahan dinginnya udara. Dan sialnya, cuaca makin menusuk ketika kami sampai di luar Paris. Dan Soni juga makin menambah kecepatan karena tidak lagi banyak kendaraan di sekeliling kami. Kami melaju di jalanan yang sepi. Lampu-lampu jalan di pasang di jarak yang  lumayan berjauhan.

“Kamu gak papa? Dari tadi kamu gak pegangan. Nyaman?”

Teriakan Soni sedikit mengagetkanku, “APAA?!!” sahutku tak kalah kenceng.

Soni tak menyahut tapi memelankan laju motornya dan minggir, “Kamu pegangan aja di pinggangku. Atau masukin saja tanganmu ke dalam saku jaketku.”

“Apa?” tanyaku lagi, masih dengan nada sedikit kaget. Sejenak aku mengira kalau aku salah dengar. Enak aja dia 
ngomong. Kan risih! Aku menggerutu dalam hati. 

“Udara makin dingin,” kata Soni lagi, “Mungkin aku akan sedikit ngebut nanti supaya kita lebih cepat sampai. Kamu gak pengen jatuh kan?”

“Gak papa kok Son. Gak usah. Beneran,” sahutku sedikit gelagapan.

“Aku yang apa-apa. Kamu pikir kamu doang yang kedinginan?” gerutu Soni. Lalu dengan cepat meraih kedua tanganku dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Menekankan keduanya pada pinggangnya, “Pegangan yang kuat, ok?” katanya tanpa memperdulikanku yang jadi sedikit panik.

“Son......”

Protesku langsung lenyap saat kami kembali melaju. Kali ini lebih cepat daripada tadi. Mau tak mau, aku harus mengakui kebenaran saran Soni. Aku mungkin akan jatuh kalau tidak berpegangan padanya. Selain merasakan sedikit kehangatn, aku juga merasa lebih tenang dengan memeluk Soni seperti ini. Dan tanpa sadar, aku memajukan tubuhku, semkain mendekatkan tubuh kami. Memeluknya lebih erat. Aku sedikit menyandarkan kepalaku di punggungnya.

Aku tak tahu sudah berapa lama kami melaju. Melewati beberapa daerha hunian yang ramai, sepi, ramai dan kemudian sepi lagi. Jalan-jalan yang sunyi dan gelap di daerah pinggiran kota, beberapa daerah memiliki bagian yang naik. Dan kini kami melaju di area yang sepertinya daerah perkebunan. Entah perkebunan apa. Aku tak bisa melihatnya karena keadaan yang gelap. Ada beberapa rumah di kejauhan yang lampunya tampak menyala. Hanya ada satu dua rumah di pinggir jalan yang kami lewati.

Aku mengedarkan pandanganku dengan penasaran. Daerah ini benar-benar area perkebunan. Aku tidak salah. Ada beberapa gerbang yang tertulis dalam bahasa Perancis lewat dalam kelebatan cepat. Aku tak bisa membaca ataupun mengerti arti tulisan-tulisan itu dengan jelas. Yang membuat aku makin penasaran adalah tanaman yang tampak berjejeran. Tanaman-tanaman yang menjalar yang sepertinya hanya terdiri dari batang-batang tanpa daun, terjalin ruwet dan ak jelas bentuknya. Sorot lampu sepeda juga tidak banyak membantu. Yang aku lihat hanyalah bonggolan-bonggolan kayu yang berkelebat di kanan dan kiri kami.

Kami adalah satu-satunya yang melaju di jalanan yang sepi ini. Hingga kemudian Soni memelankan laju motor dan berbelok, melewati jalanan yang dibuat dari batu-batuan alam. Ada sebuah bangunanyang tampak seperti rumah di kejauhan. Bangunannya yang besar dan gelap tampak sedikit menyeramkan. Dan sepertinya kami menuju kesana.
Setelah dekat, aku tahu kalau dugaanku salah. Bangunan ini lebih tepat di sebut kastil kecil. Terlalu besar untuk ukuran rumah. Hanya bagian depannya yang lebih pantas di sebut rumah. Bagian depannya bertingkat tiga dan dibangun seperti rumah-rumah di daerah perkebunan Eropah pada umumnya. Rumah yang dibangun dari komponen-komponen alam. 

Sebagian temboknya ditumbuhi semacam tanaman menjalar. Balkon dari besi mengitari lantai dua dantiga juga di selubungi tanaan menjalar. Jendela-jendelanya tinggi dan sempit seperti umumnya bangunan Perancis lama. Rumah ini memancarkan aura anggun sekaligus dingin, khas perkebunan. Mungkin karena tak ada lampu yang menyala saat ini. Melihatnya membuatku teringat akan sebuah telenovela yang pernah tayang di salah satu Tv swasta di Indonesia. Hanya saja rumah ini terkesan lebih anggun, khas Perancis. Sementara bagian belakangnya lebih tampak seperti sebuah kastil kuno.

Dan tubuhku benar-benar menggigil kedinginan. Bahkan nyaris mati rasa saat Soni menghentikan motornya di jalanan berbatu didepan rumah ini. Udara sungguh menusuk. Aku cepat-cepat melepas peganganku pada Soni dan turun saat Soni mematikan motornya. Aku jadi sedikit terhenyak saat Soni yang telah turun dan membuka helm serta sarung tangannya, meraih jemariku yang kukepalkan di dada.

“Kau benar-benar kedinginan. Jari-jarimu seperti es. Ayo cepat masuk,” katanya dan mendahuluiku. Dia mengambil kunci dari sebuah kotak kecil yang ada didepan pintu, “Ayo cepat,” panggil Soni padaku yang kemudian dengan langkah ragu mengikutinya. Dia cept membuka pintu dan menyalakan lampu didalam rumah.

Aku ternganga saat memasukii hall yang kini dibanjiri cahaya lampu. Aku berdiri di tengah-tengah ruangan, menatap ke sekeliling. Di kiriku ada tangga yang terbuat dari kayu tanpa karpet yang entah bagaimana, terlihat begitu halus. Di samping pintu masuk tadi ada gantungan baju dan cermin besar. Di sampingnya ada rak sepatu. Ada beberapa sepatu dan sandal rumah tebal yang tampak lembut. Interior ruangan itu ditata dengan rapi dengan sentuhan country yang kental. 

Tapi ruang dalamnya terlihat mewah dan anggun. Jauh dari kesan macho yang terlihat dari ruang depan.

“Ngapain sih? Ayo naik. Nanti kamu sakit,” ujar Soni yang tiba-tiba saja muncul dari tengah tangga kayu.

“Rumah siapa Son?” tanyaku heran dan mengikutinya naik.

“Rumahku. Kenapa?” tanyanya balik dengan senyum geli.

Yeah, right!” gerutuku dongkol.

“Kenapa?” tanya Soni heran.

“Siapa coba yang bakal percaya kalo kamu punya rumah ditengah-tengah perkebunan di daerah Perancis, sementara kamu orang Indonesia. I might be a bit slow, but I ain’t a complete moron,” gerutuku, setengah ngomel setengah gemetar karena kedinginan.

Soni tertawa, “Apa begitu sulit dipercaya?”

“Untuk orang yang waras? Lumayan” sahutku cuek.

Soni hanya kembali tertawa kecil dan membuka sebuah pintu kayu besar. Pintu itu menuju sebuah kamar yang luas dengan nuansa klasik. Ada tempat tidur besar bertiang 4 dengan kelambu tebal berwarna coklat gelap serta bantal-bantal besar yang terlihat empuk di atasnya. Ada sebuah sofa panjang tanpa lengan di kaki ranjang, di alasi oleh permadani tebal dan berhadapan langsung dengan perapian yang terbuat dari marmer putih dengan tempat kayu di sampingnya. Penuh berisi kayu-kayu kering yang siap dibakar untuk menghangatkan kamar.

Busyet!! Perapian beneran! Pikirku.

Di atas perapian aku melihat beberapa vas kecil dan pigura. Ada juga sebuah rak buku kecil di sebelah kiri ranjang dengan sebuah sofa besar empuk untuk membaca, bersebelahan dengan jendela. Sebuah meja rias ada di sebelah kanan ranjang. Aku juga melihat sebuah pintu closet di sebelahnya.

“Kamu mandi pake air hangat dulu,” kata Soni yang muncul dari sebuah pintu, mengagetkanku yang sedang megagumi kamar bernuansa klasik ini. Mengingatkanku akan kamar-kamar di istana Versailles.

“Lalu kamu?”

“Aku mau mandi dibawah. Cepetan gih, ntar masuk angin lagi,” kata Soni dan sedikit mendorongku.

“Iyaaa....” jawabku dan langsug nyelonong ke kamar mandi yang dia tunjuk.

Mandi air hangat benar-benar membuatku nyaman. Apalagi harum sabun cair yang ada disini begitu menenangkan. Sampai-sampai aku merasa tak ingin keluar. Tapi kulitku sudah tampak mengerut, membuatku sadar kalau aku harus mengakhiri mandiku.

Saat keluar dari kamar mandi, kulihat Soni sedang duduk diatas permadani empuk di depan perapian yang menyala, bersandar pada sofa besar yang ada dikaki ranjang. Dia memakai piyama hangat. Rambutnya yang masih basah, tampak jatuh sebagian ke dahinya. Dia tampak begitu segar dan...............menawan. aku benar-benar ingin mendekatinya dan mengusap rambut basahnya itu. Aku bahkan bisa mencium harum segar kulitnya.

“Hei........” sapa Soni yang kemudian sadar akan kehadiranku, “Lapar bukan? Makan malam sudah disiapkan di bawah,” katanya dan menunjuk pada 2 nampan di depan perapian.

“Piknik nih?” ujarku tak mampu menahan senyum.

A little. Daripada kita makan di meja makan bawah. Oh ya, kalau kamu, kamu pakai ini saja,” kata Soni dan menyerahkan sebuah piyama hangat yang tadi dia letakkan di atas sofa, “Kamu gak mungkin makan malam dengan piyama mandi kan? Dan mungkin.........akan sedikit kebesaran untukmu. It’s my size.

It’s okay,” sahutku dan tersenyum. Aku kembali masuk ke kamar mandi untuk ganti baju dengan cepat, tak sabar untuk bergabung dengannya di depan perapian yang hangat.

God! It’s too good to be true! Setting seperti ini hanya aku baca di novel dan film-film roman. Dua orang yang kedinginan, menghangatkan diri di depan perapian dalam sebuah rumah kosong. Biasanya yang akan terjadi selanjutnya adalah sebuah permainan cinta yang panas dan bergelora.

“Dasar ngeres!!” aku mengumpat pelan seraya menepuk kepalaku dan cepat-cepat keluar. Fantasiku mungkin akan semakin liar kalau aku diam di kamar mandi, Dingin banget ya?” gumamku saat aku duduk di samping Soni.

“Wajar. Salju turun,” kata Soni dan menunjuk keluar.

“Masa sih?’ aku langsung bangun dan melihat keluar. Benar! Ada benda putih ringan dan lembut melayang turun di luar sana. Tanpa dapat ku tahan, aku langsung menghambur, membuka pintu balkon. Aku berputar-putar kecil, mendongak dan tertawa sembari mnegembangkan tanganku seperti orang gila. Ini pertama kalinya aku melihat dan merasakan salju. Entah kenapa, aku merasakan suatu nuansa sendu dan sedikit menyedihkan setiap kali melihat hujan salju di film. Tapi sekarang, aku merasa begitu gembira saat berada langsung di antara hujan salju. Memang ada sedikit rasa sentimentil. 

Tapi................bbbbrrrrrrrr!! Dingin banget!!!

“Dingin?’ tanya Soni yang menyusulku dengan membawa 2 gelas minuman berisi cairan berwarna merah. Dia juga memegang kamera digital, “Kamu tadi terlihat ayik, dan aku gak tahan buat ambil gambarmu,” katanya menjelaskan saat melihat tatapanku tertancap pada kamera yang ada ditangannya.

Aku tertawa kecil dan mengambilkamera itu darinya, “Kalo gitu, gantian. Smile!” kataku dan mengambil gambarnya.

Soni hanya tertawa kecil menanggapiku, “Nih. Minum dulu. Ini akan membantu menghangatkan tubuhmu,” kata Soni dan mengangsurkan sebuah gelas padaku.

“Apaan nih?”

“Anggur,” sahutnya enteng.

Oh no! Terakhir kali aku minum anggur, aku bertingkah seperti orang idiot. I won’t do that again.”

Soni tertawa, “Kau hanya akan mabuk kalau kamu minum berlebihan seperti waktu itu,” jelasnya dan kembali mengulurkan gelas tadi. Sedikit ragu, aku menerimanya, “Cheers,” kata Soni dan minum.

Aku mengikutinya dan mengernyit saat cairan itu mengalir ke dalam tubuhku. Tapi Soni benar, aku merasasedikit lebih hangat.

“Mungkin ini salju terakhir tahun ini,” gumam Soni pelan.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ramalan cuaca sebenarnya mengatakan kalau hari ini cerah. Tapi...........namanya saja ramalan.”

Aku ngikik mendengar nada Soni yang sedikit menggerutu, “Aku tidak mengeluh. Untung malah. Sudah lama aku ingin melihat langsung hujan salju,” kataku sedikit riang dan berbalik menatap malam yang jadi sedikit ke abu-abuan dengan salju yang melayang turun pelan, “It’s beautiful. Tapi.................entah kenapa, aku selalu merasakan kesenduan dalam keindahannya. Aneh kan? Mana ada sih perasaan sendu yang indah,” kataku pelan, sedikit melamun.

“Mungkin yang kau maksud adalah romantis.”

Untuk sejenak aku diam berpikir, “Yeah............ may be you’re right. Sendu yang romantis,” gumamku pelan dan meliriknya yang sekarang berdiri tepat di sampingku, “...............and I like it.”

Soni kembali tertawa kecil, “Yeah. Sure. Ayo ke dalam. Dingin! Lagipula, ntar makanannya keburu beku,” kata Soni dan menarik tanganku pelan.

Aku diam dan mengikutinya dengan mata yang tertancap pada tangan kami yang menyatu. Andai saja ada percikan indah diantara kami, semuanya akan jadi sempurna, batinku.

“Tadi orang rumah sudah menyiapkan masakan Perancis. Coq au Vin dan Soupe a l’oignon.

“Apaan tuh?”

“Kaki ayam dan sup bawang. Coba saja. kamu pasti suka,” kata Soni dengan senyum gelinya melihatku mengernyit.
And he’s right again. Masakan ini benar-benar nikmat. Coq au Vin sangat lezat.tekstur daging kaki ayamnya jadi lembut. Di tambahi saus yang enak dan jamur, membuat rasanya sempurna. Yang mengejutkan, Soni bilang kalau masakan ini juga menggunakan anggur. Sup bawangnya juga enak. Soni bilang masakan itu memiliki gizi bagus. Saat aku tanya bahan-bahannya dari apa, dia menjelaskan bahwa intinya adalah kaldu sapi kental yang ditambahi bawang putih, disajikan dengan suiran daging ayam dan parutan keju di atasnya. Dia bilang masakan itu baru di kenal didunia internasional sejak tahun 1960an.

“Ugh.............masakan yang lezat dan ditambah suasan yang mendukung begini.......” aku mendesah tanpa mampu menahan diri.

“Suasana?” ulang Soni dengan kening berkerut.

You know, makan malam, anggur, salju, di atas karpet ini dengan perapian yang menyala hangat. All these. Semua hal seperti ini hanya akan ada dalam imajinasiku dan novel-novel roman yang aku baca. Kau benar-benar penuh dengan kejutan.”

“Kejutan?”

“Yep!” sahutku cepat.

“Dalam artian bagus atau jelek nih?”

“Keduanya!” sahutku nyengir sembari menyesap anggur dalam gelas yang kembali aku isi.

“Kok?”

Aku tertawa melihat keheranan Soni yang makin bertambah, “That’s true! Semakin aku mengenalmu, semakin banyak hal-hal baru yang muncul ke permukaan.. hal-hal yang tak pernah aku tahu ada. Aku jadi semakin sadar kalau aku sangat sedikit tahu tentang kamu,” jelasku dan meminggirkan nampanku yang sudah kosong. Aku lalu beringsut mundur, duduk bersandar pada sofa dengan kaki yang terjulur menghadap ke perapian yang menyala hangat. Meski perapian itu hanyalah satu-satunya penerangan, tapi cahayanya cukup bagiku. Bias cahaya dan keberadaannya benar-benar menciptakan suasana romantis yang manis.

“Benarkah?” tanya Soni yang kemudian mengikutiku.

“Kamu nggak sadar ya?” tanyaku balik, sedikit menggerutu lalu kembali menyesap anggurku, “Aku nyaris tak tahu apapun tentangmu. Hanya biodata singkat yang aku baca pada sebuah file di perkebunan teh dulu.”

“Kau membacanya? Jadi itu yang membuatmu tahu soal ulang tahunku?”

Aduh!! Batinku. Aku menggigit lidah saat sadar kalau Soni tak pernah tahu fakta bahwa aku sempat mengintip berkasnya di perkebunan waktu itu, “I’m sorry. Waktu itu aku cuma membereskan file-file seperti yang kau minta. Buka-buka sedikit dan aku menemukan berkasmu. Hanya sedikit data tentangmu kok. Nggak banyak,” ujarku, mencoba membela diri.

Oh really? What do you know?” tanya Soni sembari menyandarkan kepalanya di sofa. Sikapnya yang santai membuatku sedikit lega.

“Cuma nama lengkap dan tanggal lahir.”

“Hmm.........wajar saja kau bisa membuat suprise party waktu itu,” gumamnya kemudian.

Aku nyengir dan ikut bersandar seperti dia, setengah berbaring, menatap lidah apai yang menyala-nyala, menyalurkan kehangatan melalui kaki kami.

I swear! Aku cuma tahu namamu Soni Prabowo Damian Duainne dan lahir pada tanggal 29 November. Eh tapi namamu unik ya. Duainne? Bagaimana melafalkannya? Bukan nama Indonesia kan?”

“Unik gimana? Biasa aja. Melafalkannya sama dengan nama Dwayne.”

Aku tertawa mendengar gerutuannya, “Aneh lagi. Selama ini yang aku tahu namamu hanyalah Soni Prabowo. Kalau Prabowo sih jelas-jelas nama dari Jawa Tengah.”

“Duainne itu nama dari ayahku,” kata Soni pelan, membuatku langsung terdiam.

Aku ingat bahwa segala hal yang berhubungan dengan orang tuanya, bersifat sangat private bagi Soni. Jadi aku tak berani untuk berkomentar.

“Aku memang jarang memakai nama itu. Karena nama Duainne selalu membuatku.............sedih,” kata Soni dan melihatku sekilas, untuk kemudian kembali berpaling ke perapian.

Dan saat inilah aku melihatnya kembali. Sorot mata itu. Sorot mata Soni yang begitu sedih, rapuh dan seakan-akan berteriak minta tolong tanpa kata. Sorot mata yang sanggup membuatku tercekat dan sesak. Membuatku ingin sekali memeluknya. Mendekap kepalanya di dadaku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Sorot mata yang membuatku tertarik padanya. Padahal sudah beberapa waktu ini aku tak melihat sorotnya itu. Tapi kini..........dia telah kembali.

“Perkebunan ini miliknya. Milik keluarga kami selama 5 generasi. Ayahku seorang lelaki biasa. Bahkan sangat biasa dan tak suka menonjolkan diri. Ambisinya adalah menjadikan perkebunan ini sebagai penghasil anggur terbaik di negeri ini. Meneruskan bisnis dan cita-cita keluarga. Tinggal di tempat ini. Semua itu berubah ketika dia bertemu ibuku. Mereka bertemu dalam sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu pengusaha terkenal di Asia. Ibuku juga seorang pengusaha. Pengusaha muda yang ambisius. Dia seorang perempuan jalangs ejati.”

Kalimat itu membuatku sedikit terlengak kaget. Namun karena tak ingin dan juga takut untuk memberi komentar, aku hanya kembali menenggak anggur dalam gelasku, lalu kembali mengisinya penuh. Itu satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk membuat mulutku tertutup rapat.

“Secara ekonomi, kami sekeluarga lebih dari cukup. Tapi tidak bagi standart ibuku. Dia menggunakan segala cara agar terus mendulang uang dan keuntungan. Benar-benar dengan cara apapun. Waktu kecil, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku baru sadar saat aku kelas 6. Mungkin terdengar kasar dan tidak sopan, tapi Ibuku benar-benar wanita jalang tulen. Demi tender, uang dan kekuasaan, Ibuku mnegumbar tubuhnya untuk semua orang.

“Suatu hari, ayahku mengalami kecelakaan. Beliau harus di operasi di bagian kepala untuk mengeluarkan sesuatu. Entah apa. Hampir satu bulan beliau ada di rumah sakit. Sementara akku di rumah, menjadi saksi dari banyak perselingkuhan Ibuku.

Siang itu, ayahku pulang dari Rumah Sakit tanpa mengabari kami karena dia ingin memberi kejutan untuk keluarganya. Tapi apa yang dia temukan di kamarnya adalah bukti tak terbantahkan akan kebejadan moral dari wanita yang ia nikahi. Waktu itu aku ada dikamarku., di larang keluar oleh ibuku. Aku mendengar suara ribut-ribut mereka, jadi aku mengintip dari pintu. Aku lihat ayahku menyeret keluar tubuh bugil seorang laki-laki. Sesaat kemudian, aku mendengar Ibuku berteriak keras. Dia lari keluar dari kamar hanya memakai piyama. Dia membawa sebuah guci besar dan dia menghantamkannya pada kepala Ayah yang baru beberapa hari di operasi.

Beliau jatuh dan...................mati seketika.”

Hening mencekam.

Aku tak berani menoleh padanya. Bahkan untuk melirikpun aku tak sanggup. Aku hanya mampu kembali menenggak habis gelas yang aku pegang, mencoba mengisi kecanggungan dan keheningan yang mencekam dengan meminum anggurku. Berharap agar perhatianku teralih. Tapi aku nyaris tak bisa merasakan anggur yang ku telan.

“Setelah itu yang aku ingat adalah serangkaian sidang di pengadilan,” lanjut Soni, “Aku saksi kunci dari sidang itu. Bisa kau bayangkan, aku bersaksi! Aku bersaksi untuk menghukum Ibuku. Dia dinyatakan bersalah dan di vonis 10 tahun penjara. Ibuku tak bisa menerimanya. 3 bulan kemudian, dia ditemukan gnatung diri di selnya.”

Kembali hening.

Aku merasakan tenggorokanku menjadi kering, pahit dan sedikit tersumbat. Kembali aku mengisi gelasku penuh dan menenggak isinya sebagian. Mataku kemudian kembali aku tancapkan pada perapian. Aku menahan diri untuk tidak berkedip, meski mataku sudah terasa perih sedari tadi. Entah bagaiamana, mengedipkan mata menjadi sebuah konsep abstrak yang sulit bagi mataku. Kepalaku juga mulai berdenyut.

“Semua aku pikir semua tragedi itu adalah hal terpahit yang pernah aku alami. Tapi semua itu hanya permulaan dari serangkaian kejadian mengerikan yang lain. Setelah persidangan, hak asuhku diserahkan pada Erma, kakak Ibuku. Salah seorang pengusaha wanita yang berpengaruh di Indonesia. Seorang wanita lajang, paruh baya, kaya dan sukses luar biasa. 
Dia punya kemahiran dalam menambah kekayaan tanpa harus melakukan apa-apa.

Sekilas tampak menyenangkan dan sempurna bukan? Memiliki seorang tante seperti dia? Sebuah figur yang mungkin bisa jadi contoh diriku yang waktu itu begitu rapuh. But she was, and is still my worst nightmare. Dia seorang wanita jalang sakit jiwa. Gila luar biasa. Seorang phedofili sejati. Selama 2 tahun aku menjadi budak napsunya.

Jangan pikir aku melakukannya dengan suka rela dan tanpa perlawanan. Sudah jelas aku menolak mentah-mentah rayuan halusnya ketika dia mencoba pertama kali. Jd dia mulai melakukannya dengan paksaan. Dari mengikat tubuhku di ranjang lalu mencumbuku, menyuntikku dengan berbagai macam obat-obatan dan perangsang, membuatku mabuk, memaksaku menonton film biru dan lainnya.

Terkadang dia juga merekam kejadian saat dia memperkosaku kemudian memaksaku untuk menontonnya. Dia juga mengambil fotoku saat aku tak sadar dan tanpa busana. Bukan satu dua kali dia mengancam akan menyebarkan foto-foto itu. Dia memperlakukanku tak ubahnya seperti hewan peliharaan.

Tak ada orang yang tahu ataupun mengira akan apa yang aku alami di rumah Erma. Dari luar, orang akan melihat dia sebagai sosok pengganti orang tua yang sempurna. Dia merawatku dengan sempurna. Makananku sangat diperhatikan dan di pantau oleh ahli gizi, perawatan lengkap kesehatan, check up bulanan. Guru-guru privat dia datangkan. Mulai dari guru-guru pelajaran sekolah sampai guru les lainnya. Guru kepribadian, seni, musik, piano dan juga guru bahasa asing. Dia juga mendatangkan instruktur kebugaran khusus untukku. Perancang busana khusus. Bahkan membuat salon di rumah untukku. Aku dirawat dengan sempurna dari ujung kaki sampai ujung rambut layaknya anjing pudel milik para milyuner. Tapi semua itu bukan untukku.

Dia melakukan semua itu untuk dirinya sendiri. Agar aku sempurna untuk dia nikmati. Sempat aku mencoba untuk bunuh diri, tapi dia berhasil mencegahnya. Hasilnya, aku diawasi oleh bodyguard dan perawat 24 jam penuh. Dan berita yang didengungkan di luar adalah aku trauma atas apa yang terjadi pada orang tuaku. Can you believe that?

Yang paling aku ingat adalah saat aku sakit dan dia.................memaksaku untuk bersetubuh dengannya. Aku ingat bagaimana aku memohon sambil menangis padanya untuk tidak melakukan itu. Aku berteriak.................ketakutan,” Soni berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Dia tampak menelan ludah, sementara matanya masih lurus menatap perapian, 

“Tapi...............tentu saja semua percuma. Tak akan ada orang yang datang. Dia sudah mengaturnya seperti biasa. I kept on screaming and crying dengan sisa tenaga yang aku miliki. Terus memohon. Tapi dia........tak mau mendengarrnya.
Masih ku ingat bagaimana dia mengusapkan............tubuh telanjangnya padaku. Waktu itu, aku benar-benar kacau. Sedari pagi, entah mengapa, tubuhku terasa tak karuan. Panas dingin dan ngilu. Dan tubuhku tidak mampu bereaksi seperti yang Erma inginkan. Meski dia sudah melakukan berbagai cara dan rayuan untuk merangsangku, tubuhku benar-benar tak bereaksi. Tubuhku sama sekali menolak. Kesal, dia menyuntikkan obat padaku.

Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Karena efek dari obat yang dia suntikkan, aku tak sadar selama 3 hari. Yang aku tahu, aku kritis setelah kejadian itu dan dilarikan ke Rumah Sakit. Dan wanita sialan itu...........mati. kecelakaan mobil. Dia mati tanpa sempat melakukan apa-apa. Dan semua hartanya, mutlak menjadi milikku yang sudah dia daftarkan sebagai anaknya.

Sisi bagusnya, aku kaya. Tapi..................sengsara. ingatan akan apa yang dia lakukan, tak bisa lepas dari benakku. Satu tahun lebih aku menjalani terapi untuk memulihkan kewarasanku. Ingatan ayah yang dihantam guci oleh Ibuku, jatuh terkelepar tak berdaya bersimbah darah. Persidangan-persidangan yang mencekam dan melelahkan. Juga ingatan akan Erma yang mencumbuku, mencium dan menjilati setiap senti tubuhku, mengusapkan tubuh telanjangnya dan menyatukan tubuh kami. Semua itu...............terlalu banyak bagiku.”

Aku dengan cepat meletakkan gelas anggur yang aku pegang dan meraih tubuh Soni yang bergetar hebat. Kuraih kepalanya, kudekap erat di dada dan ku usap lembut, berulang-ulang sembari membisikkan kalimat bahwa semua baik-baik saja. Dan bahwa semua telah berlalu. Tapi dia masih meringkuk dengan kepala yang dia dekap erat dengan kedua tangannya.

“Aku...........tak tahan,” kata Soni kemudian bergetar. Aku bisa melihat wajahnya berkernyit dalam, seakan-akan merasakan sakit yang hebat. Tak tahan, dia menyurukkan wajahnya dalam-dalam ke pelukanku.

“Sering kali aku terbangun tengah malam, berteriak ketakutan karena mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Kejadian-kejadian jahanam itu terus menerus berulang di alam bawah sadarku. Terkadang aku merasa seolah-olah Erma berada dikamarku. Menggerayangi tubuhku dengan tangannya yang menjijikkan. Aku............tak tahan.”

Aku hanya mampu mengeluarkan satu keluhan pelan. Sudah sejak tadi aku kehilangan suaraku. Dadaku luar biasa sesak. Tenggorokanku kering dan begitu pahitnya. Seakan-akan ada gumpalan yang tak mampu ku enyahkan. Susah payah aku mencba menelan ludah, menghirup udara, mengisi paru-paruku yang berontak keras.

“Karena itu.............” desahku terputus, “..............jadi karena itu aku selalu melihat kesedihan di matamu.”

Itu bukan pertanyaan. Bahkan ketika baru pertama kali aku melihat wajahnya dengan jelas, hari pertama kami bertemu. Ingatanku melayang pada hari itu, ketika aku melihatnya berjalan menuju lapangan parkir di sekolah. Matanya yang sarat akan kesedihan menarikku. Memerangkapku! Membuatku tak bisa mengalihkan perhatianku darinya. Sepasang mata yang berteriak minta tolong itu, baru kali ini aku tahu mengapa. Tidak adil! Apa yang terjadi padanya sungguh tidak adil!!

“Kau.................tahu?” tanya Soni tercekat dengan suara sedikit teredam.

“Sudah lama aku merasakannya. Soni................” aku kembali mengusap kepalanya, “Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah merasakannya. Ada beban berat yang terpancar dari kedua matamu. Matamu, entah mengapa selalu membuatku merasa iba dan sedih. Mereka seakan-akan berteriak minta tolong. Aku tak pernah tahu mengapa. I’m so sorry....” aku harus menarik nafas untuk bisa meneruskan kalimatku, “...........so sorry kau harus melewati semua itu. I really am.

Aku menggumamkan kalimat terakhir itu beberapa kali dan mengecup ujung kepalanya yang ku peluk.

“Kau pasti begitu tertekan dan sendirian. I’m sorry kau harus mengalaminya. Kau tak layak menerimanya,” kataku lagi dan mencium kepalanya berulang kali, berharap bahwa aku bisa mengikis sedikit luka yang dia punya.

It was not fair. It is not fair,” gumam Soni pelan.

It’s not and never will. Tak seorangpun layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Tapi semua sudah berakhir. Listen to me, “ aku melepas pelukanku, merangkum wajahnya. Mengangkatnya dan menatap matanya dalam-dalam. Kuusap wajahnya, membersihkan aliran air mata disana, “Terima kasih.”

“Ehm?” gumam Soni tak mengerti dan kemudian menunduk, menolak untuk menatapku, membuatku semakin merasa iba. Aku mencoba tersenyum dan kembali mengusap sisa air mata di wajahnya dengan kedua tanganku,.

“Terima kasih sudah menceritakannya. Terima kasih sudah membaginya denganku. It means a lot to me.”

“Justru seharusnya aku yang........”

Aku menggeleng ceoat mendengarnya yang mencoba menyanggah, “No. I thank you. Lama aku mencari dan mencoba memahami apa yang ada dalam mata ini,” bisikku dna mengusap ujung kedua matanya, “Sudah lama aku ingin membuang jauh-jauh sorot sedih dimatamu. Sungguh! Kadang aku merasa begitu kesal karena tak mampu memahami teriakan minta tolong mereka yang kurasakan. Aku ingin membantu, melakukan sesuatu. Tapi aku tak tahu harus bagaimana. Sekarang, entah bagaimana, aku akan mencobanya. Kau sudah tak perlu melaluinya sendiri. Sekarang, tenanglah. Boys don’t cry remember? You told me so.

“Lalu kamu?” tanya Soni pelan. Dia mengangkat tangan kanannya dan mengusap ujung mataku dengan ibu jarinya.

I’m happy to finally understand it all. Happy tears don’t count,” kataku mencoba meringankan bercanda dengan menyedihkan.

Soni tergelak kecil dengan hidungnya yang sedikit memerah, “Entah bagaimana, aku memang selalu merasa kau terus mengawasiku. Membuatku begitu takut pada awalnya. Takut kau akan melihat dan tahu siapa sesungguhnya aku. Tahu bagaimana menjijikannya masa laluku. Luka-luka yang telah berhasil aku sembunyikan dari orang lain. Berulang kali aku mencoba menghindarimu. Tapi.............kau terus mengikutiku. Terkadang menakutkan kau tahu....?”

Ganti aku yang tergelak kecil, “Matamu tak pernah berhenti memanggilku........”

I’m okay, now. Aku punya kau sekarang,” katanya pelan. Matanya kembali tertancap padaku. Memandangku dengan tatapan lembut dan dalam, “I love you,” bisiknya pelan.

Aku tercenung lama.

Hanya mampu diam memandangnya. Kucoba mencerna apa yang barusan dia ucapkan. Dan denyutan di kepalaku tiba-tiba saja menghebat. Sontan aku memejamkan mataku rapat-rapat. Sepertinya anggur itu mulai mempengaruhiku lagi. Aku tertawa kecil, gugup.

“Sepertinya aku mabuk,” kataku . Saat aku kembali membuka mata dan melihat Soni, wajah kami hanya terpaut beberapa senti saja, “Maaf. Aku pikir tadi aku mendengarmu mengatakan...”

I did,” potong Soni pelan dan tersenyum, “Aku serius. I think I love you. Sejak kau bergelung di pelukanku, saat aku membawamu turun di gunung Ijen, ingat? Sepertinya mulai waktu itu kau mulai memasuki benakku. Sebelumnya, kau hanya anak konyol yang sok akrab. Aneh dan luar biasa heboh. Aku bukan orang yang gampang akrab ataupun dekat dengan orang lain. Kurasa itu berhubungan dengan apa yang telah aku alami. Tapi waktu itu, saat aku menggendongmu, kau meringkuk begitu dalam di pelukanku. Menahan bajuku dengan erat dan berkali-kali memanggil namaku............

Untuk pertama kalinya aku merasa begitu dibutuhkan. Aku merasa bahwa aku harus kuat untuk bisa melindungimu. Aku bahkan tak bisa meninggalkanmu saat dokter dan perawat menanganimu. Bukan hanya karena aku tak ingin, tapi juga karena kau terus memegangi bajuku dengan erat. Dokter sampai harus menyuntikkan obat penenang untukmu. Kau ingat?”

Aku tak bisa menjawab. Hanya bisa diam dan menelan ludah.

“Lalu saat kau ke rumah waktu aku sakit. Kau menyuapiku. Juga saat Brino mengeroyokku. Ingat bagaimana kau melindungikusehingga kepalamu terluka? Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku?”

Aku ingat kejadian itu. Juga reaksi Soni yang begitu..........

“Waktu itu.......kau sangat panik. Hampir-hampir histeris sehingga Dokter Irwan harus memberimu obat penenang dosis tinggi. Waktu aku tayakan..............Dokter Irwan Cuma memastikan bahwa apakah aku tadi terpukul di bagian kepala. Waktu aku jawab iya, beliau berkata bahwa pantas saja kamu panik. Waktu itu aku sama sekali tak mnegerti apa maksudnya,” gumamku pelan, lebih ku tujukan pada diriku sendiri.

Soni mengusap wajahnya dengan gundah dan menarik nafas panjang. Dia lalu mengangkat tangannya, mengusap sisi wajahku dengan lembut. Dia kemudian meraih tanganku. Di ciumnya telapak tanganku dan ditempelkannya ke pipinya, “Aku sudah melihat ayahku dipukul, tepat di kepalanya. Aku lihat bagaimana dia jatuh dan..........mati berlumuran darah. Melihatmu yang terpukul waktu itu, aku seperti melihat kembali kejadian itu di depan mata. Bagaimana aku bisa kehilangan 2 orang yang aku cintai dengan cara yang sama? Aku benar-benar takut kau akan berakhir sama seperti ayahku.”

“Dokter Irwan juga menyebut nama Roni.”

“Psikiaterku,” tukas Soni, “Dia yang merawatku di Indonesia.”

Aku hanya mampu tersenyum sedih melihatnya. Tuhanku! Nasib apa yang sudah kau timpakan padanya?

“Son...” aku hanya mampu membisikkan namanya.

Soni membalasku dengan senyuman tipis, “Kau tak akan bisa membayangkan ketakutan seperti apa yang kurasakan saat itu. Hanya saja, waktu itu aku masih belum yakin ataupun paham kalau aku jatuh hati padamu. Aku merasa dekat denganmu. Kukira itu hanya kedekatan yang sama seperti yang kurasakan pada Andri dan yang lain. Aku selalu teringat kamu. Aku nyaman bersamamu. Aku merasa dibutuhkan dan diperhatikan. Seperti saat kita di perkebunan dan surprise party. Waktu itu............waktu itu aku mulai sadar.

Aku sadar bahwa ada yang lain. Aku membutuhkanmu bukan hanya sebagai teman. Kau sudah................menjeratku. kau sudah..........menguasaiku. dan saat aku sadar, reaksi pertamaku adalah marah dan menyangkalnya. Ingat bagaimana reaksiku keesokan harinya? Aku tak pernah merasa jatuh cinta pada siapapun. Aku tak pernah merasa butuh akan orang lain. Jadi aku tak pernah merasa dekat dna memiliki ikatan. Tapi...........aku membutuhkanmu. Apa yang dilakukan oleh Ibuku dan Erm, memberikan bekas yang tak pernah hilang padaku. Tapi aku tak pernah membayangkan, kalau aku.............bisa jatuh cinta padamu. Tak pernah sekalipun. Aku marah saat tahu kau membuatku lemah dan tergantung padamu. Aku benar-benar ingin menjauh darimu.

Tapi tindakanku itu justru memperjelas kebutuhanku akan dirimu. Apalagi saat melihatmu sakit hanya karena kemeja konyolku itu.”

Soni kembali merangkum wajahku dengan kedua tangannya, “I care about you. I need you. Aku sudah tak peduli lagi akan yang lainnya. Aku ingin kita mencobanya. Aku ingin kita........jalani hubungan ini.”

Demi Tuhan!!!

Otakku benar-benar lumpuh. Aku hanya mampu diam mendengarnya tanpa tahu harus bereaksi seperti bagaimana. Hanya ada kesadaran samar yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah pernyataan cinta. Hal yang sebelumnya hanya bisa kubayangkan, tanpa ada keyakinan akan terjadi. Tapi lihat sekarang. Aku malah berharap kalau Soni hanya bercanda sekarang. Tapi tak ada canda dalam wajahnya. Matanya bersinar penuh keyakinan. Pandanganku tertancap pada wajahnya yang tersenyum lembut.

Lalu perlahan, wajah Soni mendekat sehingga pandanganku sepenuhnya terhalang olehnya. Hembusan napasnya terasa lembut di wajahku. Dan sesaat kemudian, kulit kami bersentuhan. Aku terkesiap dan tanpa sadar  menahan napas dengan suara yag sedikit keras, tatkala kurasakan bibirnya menyentuh bibirku.

Mataku seketika itu juga terpejam!

Bibir Soni terasa masnis karena anggur. Namun juga lembut seperti es krim. Dan untuk sesaat kemudian, darahku seakan-akan ikut tersedot bersamaan dengan kuluman lembutnya. Begitu nyaman.

Berikutnya, ciuman Soni yang semula lembut dna nyaris mengambang, emnjadi semakin intens. Bibirnya makin mendesak, memaksa bibirku untuk membuka. Aku makin merasa seakan-akan tubuhku melayang. Ingatanku kembali pada mimpi erotis yang pernah aku alami dengannya. Lalu, tepat saat lidah kami bertemu, kesadaran serta merta menghantamku.

Aku tersentak, seolah-olah direnggut secara tiba-tiba dari tidur. Kutarik wajahku dengan cepat dan beringust mundur. Aku menatap Soni yang juga terpaku diam, tak percaya. Tanganku terangkat, mengusap bibirku sementara napasku mulai tersengal hebat. Tubuhku gemetaran dan lemas tak karuan.

Dan saat aku merasa tak sanggup lagi berhadapan dengannya, aku bangkit untuk segera lari keluar.

“TJ!!!”

Tubuhku tersentak keras sebelum aku sempat mencapai pintu, dan tahu-tahu Soni sudah mendekapku dengan erat. Membuatku gelagapan.

“Son.........”

“Jangan!”

“Son, ak............”

Soni sudah mendorongku ke dinding. Dia merangkum dan menutup bibirku  dengan bibirnya. Sekali lagi aku terpaku kaku, tak mampu bergerak dalam himpitan tubuhnya. Aku sudah mencoba untuk melepaskan diri, namun percuma saja. tubuhku kembali gemetaran. Debaran jantungku menggila, saling mendahului dengan napasku yang tersengal.

“Son..........”

Soni telah menciumku dengan ciuman ganas dan panas. Ciumannya menuntut dan menguasai, seolah-olah hendak menaklukanku. Aku kaget dan mulai ketakutan. Tapi aku tak mampu bereaksi. TIDAK SEDIKITPUN!!
Hingga kemudian ciumannya kembali berubah lembut. Bibirnya yang basah mengusap bibirku dengan begitu halusnya. Lembut dan hangat, membujuk. Jika tubuhku tadi merinding, gemetar karena ketakutan, kali ini tubuhku merinding dan gemetaran karena sensasi yang lain. Bulu kudukku meremang bersamaan dengan kuluman-kuluman lembut Soni. Dan begitu Soni melepaskan kulumannya, napasku seakan-akan ikut terenggut. Aku mendesah pelan.

Aku menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam rapat. Tersengal dan tertunduk. Aku diam. bingung, jengah dan entah apa lagi yang bergejolak di dadaku yang berdebar keras. Detakan jantungku bisa kurasakan gemanya di telingaku. Dan bisa kurasakan hembusan napas Soni yang sedikit keras disisi wajahku.

“Kau...............tak akan pergi kan?” bisik Soni pelan. Aku tak menjawabnya. Perlahan pula, Soni melepaskan himpitannya pada tubuhku. Begitu tubuh kami terpisah,tanpa sadar aku mendesah dan tubuhku limbung. Kakiku lemas dan tak mampu menahanku.

Soni yang tanggap, dengan cepat menangkapku sebelaum aku menghantam lantai. Dia membopongku ke tempat tidur dan membaringkanku dengan perlahan, “Tidurlah. Kita akan lanjutkan besok,” bisiknya pelan di telingaku. Dia kemudian naik ke sampingku. Menarik selimut untuk menutupi kami berdua. Dia melingkarkan tangannya ke perutku dan menarikku untuk lebih mendekat, hingga punggungku menempel di dadanya.

Good night,” katanya dan mencium sisi wajahku.

Aku tak menjawab, hanya bergumam lirih dan meringkuk semakin dalam pelukannya. Kupejamkan mataku rapat-rapat. Menikmati setiap denyutan nyeri yang kembali menyerang pelipisku. Denyutan yang semakin lama semakin samar kurasakan. Hingga kemudian aku jatuh dalam belaian tidur.