Translate

Tampilkan postingan dengan label Soni-TJ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soni-TJ. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Desember 2017

THE MEMOIRS, A Gay Chronicle BAB 28





BAB 28


Aku baru masuk sekolah tanggal 5, karena butuh 1 hari penuh bagiku untuk beristirahat. Bukan hanya karena capek. Tapi juga karena perubahan suhu yang drastis. Dan juga untuk menenangkan Bunda yang jadi agak-agak histeris. Pertama kali pulang ke rumah, di antar oleh Soni, Bunda sudah menunggu dengan wajah sedikit kesal dan tak percaya di depan pintu. Begitu aku mencium tangannya, tangan beliau yang satu malah dengan cepat menepuk bahuku dengan keras.

“Keterlaluan!! Kenapa gak pernah telepon? Ga tau Bunda khawatir apa, heh?!!” omel beliau memulai dengan wajah kaku antara marah dan khawatir.

“Sibuk, Bun.”

“Maaf Bunda. Soni yang salah.,” potong Soni cepat dan meraih tangan Bunda untuk menciumnya juga, membuat keningku berkerut karena Bunda tidak memukulnya sepertiku tadi, “Kami harus pergi ke beberapa tempat untuk menyelsaikan urusan Soni. Biasanya sudah capek banget pulangnya. Jadi gak kepikiran buat telepon.”

Bunda hanya mampu mendengus dan menggelengkan kepalanya, “Kalian ini gak tau bingungnya orang tua. Lalu itu semua apa?” tanya Bunda sembari menunjuk pada 4 buah koper besar yang kami bawa.

“Oleh-oleh buat Bunda, Wina dan yang lain,” sahutku cepat, “Kita udah beliin oleh-oleh bagus lho buat Bunda. Bunda pasti suka. Iya kan, Son?” kataku meminta dukungannya dan memberinya tanda dengan kerlingan mata .

“Iya, Bun!” jawab Soni yang tanggap.

Bunda merengut, “Memang kalian pikir, kalian bisa menyuap Bunda dengan oleh-oleh?” gerutu beliau sembari membnatu kami memasukkan koper ke dalam, “Kalian sudah makan?”

“Tadi...........”

“Belom Bun!” potongku cepat dan melirik Soni, memberinya isyarat lagi dengan kerlingan mata, “Kan kangen masakan Bunda. Jadi kita mau makan disini.”

“Ya sudah. Ini barang-barangnya ditaruh ke akmarmu saja dulu. Terus kalian amkan.”

Malam itu kami menceritakan pada Bunda karangan yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Bahwa kami ke perkebunan Soni untuk mengurus beberapa masalah. Semua hal dan oleh-oleh yang bertuliskan kalau kami berada di Paris, sudah kami singkirkan sebelumnya.

Jujur aku merasa kalau beberapa hari yang kami lewatkan di Paris adalah mimpi. Bahkan saat aku mengantar Soni kembali ke mobilnya, pikiranku masih melayang.

“Aku benci kembali ke rumah,” gerutu Soni pelan saat kami tiba di dekat mobilnya, membuatku sedikit kaget.

“Heh? Apa? Kenapa?”

“Nggak ada kamu disana,” kata Soni dengan wajah kesalnya, hingga aku tak sanggup menahan senyumku.

“Aku juga merasa begitu kok,” kataku dan membukakan pintu mobil untuknya.

Soni menghela napas dan masuk, “Oh ya. Ada yang kelupaan,” kata Soni ketika dia hendak memasukkan kunci  kontak mobilnya. Dia memberiku isyarat untuk mendekat. Terheran, aku menunduk. Sedikit kaget karena tiba-tiba Soni menarik kerah leher bajuku dan memberiku sebuah ciuman cepat.

Aku segera melepaskan diri dan melihat ke sekeliling kami yang untungnya, sepi.

“Ada yang liat ntar,” bisikku.

Soni tersenyum jahil, “Who cares? Aku pulang,” katanya.

Aku mengangguk dan diam disana hingga mobilnya hilang.

********

 
Pagi harinya, Soni menjemputku dengan mobilnya untuk berangkat ke sekolah, karena kami harus membawa oleh-oleh untuk Wina dan yang lainnya. Jadi tak mungkin kalau kami bawa motor. Dan sesampainya di sekolah, kembali aku merasakannya. Atmosfir lama yang hampir kulupakan. Banyak mata yang memperhatikan kami. Memperhatikan Soni lebih tepatnya. Beberapa malah tak canggung-canggung untuk berbisik, kasak kusuk, dan menunjuk ke arah kami. Tapi seperti biasanya, Soni tak acuh. Aku hanya bisa meniru sikapnya.

“Aku ke kelas dulu ya? Ntar sepulang sekolah aja kita kasih oleh-olehnya ke Wina dan yang lainnya,” kataku pada Soni yang telah keluar dan menutup  pintu mobil. Soni memberiku senyumannya dan mengangguk. Aku yang jadi sedikit tak tahan dengan pandangan anak-anak yang lain, segera pergi menuju kelasku.

“REESSEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!”

Teriakan keras Wina dan lainnya menyambutku saat aku kakiku baru saja masuk ke dalam kelas. Disusul timpukan berbagai macam benda asing, seperti kertas, pulpen, buku atau penghapus.

“WOOIII!!!! Terus gini dan GA ADA OLEH-OLEH BUAT KALIAAAAN!!!”teriakku kesal sembari menunduk untuk 
melindungi diri.

“MANAAA?!!!!” teriak Enny dan Emmy yang kemudian menyeretku ke bangku mereka.

“Denger oleh-oleh aja, langsung baik. Dasar penjilat!” gerutuku dongkol.

PLOKK!!!

Sebuah kotak kado melayang pas ke mukaku. Aku kembali misuh-misuh keras karena tak sempat menghindar. Mukaku langsung terasa panas. Tapi Wina yang sukses menimpukku berkacak pinggang dengan wajah marah.

“Ngelayap kemana aja lu, kunyuk?!! Hape gak aktif. Ga ada sms. Apalagi telpon. Kita bahkan gak bisa ngucapin met taun baru. Makan tuh kado ultah lo!!” semburnya kayak emak-emak kena ayan.

Aku nyengir mendengarnya, “Sorry, Win. Tapi kemaren gue bener-bener gak ada waktu. Kita berdua sibuk banget.”

“Lagak lo! Sekarang mana oleh-oleh buat gue?” todongnya sadis dengan tangan menadah.

“Ada di mobil Soni. Ntar aja kita pulang bareng. Biar sekalian dianter ma Soni, ok?”

“Beneran?!!” serobot Rika, Emmy dan Enny hampir berbarengan.

“Di mobil kak Soni?” tanya Wina yang aku jawab dengan anggukan.

“Iya. Thanks ya kadonya, Win. Eh, kalian mana kadonya?!” tagihku pada Rika dan yang lainnya. Tanpa bersuara, masing-masing dari mereka melemparkan kadonya ke mukaku, membuatku kembali misuh-misuh karen kesakitan.

Wina dan yang lainnya cuma cekikikan seneng.

“Dari kemaren kita emang berencana buat nimpukin ke lo,” cengir Wina, membuatku menggerutu. Namun ucapan Wina disambut hangat oleh yang lain. Malah dengan semangatnya mereka nodong untuk ditraktir makan. Karuan saja aku mencak-mencak. Sayangnya, sebelum aku sempat memberikan argumen, bel masuk berdering.

Sebenarnya aku berharap kalau Wina dan yang lain melupakan tuntutan mereka setelah 2 jam pelajaran Matematika dan Kimia yang membosankan. Tapi harapanku tak terkabul. Karena begitu bel istirahat berbunyi, dengan semangat Rika menabok punggungku dari belakang.

“Gue mau KFC, pizza ma salad buah,” cuapnya asal.

“Gue sushi dong! Pasta atau spaghetti juga boleh,” sambung Enny.

“Gue ayam kalasan aja ya?” timpal Emmy.

“Kalian pikir gue restoran apa?” sungutku sembari mengelus punggungku yang kena tabok Rika tadi, “Lagian kalian kan udah gue beliin oleh-oleh. Masa kurang?”

“Itu kan beda urusan, Nek!” serobot Wina, “Oleh-oleh itu kan lo beliin sebagai souvenir jalan-jalan lo. Sementara traktiran kan buat ultah lo. Gak bisa dijadiin satu dong!”

Aku mendecak sinis dengan argumen Wina, “Lo bakat jadi lintah darat Win,” cibirku dongkol.

“TJ!”

Panggilan itu terdengar dari pintu kelas. Soni melambai ke arahku tanpa memperdulikan godaan beberapa teman cewek sekelasku yang tiba-tiba saja jadi kecentilan. Aku segera bangkit meski batinku menggerutu. Sepertinya aku harus belajar nguatin batin nih, pikirku kecut.

“DAN JUGA KARENA ITUU!!!” teriak Wina kenceng saat aku mencapai pintu. Aku kembali menggerutu karenanya.  
Coba aja dia tahu gue udah jadian ma Soni. Bisa digantung gue, ringisku dalam hati.

“Kenapa?” tanya Soni yang heran dengan kelakuan Wina dan yang lainnya.

“Mereka  nodong minta traktiran ultah karena kemaren aku gak ada di rumah,” jelasku nyengir.

“Ya udah. Ntar kita bawa aja mereka makan.”

“Hah?!” aku jadi sedikit bengong dengan sahutan entengnya, “Nggak usah deh. Ngapain coba. Kita udah bawain oleh-oleh dari Paris sebanyak itu. Biarin aja.”

“Lho? Kenapa? Kan hitung-hitung ngerayain ulang tahunmu.”

“Gak usah di bahas. Biarin aja mereka nyap-nyap,” sahutku cepat dan mengibaskan tangan, “Ada apa?” tanyaku, mencoba mengalihkan perhatiannya.

“Kangen...”

Aku sontan gelagapan dan hanya bisa menelan ludah, jengah dengan jawaban jujurnya. Meski senang, aku hanya mampu menunduk dan menggerutu tak jelas.

“Gak boleh?” goda Soni dengan senyum gelinya melihatku.

“Baru juga beberapa jam,” gerundengku, masih belum mampu beradu pandang dengannya.

“Emang kamu nggak kangen ya?”

“Udah deeeehh. Kan malu...” gerundengku tak tahan.

Soni tertawa kecil melihatku yang makin belingsatan, “Cuma mau kasih tahu, kalau rekaman video kita kemaren sudah aku transfer ke dalam dvd. Tapi aku lupa bawa. Ntar aja ambil di rumah. Sekalian ama foto-fotonya kalau mau cetak.”

“Sip!” sahutku semangat.

“Kita ke kantin,” ajak Soni dan menarikku untuk mengikutinya.



Seperti yang aku duga, Wina dan yang lain langsung histeris dengan oleh-oleh yang kubawa. Mobil Soni langsung berisik dengan pekikan girang mereka.

“Keren bangeeett!!! T-shirt-nya kece!! Beli dimana siikk?!!” seru Rika.

“Oke banget neeekk!! Makasih!” timpal Enny.

“Eh tapi lo masih tetep kudu traktir kita lho TJ!” serobot Wina meski matanya berbinar dengan oleh-oleh bagiannya yang dia pegang.

“Maruk amat sik?! Masih aja kurang?” umpatku dongkol.

“Tenang aja. Kalian mau ditraktir apa?” timpal Soni sembari melirik dari kaca spion. Aku yang duduk disebelahnya langsung nyureng dan menggeram marah.

“Aku bilang gak perlu!!” protesku padanya.

Karuan saja Wina dan yang lain protes berat dan ngomel hampir berbarengan. Soni mengangkat tangannya untuk menenangkan trio bebek itu.

“Sekarang putusin mau makan dimana?” tanya Soni.

“Eh, gimana kalo kita nonton dulu, terus makan-makan di KFC?!” usul Wina.

“Boleh juga tuh,” sahut Enny cepat.

“Hei!! Kalian tadi cuma minta makan doang kan?” potongku.

“Iya, gue setuju! Kita nonton terus makan-makan di KFC aja. Tapi jangan sekarang. Ntar malem aja!” sahut Rika seolah-olah tak mendengar protesku.

“Kok malem Ka?” tanya Emmy heran. Rika cuma nyengir dan membisikkan sesuatu pada Emmy yang kemudian diteruskan ke yang lainnya. Minus aku tentu saja.

“Sip deh!! Jadi Kak Soni! Kita nonton terus makan di KFC aja ya?” ujar Enny dengan mata berbinar. Sepertinya mereka berempat telah sepakat akan satu hal.

“Tunggu!” potongku, “Kalian ngerencanain apa tadi?” tanyaku dengan pandangan penuh selidik.

“Mo tau aja deh. Lo diem aja dulu ih!” serobot Rika.

“Ya udah. Ntar malem kita pergi. Jam 7 ya?” putus Soni.


Grup bebek yang ada dibelakang langsung bersorak kegirangan. Aku hanya mampu mneggeram kesal. Dan aku tetap konsisten dengan manyunku sampai kami menurunkan penumpang terakhir kami, Wina. Soni Cuma nyengir.

“Kenapa sih?” godanya.

“Aku kan udah bilang gak perlu,” gerutuku, “Aku nggak............” kalimatku terpotong oleh suara sms yang masuk ke ponsel lamaku. Mataku kembali nyureng membaca sms Rika yang intinya adalah, mereka sengaja minta acaranya ntar malem supaya mereka bisa dandan abis. Mereka udah janjian buat ke salon bareng ntar sore. Siapa tahu Soni naksir salah satu dari mereka.

“Sarap!” gerundengku dongkol.

“Sekarang kenapa lagi?”

“Kamu tahu kenapa mereka minta acaranya ntar malem aja? Mereka mau dandan heboh untuk memikatmu.”

Soni tergelak kecil, “Kalo gitu bagus kan? Mungkin kita juga harus dandan heboh juga.”

“Justru itu yang gak aku suka,” gerutuku, membuat sbelah alis Soni terangkat, “Mereka pasti akan makin heboh kalo kamu gitu. Emang suka ngeliat mereka histeris?”

“Kenapa? Cemburu?” goda Soni lagi. Aku diam tak menjawab. Hanya saja mulutku makin maju, manyun, “Baiklah. Terus kamu mau aku gimana?”

“Justru itulah masalahnya. Kamu tetap akan keliatan bagus pake apa aja. Dan aku ragu koleksi busanamu ada dalam kategori yang biasa. Kenapa kamu gak punya jeans robek-robek aja sik? Yang belel gitu. Ama t-shirt butut gitu sebiji,” gerutuku.

Soni tertawa dan mengacak-acak rambutku dengan sayang, “Gak usah jealous lah. You know I love you,” katanya lembut.
Aku hanya tersenyum dan kembali tertunduk malu karenanya.


*************

Malamnya aku sedikit kaget karena yang muncul di rumahku justru Pak Surya.

“Maaf, Mas. Den Soni minta saya mengantar Mas TJ. Dan meminta saya menyerahkan ini.”

Pak Surya mengangsurkan sebuah amplop padaku. Aku menerimanya dengan tatapan tanya.

“Den Soni minta mas pegang.”

Aku yang masih setengah bengong menerima amplop itu dalam diam, jadi makin tak mengerti. Ponselku berbunyi sebelum aku membukanya.

“Soni,” gumamku dan mengangkatnya, “Ya Son?”

“Sorry, aku mungkin gak bisa ikut nonton bareng kalian. Tapi nanti aku bakal nyusul ke KFC langsung. I have something to do.”

“Ya udah, gak papa. Beneran nanti bisa nyusul ke KFC?”

“Iya. Kalian ntar nonton di XXX Mall kan? KFC ada di lantai 1 kan? Terus yang ada di amplop itu kamu pake ya?”

“Emang isinya ap..” kalimatku terpotong saat kulihat isi amplop itu adalah lembaran-lembaran uang yang jumlahnya jelas lebih dari 1 juta, “SON!”
 
saluran telah diputuskan. Aku menggerutu pelan tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Kita berangkat, pak!” kataku pada Pak Surya, lalu berpamitan pada Bunda.

Waktu aku kasih tahu situasinya, Wina dan yang lain jadi sedikit kecewa. Apalagi Emmy, Enny dan Rika yang sudha dandan heboh kayak orang mau ngelnong. Mereka udah bela-belain ke salon tadi. Wajah di dempul abis. Rambut mereka ditata dengan dramatis. Baju gaul, dan sepatu sudah high heels. Hanya aku dan Wina yang menggunakan celana jeans dan t-shirt. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku. Tapi mereka langsung semangat  lagi saat aku bilang kalau Soni akan menyusul ke KFC. Apalagi saat tahu kalau dia mengirim sopirnya untuk mengantar kami.

Kami nonton film animasi terbaru keluaran Pixar. Selesai nonton, Wina langsung menyeretku ke KFC. Tapi Rikan dan yang lain pamit untuk ke toilet dulu. Mereka hendak merapikan make up mereka. Hampir 2o menit penuh mereka di dalam. Aku dan Wina yang menunggu di depan KFC jelas jadi uring-uringan dengan ulah mereka yang kecentilan.

“RESEE!!” semburku kesal ketika mereka muncul dengan langkah melambai tenang, “Kalian lupa kalo kalian udah punya pacar semua? Ganjen banget deh.”

“Eh, kalo emang ada prospek yang lebih bagus, kenapa harus ditolak? Iya nggak?” kilah Emmy.

“Sial banget si Dono dapet pacar kek elu,” gerundengku.

“DONI, kunyuk!!!” bnatah Emmy dan menepuk bahuku keras.

Wina ngakak dan segera menyeret kami msuk, “Nah sekarang, lo mau traktir kita apaan nih? Jangan sampe duit lo gak cukup en kita kudu ninggalin lo disini buat jaminan,” katanya dan nyengir licik.

Aku mendengus mendengarnya, “Kalian boleh makan apa aja sampe perut kalian meledak. Puas-puasin deh ka...”

Aku belum menyelesaikan kalimatku, tapi Wina dan yang lain langsung teriak kegirangan dan menyerbu counter kosong, memesan berbagai macam makanan. Aku hanya kembali merutuk dengan tingkah mereka.


“Jarang-jarangan lho kita bisa ada kesemparan ngebajak elo kayak gini,” ujar Rika kalem dan melahap makanan di bakinya yang penuh sesak.

“Iya nih,” timpal Enny dan menyedot pepsi ukuran XL-nya, “Tumben-tumbenan lo kaya nek.”

“Atau lo sekarang miara tuyul ya? Muja?’ sambung Emmy antusias.

“Ngepet kali!” imbuh Wina.

“Atau...................jangan-jangan sekarang lo jadi simpenan Oom-Oom kaya ya?” serobot Rika asal cuap.

Aku mendecak keras, “Dasar cewek-cewek sableng!” makiku sengit, “Otak kalian pada error semua. Kalian gak bisa mikir lurus apa?!!”

Wina tergelak, “Tapi beneran deh. Kemaren lo udah kasih kita banyak oleh-oleh. Lalu sekarang lo bisa traktir kita kayak gini. Gak biasa banget kan?”

“Gue...............”

Kalimatku terpotong saat Rika mengeluarkan suara tersedak keras. Lalu sembari mengusap bibirnya dengan tissue, dia memberi isyarat heboh pada kami untuk menoleh ke pintu masuk.

Disana, Soni tersenyum ke arah kami dan melambaikan tangannya sekilas. Aku, Wina dan yang lain ternganga melihatnya. Dia memakai kaos dalam singlet warna hitam tanpa lengan yang mencetak sempurna tubuhnya. Dari lekukan dada bidangnya, perut hingga pinggang. Dia mebalutnya dengan kemeja yang tak dikancingkan. Di padu dengan celana jeans belel robek-robek serta sepatu kets. Ada sebuah antai di pinggangnya, yang kurasa berhubungan dengan dompet yang ada di sakunya.

Meski penampilannya ala bad boy begitu, tetap saja dia terlihat bergaya dan berbeda. Penampilannya lebih terlihat sebagai model yang memperagakan gaya street wear. Aku curiga celana jeans yang dia pake bukan merk sembarangan. Karena meski robek-robek, celana itu terlalu bergaya dan pas membungkus kakinya. Out fit-nya menyatu dengan rambutnya yang kali ini tidak terminyaki rapi. Dia membiarkannya sedikit acak.

Bahkan saat seperti ini, dia masih menjadi magnet, pikirku saat menyadari banyaknya mata yang berpaling ke arahnya. Bahkan mereka yang menjaga counter terpana dan berhenti sejenak.

“Sorry telat. Tadi aku ada urusan,” kata Soni seolah-olah dia tidak membuat lingkungan di sekitarnya berhenti dari aktifitasnya. Dia duduk di sebelahku, “Udah makannya?” tanya Soni lagi.

Aku menoleh pada Wina dan yang lain. Hebatnya, mereka masih diam dengan pose cengo bego. Aku berdehem keras, membuat mereka tersadar dan langsung nyengir. Sedikit salah tingkah, meski mata mereka masih menelusuri Soni.

“Be-belum Kak,” jawab Rika grogi.

“Kamu gak pesen?” tanyaku tanpa melihatnya. Aku lebih memilih konsen dengan makananku, sementara kakiku yang di bawah meja, menendang kaki Wina dan yang lain, supaya mereka sadar dan lebih fokus. Tidak bengong terus melihat Soni.

“Bareng aja,” jawab Soni dan mencomot french ries dari bakiku.

Aku hanya menggerutu sambil melirik ke sekeliling kami. Mereka semua masih melihatnyam pikirku kesal.

“Kenapa?” tanya Soni. Mungkin dia mendengar gerutuanku.

“Nggak papa,” sahutku singkat dan sedikit ketus, lalu kembali menendang Wina didepanku yang kulihat kembali bengong dengan mulut nganga, menatap Soni. Wina mengerang pelan dan melotot padaku, membuat Soni makin heran.

“Kok gitu?”

“Mau bikin sensasi baru?” sindirku akhirnya, tak tahan untuk nyolot, “Kenapa gak lepas kemejanya sekalian? Nanggung.”

“Oh ya?” komen Soni santai. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia membuka kemejanya dan mengikatkannya dengan tak acuh ke pinggangnya.

Ku dengar Wina dan yang lain menahan napas keras, terkesiap. Aku sendiri hanya mampu menggigit lidah untuk menahan diri yang hampir mengeluarkan umpatan pelan. Soni Cuma tersenyum, melirikku geli. Tak pedulli kalau tindakannya tadi justru membuatnya jadi makin diperhatikan dengan orang-orang disini. Sekarang mereka jadi lebih jelas melihat bentuk tubuhnya dibalik kaos singletnya yang ngepas ditubuhnya. Dadanya yang penuh dengan sedikit bulunya yang menyembul di bagian atas singletnya. Lengannya yang putih berbulu dengan otot-otot bicep gagahnya yang menggoda. Dia benar-benar definisi iblis yang menyuguhkan kenikmatan dunia dan pada akhirnya menyeret manusia ke neraka. Dan aku adalah salah satu korbannya.

“WOII!! Cepetan makannya!” bentakku pada Wina dan yang lainnya, yang lagi-lagi bengong hebat. Mereka hanya kembali nyengir dan melanjutkan makannya sambil seekali masih melirik Soni.

“Nonton apa tadi?” tanya Soni, masih dengan kecuekannya.

“Film animasi, Kak. Bagus lho. Sayang, kakak gak bisa ikut,” sahut Enny, sedikit terlalu bersemangat.

Soni tersenyum tipis menanggapinya dan melirikku. Aku yang sadar dengan lirikannya, cuek dan masih konsisten cemberut. Malas untuk menanggapi, karena yakin kalau aku membuka mulut, yang ada hanya omelan keluarnya.

“Oh ya, Wina. Bisa ikut aku sebentar?” pinta Soni mendadak.

Bukan hanya Rika, Enny dan Emmy serta aku saja yang terlengak kaget. Wina sendiri bengong hebat dan melihat ke arah Soni yang bangkit dari duduknya, dengan tatapan bego.

“S-sa-saya Kak?” tanya dia gugup.

“Iya. Ayo! Sebentar kok,” tegas Soni dan melangkah mendahuluinya. Wina cuma menatapku dan yang lain dengan bego, lalu bangkit mengikuti Soni setelah mengangkat bahu pasrah. Aku jadi makin uring-uringan tak jelas.

Mau ngapain lagi sih tuh orang? Pikirku dalam hati, mangkel. Sepanjang sejarah pengetahuanku dengan Soni, aku gak pernah liat dia bicara berdua saja dnegan seorang cewek. Apalagi ini dia yang ngajak duluan. There must be something wrong, pikirku lagi dan memperhatikan mereka yang ngobrol di luar. Sesekali mereka melihat ke arah kami. Terakhir kulihat, dia membisikkan sesuatu di telinga Wina.

Sesaat kemudian mereka kembali. Ekspresi Soni masih datar dan cuek seperti biasa. Sementara Wina tampak nyengir senang. Begitu dia duduk, Emmy dan yang lain langsung aja mencolek karena ingin tahu. Tapi Wina hanya tersenyum tanpa menjawabnya. Aku sendiri lebih memilih untuk melirik Soni dengan sengit.

What?” tanya Soni dengan wajah tanpa dosa, lalu kembali mencomot french fries punyaku. Aku tak menjawab, hanya 
kebali menggerutu. Jelas sekali kalau dia tak akan mengatakn apapun meski aku memaksanya. Sial!

“Kalian udah kelar? Kita balik!” ajakku kemudian pada yang lain.

“Eh, ntar dong. Gue belom kelar!” sergah Rika.

“Iya nih. Makanannya juga masih banyak ini!” tukas Wina.

Aku ganti melotot sengit padanya. Tapi Wina Cuma nyengir dan melanjutkan makannya dengan tenang. Aku yang sudah tidak berselera akhirnya memilih untuk mendengarkan koleksi mp3ku dan tidak mengacuhkan mereka, termasuk Soni. Begitu mereka selesai, aku segera bangkit mendahului .

Sesampainya di lapangan parkir aku tak mendapati Pak Surya dan mobilnya. Tapi malah mendapati peugeot yang biasa di pakai Soni.

“Aku sudah menyuruh Pak Surya pulang tadi,” jelas Soni yang muncul dibelakangku dan langsung mematikan alarm mobil denga remote-nya. Dia membuka pintu depan untukku. Tanpa berkata apapun, aku masuk. Soni hanya tersenyum dan mengikutiku. Aku berniat untuk tidak mengacuhkannya hingga nanti aku merasa baikan. Untuk sekarang, aku tak ada niatan untuk baik padanya. Aku lalu duduk bersandar sembari memejamkan mata. Mendengarkan sebuah lagu dari Craig David dari ponselku.

Sesaat kemudian, aku dibuat sedikit kaget saat Soni menarik lepas earphone-ku pelan, “Manyun amat. Kenapa sik?” 
tanyanya heran.

Aku hanya mendengus dan mencoba merebut earphone-ku yang dia pegang. Tapi Soni menahannya, “Nggak ada apa-apa!” sergahku dan akhirnya memilih untuk mematikan mp3 playerku. Tahu kalau percuma melawannya.

“Masa? Dengan muka gitu?” tanya Soni lagi.  

“Wina lelet banget siik?!!” gerundengku tanpa menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian aku mendengar tawa Wina dan yang lain. Mereka baru muncul dari arah lift, “WOOOII!!! CEPETAANN!!”

“IYAAA!!” sahut mereka dan berlari menekat.

“Lama banget sik?!!” gerutuku dan membuang muka ke depan tanpa menoleh lagi pada mereka yang masuk ke bagian belakang mobil.

“Soalnya kita mau kasih ini ke lo!” ujar Wina yang kemudian menepuk bahuku. Saat aku menoleh, dia sedang memegang sebuah kue tart dengan beberapa lilin yang menyala. Wajahnya dan yang lain terlihat girang karena berhasil mengerjaiku.

SURPRISE!!!” seru mereka kompak dan ngikik.

“Met ultah ya? Lo udah resmi 17 taon sekarang. Udah boleh liat bokep!” lanjut Wina nyengir.

“Udah tua ya?! Rasain! Suruh siapa ultah di awal taon,” imbuh Enny

Aku bengong, terlalu kaget untuk bereaksi. Bahkan untuk membalas ledekan mereka. Dengan cepat aku berpaling pada Soni yang tertawa kecil di sebelahku.

“Ulang tahun belum lengkap tanpa kue tart dan lilin kan?” selorohnya, “And by the way, kalau kamu manyun? Priceless! Seharusya tadi aku mengambil foto!”

Aku menggeram dan memukul bahunya keras. Sadar kalau sedang dikerjai sedari tadi, “RESE!!” umpatku kesal membuat Soni dan yang lain tertawa.

“Ayo TJ, tiup lilinnya!” kata Rika.

Make a wish!” potong Soni.

Aku memejamkan mata dan memanjatkan doa pada Tuhan agar kebahagiaan ini bisa terus aku rasakan, kemudian ku tipu lilinya. Wina dan yang lain bersorak.

“Ayo potong kuenya! Gue mau yang ada cherry-nya ya?” pinta Emmy bersemangat.

“Gila!! Emang perut lo masih nampung, Em?” tanyaku kaget.

“Penuh sih. Tapi kan lumayan buat besok. Emang kenapa? Lo mau ngabisin kuenya sendiri? Enak aja!” serobotnya, membuat kami tergelak.




Soni menghentikan mobilnya di depan gang yang menuju rumahku. Aku tidak langsung turun, tapi menoleh padanya dengan senyuman senang.

“Thanks! Kamu sudah memberiku banyak sekali,” kataku pelan.

Soni membalas senyumanku, “Anything for you,” katanya dan mematikan mesin mobil, sehingga kami tenggelam dalam kegelapan. Dia mengulurkan tangannya dan menarik wajahku. Untungnya jalanan sepi dan malam sudah larut, jadi tak ada yang melihat kami.

Aku mendesah, melepas napas yang tertahan saat Soni melepas ciumannya. Aku mungkin tak akan pernah bisa menenangkan jantungku yang mneggelepar hebat tiap kali dia menciumku, pikirku.

“Mau ikut ke rumah?” tawarnya kemudian pelan, membuatku yang mendengarnya tertawa kecil.

Not tonight. Aku mau tidur. Cape.”

Soni menghela naps, “Sudah beberapa hari ini aku tidur sendiri. I hate it!” grutunya.a

Aku hanya mampu kembali tertawa kecil dan menunduk jengah, “Yeah...... I do too,” sahutku jujur, karena memang itu yang kurasakan. Aku membuka pintu mobil untuk turun, namun urung karena teringat sesuatu, “Son...?”

“Apa?” tanya Soni yang melihatku dengan hern.

“Jangan pernah pake out fit seperti ini lagi! Promise me! Aku tak suka orang-orang ngeliatin kamu terus!” pintaku dengan wajah serius.

Soni tersenyum geli, “It was your idea. But.......ok,” katanya dan mengangguk.

Aku tersenyum membalasnya dan turun dari mobil, “Good nigt!” kataku dan tetap berdiri di sana. Melihatnya pergi, hingga akhirnya mobilnya menghilang di tikungan. Sesaat kemudian, saat hendak melangkah untuk pulang, ponselku berbunyi. Nomor Soni? Pikirku heran ketika melihat screen ponselku.

“Iya Son. Ada yang ketinggalan?” tanyaku.

“Ada satu yang kelupaan,” jawab Soni dari seberang, “Aku lupa bilang...I love you.”

Aku tertawa mendengarnya, “Love you too,” balasku dengan perasaan ringan dan berbunga. Saat Soni menutup telepon, hanya satu hal yang melintas di benakku.


Semuanya akan berbeda dari sekarang, batinku bahagia.


 

Rabu, 18 Oktober 2017

THE MEMOIRS, A Gay Chronicle BAB 26



BAB 26



Pagi ini, bahkan saat mataku belum terbuka, kurasakan hawa hangat yang menyenangkan mengalir dari arah depanku. Hawa yang begitu nyaman dan membuatku malas untuk membuka mata. Tapi aku memaksa mataku untuk membuka dengan perlahan. Aku lihat Soni berbaring miring, menatapku dengan senyum lembutnya.

Morning,” sapanya pelan dan mendekatkan wajahnya untuk menciumku. Aku mengerang dan buru-buru menyembunyikan wajahku ke bantal.

Morning breath,” gumamku sedikit serak karena kantuk yang masih menggelayut.

Soni tertawa kecil, “Cepat bangun. Mau jalan-jalan keliling Bordeux lagi kan?” tawarnya sembari mencium kepalaku dan mengusap punggungku sekilas, untuk kemudian bnagkit, “Dan jangan lupa, malam nanti kita harus ke pesta Chantal.”

“Malam ini?” tanyaku dan mengangkat muka.

“Yup! Nanti sekalian kita ambil tuxedo kita. Aku mandi dulu,” kata Soni dan berbalik.

“Son!” panggilku sebelum dia benar-benar menghilang dibalik pintu kamar mandi, ”Gimana kalau kamu kasih aku kursus kilat tentang gimana aku harus bersikap nanti di pesta? I don’t wanna be the clown of the party.
Soni tersenyum paham, “You won’t be,” katanya dan menghilang.




Apa Perancis memang gudangnya desainer dunia? Pikirku sembari mematut diri didepan cermin. Setelan tuxedo yang kami pesan kemarin benar-benar nyaman dipakai. Jahitannya rapi tanpa cela. Dan aku harus mengakui kalau aku nyaris tak mengenali bayanganku di cermin. Aku yang biasanya sudah merasa super kece denganjeans dan t-shirt, kini kembali merasa begitu berkelas, beradab dan elegan dengansetelan yang ku kenakan. Dengan kemejanya yang terkanji rapi, dasi sutra kupu-kupu yang ku pakai, rompi, manset dan jasnya, begitu pas membentuk satu kesatuan yang utuh dengan celana, sepatu serta aksesoris lainnya yang kini melekat ditubuhku. Bahkan sapu tangan putih dari sutra yang sedikit tersembul di saku jasku dalam bentuk segitiga terasa melengkapi dengan pas.

“Kalo Bunda ngeliat, bisa pingsan,” gumamku geli tanpa mampu menahan cengiranku. Dengan bersenandung kecil aku mengusapkan gel pada rambutku yang sedikit basah dan menatanya, “And I’m ready to rock,” lanjutku lagi setelah selesai menyemprotkan parfum.

Soni tadi bilang kalau dia akan menunggu dibawah. Aku tak mendengar suara apapun saat aku turun dari tangga hingga 
jadi sedikit heran.

“Son?!! Soni?!!” panggilku, sedikit keras.

Here!

Sahutan itu terdengar dari ruangan di dalam. Kalau tak salah dari perpustakaan, pikirku sembari melangkah. Yup. There he is! Dia berdiri disamping perapian sembari menatap sebuah photo berukuran besar. Photo dari Jean Phillipe Damian Duianne, ayahnya. Lelaki yang memiliki garis wajah yang mirip dengan Soni. Dengan senyum hangat yang akhir-akhir ini juga sering kulihat pada Soni. Bukan wajah dingin, muram dan melankolis seperti saat pertama kali kami bertemu.

Aku tak langsung memanggilnya. Aku diam memandang sosoknya dari samping. Profil wajahnya yang sempurna, bahu yang lebar, dada bidangnya. Lengan, perut, hingga kaki panjangnya. Terbungkus dalam setelan resmi yang rapi. Kemeja hitam tanpa dasi, jas serta celaa senada, membuatnya terlihat lebih langsing dan tinggi. Rambutnya pun sudah tertata rapi dan berkilat. Dia Adonis hidup yang membuat perasaanku jungkir balik tak karuan. Orangyang telah 2 kali meyakinkanku bahwa dia...........mencintaiku.

Soni yang sepertinya sudah menyadari kehadiranku, menoleh dan membalikkan tubuhnya. Dia menelusuriku dari aas ke bawah dengan seksama. Dan saat mata nya kembali bertemu dengan mataku, mata itu melebar dengan senangnya. Dia menyukai penampilanku.

Astaga!! Melihat sinar matanya, aku bahkan bisa berpikir kalau dia terpesona padaku.

Perlahan dia melangkah, mendekat ke arahku, hingga akhirnya kami berdiri berhadapan. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

So.....?” tanyaku, sedikit salah tingkah oleh intensitas tatapannya, “Aku sama sekali gak cocok ya pake ginian?”

Soni tergelak kecil sementara satu tangannya terangkat membelai sisi wajahku, “You look awesome!” bisiknya dan kemudian menciumku.

Wait!” cegahku saat dia sudah menarik pinggangku. Perlahan aku mencoba melepaskan diri.

Bukannya aku tak menginginkan kemesraan ataupun ciuman Soni. Hanya saja, ciuman Soni benar-benar menggoda dan menawarkan banyak hal. Aku tak ingin kehilangan kontrol. Aku tahu sendiri kalau aku tak akan puas hanya dengan ciumannya. Aku menginginkan lebih dari itu. Tapi memikirkan untuk melakukan ‘sesuatu’ yang lebih dengan Soni saja sudah membuatku meringis. Kalau ciumannya bisa membuatku merinding, aku tak mampu membayangkan akan seperti apa kalau kami............

Selain bingung harus apa dan bagaimana, aku juga pasti akan takut. Aku takut kalau sekali saja aku mereguk kenikmatan ragawi darinya, aku tak akan bisa berhenti. Aku takut kalau aku akan terus menginginkannya. Jangan sampai aku menjadi seorang maniak dan menjadikan Soni budak seperti yang Erma lakukan. Aku tak ingin membuat Soni menjadi obyek atau alas pemuas napsu saja.

Tidak!! Soni bernilai lebih dari itu. Sangat jauh dari itu. Dia orang yang layak disayang, diperhatikan, diidamkan. Aku tak bisa menyangkal kalau Soni memiliki daya tarik seks yang kuat. Apa yang dilakukan Erma sudah menjadi bukti konkrit kalau dia memiliki hal itu. Tapi Soni juga adalah orang yang membuat kita begitu ingin membahagiakannya. Sekali melihatnya dulu, bahkan sebelum aku mengerti luka masa lalunya, aku sudah ingin memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Soni berhak mendapatkan itu setelah semua yang dia alami.

Karena alasan-alasan itu pula, aku mati-matian menahan diri. Apalagi beberapa hari terakir ini, saat dia sering kali menciumku. Aku harus susah payah menahan gejolak dalam hatiku. Bukan hal yang mudah, karena Soni begitu membuka diri. Entah karena dia tak sadar pesona yang dia miliki, ataukah memang dia orang yang begitu ekspresif. Tapi aku benar-benar berusaha. Setiap kali ciuman kami memanas, saat tangan kami sudah ham pir bergerak untuk melepaskan pakaian yang melekat dalam tubuh kami, aku akan langsung memaksa otakku untuk memikirkan apa yang telah Erma lakukan pada Soni. Bahwa aku berbeda darinya. Bahwa aku tak akan boleh menjadi Erma yang lain bagi Soni.

Dengan itu, tubuhku akan langsung kaku. Dan aku akan memiliki sedikit kekuatan untuk melepaskan diri dan mengakhiri tindakan berbahaya kami.

Untungnya, Soni juga mengerti. Saat tubuhku menegang, dia segera berhenti dan memberiku ruang. Kurasa dia juga tidak mudah untuk melakukannya setelah apa yang dia alami itu. Baginya, seks mungkin jadi hal kotor yang mengingatkannya akan bagaimana dulu dia diperlakukan.

Dan alasan-alasan itu pula yang kini membuatku untuk menahan  diri seperti sekarang.

“Ada apa?” tanya Soni pelan.

“Kenapa kita harus siap 2 jam sebelum acara?’ tanyaku, lega karena berhasil menemukan topik aman.

“Oh, itu. Aku harus mengingatkanmu bahwa pesta yang diadakan Felix merupakan event yang lumayan dinantikan oleh kalangan elit disini. Semua orang yang memiliki gelar terhormat di daerah ini akan datang kesana. Mungkin ada beberapa dari luar daerah. Jadi kita harus mempersiapkan diri kita. Kau akan diperkenalkan Felix sebagai temanku dari Indonesia.”

Soni berhenti disana dan menatapku dengan khawatir. Aku yang tengah mendengarnya dengan seksama sempat dibuat bingung. Dia seakan-akan menungguku untuk melakukan sesuatu atas apa yang dia katakan tadi.

“Apa?” tanyaku heran.

Are you okay with that?” tanya Soni balik, masih dengan wajah khawatir.

With what?” tanyaku, tambah bingung.

“Aku sudah mengatakan pada Felix bahwa sebenarnya aku ingin memperkenalkanmu sebagai pacarku. Bukan teman.”

Untuk sesaat aku terpaku diam karena tak percaya sudah mendengarnya. Iya juga. Boleh dibilang kami sudah berpacaran kan? Dengan semua pengungkapan perasaan kemarin dan juga ciuman-ciuman itu. Kami sudah resmi menjadi pacar kan? Aku benar-benar terperangah saat menyadarinya.

“Felix bilang, itu akan menjadi sensasi. Besar kemungkinan kita akan menjadi pusat perhatian di pesta itu kalau kita mengungkapkan hubungan kita. I’m okay with that. Tapi Felix bilang, hal itu mungkin akan membuatmu tak nyaman. Kau belum tahu bagaimana perilaku teman-teman kami disini.”

“Oh....yeah! sepertinya Felix benar,” ujarku. Masuk akal. Meski ada skenario lain yang tberkelebat di benakku.

Soni menatapku dalam, “Dengar TJ, aku tak peduli kalau mereka membicarakanku. Sudah bertahun-tahun aku belajar menulikan telingaku. Kalau kau menginginkannya, aku akan mengumumkannya. Akan kukatakan bahwa kau pacarku dan..............”

Aku sudah meraih tangan kanannya dan menggenggamnya erat. Aku mengulas senyum untuk menenangkannya, “I’m 
okay with that. Felix benar. Aku tak mau berada di pesta dimana semua orang memelototiku seperti alien. Ini event pertamaku. Aku harus bisa menikmatinya.”

Are you sure?

“Yeah..” jawabku meyakinkannya.

Soni diam sejenak, “Kau tahu kan kalau aku tak peduli omongan mereka?”

Stop it! I know. I said I’m okay. Jangan khawatir. I think it would be the best for us,” ujarku. Siapa juga yang mau jadi badut dalam pesta? Apalagi aku yakin, kalau Felix mengatakan itu karena sebuah alasan yang bagus. Dan dia melakukannya untuk Soni.

Atau mungkin karena dia berpikir bahwa kau tak pantas untuk Soni?

Kelebatan itu melintas degan cepat. Aku mencoba untuk tidak menmgacuhkannya. Karena bahkan dari awalpun, aku sudah tahu. Soni layak mendapatkan orang yang jauh lebih baik dariku. Aku memang merasa tak pantas baginya.

“TJ?” tegur Soni dengan nada khawatirnya. Aku segera menyadarka diri dan kembali mengulas senyum.

Believe me, I’m fine.

“Baiklah. Nah, seperti yang aku bilang tadi, karena tamu-tamu Felix bukan kalangan biasa. Dan sesuai permintaanmu, aku akan mengajarimu beberapa hal agar kamu tidak salah sikap. Pertama adalah caramu berdiri dan............”

Soni memberikan arahan singkat tentang bagaimana standart berperilaku dalam tingkatan teman-teman Felix. Bukan hal yang sulit karena sebagian sudah pernah aku lihat di Tv. Dan kami berangkat menuju rumah Evelyn menggunakan porsche Soni. Agak canggung sebetulnya, karena ini pertama kalinya aku menaiki sedan sport hitam dengan jok kulit, yang seumur-umur hanya aku lihat di majalah dan film saja.




Seperti yang Soni bilang, tamu-tamu yang datang ke pesta Felix bukanlah kalangan biasa. Banyak dari mereka yang memiliki gelar kbangsawanan. Panggilan Sir, Lady, Duchess, Baroness  dan entah apa lagi. Ada juga beberapa orang aktor, aktris, penyanyi dan model yang menurut Felix gay. Felix membisikkan padaku mana diantara mereka yang memiliki orientasi seks yang sama. Sebagian besar tak ku kenal karena mereka asli Perancis, jadi tak ada pengaruhnya bagiku, meski harus aku akui, beberapa diantaranya memiliki fisik yang menawan.

Semua tamu tampak begitu berkelas, anggun dan jelas-jelas kaya.  Gaun-gaun malam karya perancang busana dunia bisa dilihat di ruangan ini. Kilauan permata dan perhiasan-perhiasan mahal terlihat kemanapun aku menoleh. Pria-pria yang hadir tampak gagah dalam setelan resmi mereka. Ballroom rumah Evelyn meriah dengan kumpulan orang-orang luar biasa ini.

Hingga saat ini, aku sudah memerankan bagianku dengan cukup baik. Felix memperkenalkan ku sebagai teman Soni dari 
Indonesia. Felix juga begitu tanggap melindungiku saat aku mengalami kesulitan untuk berbaur. Dengan luwes dia bisa menutupi kebingunganku saat ada topik pembicaraan yang tak ku mengerti. Misalnya saja tentang Soni. Seumur-umur, aku belum pernah belajar tentang seni lukis. Yang aku kenal Cuma Leonardo da Vinci dengan Monalisa-nya. Sedangkan nama-nama seperti Van Gogh, Monet, Renoir, Salvador Dali ataupun Michaelangelo dan entah siapa lagi, hanya aku tahu sekilas tanpa memahami adi karya mereka. Felix dengan halus bisa mengubah arah pembicaraan ke topik-topik yang mudah.

Sementara Soni.......

Dia nyaris tak pernah berhenti bergerak. Selalu saja ada orang yang menyapa, mengenalkannya pada seseorang, atau beberapa cewek yang bergiliran mengajaknya berdansa. Dia orang tersibuk setelah Chantal, guest of honor dalam pesta malam ini.

Aku sendiri lebih memilih untuk berbicara, hanya pada saat diperlukan saja. tak tertarik dan juga tak mengerti, karena pembicaraan lebih banyak terjadi dalam bahasa Perancis. Kemudian dengan perlahan-lahan, aku menarik diri. Hingga pada akhirnya, aku bisa keluar ke balkon.

Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya keras. Ternyata cukup melelahkan juga beramah tamah dengan orang-orang itu. Aku kembali menyesap anggur dalam gelas kristal yang kubawa. Kalau aku pikir, akhir-akhir ini aku sering banget menenggak minuman mahal seperti anggur merah dan champagne. Aku lebih banyak minum dalam beberapa hari terakhir, dibanding sepanjag hidupku sebelumnya. Tapi aku tak bisa menyangkal, kalau minuman ini memang bisa membantu untuk menghangatkan tubuhku yang terbiasa dengan iklim tropis. Dan Desember di Perancis lumayan menggigit untukku.

Kembali aku menghembuskan kepulan asap, membuatku merasa seperti seekor naga berapi. Aku lalu berbalik, melihat ke arah keramaian yang ada didalam sana melalui jendela kaca.

Didalam sana adalah dunia yang tak pernah aku ketahui. Dunia baru yang begitu asing, yang biasanya hanya aku lihat di Tv. Cara mereka bersikap, berbicara, berjalan, berpikir, benar-benar berbeda dengan apa yang biasa aku ketahui. Semua pembicaraan tentang seni, politik, perdagangan ataupun keadaan ekonomi dunia tidak pernah masuk dalam agenda pembicaraanku bersama Wina dan yang lain. Remaja seusia kami lebih penting untuk tahu siapa pacaran dengan siapa dalam dunia selebriti. Kami tak peduli akan topik-topik tadi.

Dan Soni........

Disini, kembali aku melihat sisi lain dirinya. Soni yang berwibawa, elegan, berkelas, kaya dan asing. Cara dia berbicara, tertawa atau bahkan bergerak, benar-benar , mencerminkan sosok baru yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia benar-benar perwujudan sosok elit Eropah. Bukan remaja sekolah yang aku ketahui. Satu-satunya persamaan yang cukup menjengkelkanku adalah, dia sama larisnya disini.

Entah sudah berapa cewek yang mengajaknya berdansa. Soni menanggapi mereka semua dengan santun dan halus. Dia menjadi host yang sempurna malam ini. Bertindak sebagai bagian dari keluarga Evelyn dan Chantal. Lihatlah dia, sedang bergerak di lantai dansa dengan seorang gadis pirang mengenakan gaun malam yang bisa bikin penyanyi dangdut Indonesia nangis karena menginginkannya. Gaun backless yang dia kenakan begitu menggoda dan menawarkan dengan jelas pada Soni, apa yang bisa dia rasakan malam ini kalau semua berjalan lancar.

There you are!

Seruan itu berasal dari pintu balkon sebelah kiriku. Felix tersenyum dan menhampiriku, “Sudah lelah berada di dalam?” tanyanya dengan senyum simpulnya.

Aku membalasnya dengan cengiran, “Lumayan. Thanks for helping me in there. Sudah  beberapa kali kau menyelamatkanku agar tak terlihats seperti orang autis. Kalau tidak, aku mungkin hanya akan menjadi badut.”

Felix tertawa, “Untuk orang yang baru pertama kali melakukannya, kau sudah sangat baik.”

“Aku banyak nonton film,” ujarku nyengir, membuat Felix kembali tertawa. Dia juga membawa segelas anggur di tangannya dan bersandar pada pinggiran balkon, menatap keramaian di dalam.

“Yang kau alami dan lihat malam ini, hanya kulit luarnya saja TJ. Ada banyak hal tentang orang-orang didalam sana yang tak kau ketahui,” kata Felix ringan dan menyesap anggurnya.

“Yeah........ aku juga sudah menduganya,” ujarku dan menoleh padanya, nyengir, “Itu juga ku ketahui dari film.”

You watch too much!” seloroh Felix dan terkekeh, “Bagaimana menurutmu Soni?” tanya Felix dan menunjuk dengan dagunya ke dalam.

Aku tak langsung menjawabnya. Aku lihat Soni sudah berganti pasangan. Kali ini dengan seorang cewek berambut coklat dengan tubuh yang menakjubkan. Entah asli ataukah implant. Dan cewek itu jelas sekali sedang menggodanya, 

“Dia...........benar-benar lain dengan orang yang selama ini aku kenal,” kataku pelan.

“Dalam artian bagus?”

Aku tersenyum tipis mendengar pertanyaan Felix, “Dia tak pernah berhenti membuatku terkagum-kagum, Felix,” jawabku tanpa memalingkan muka.

“Jangan katakan kalau kau cemburu sekarang, sayang. Kau tahu Soni tak akan tertarik pada mereka,” seloroh Felix yang terdengar seperti olokan bagiku. Mendengar itu, aku hanya mampu tertunduk perlahan.

“Maaf......” gumamku lirih.

“Untuk apa?” tanya Felix heran.

You know.................... me and him. Soni bilang, kau yang mengusulkan agar aku dikenalkan sebagai temannya. Supaya aku tak jadi pusat perhatian. Aku tahu, bukan itu saja alasanmu. Kau ingin melindungi Soni juga kan?”  kataku, sedikit terbawa emosi.

Ganti Felix yang tertegun. Kini dia memandangku dengan tertarik, “Well..............bisa kau jelaskan maksudmu?”

Aku tertawa,sedikit gugup, “Melihatmu dan Soni, serta semua yang kalian tunjukkan padaku beberapa hari terakhir, aku tahu bahwa bukan hanya kekayaan yang kalian miliki. Kalian juga memiliki reputasi dan imej terhormat. Aku mengerti kalau kau ingin melindunginya. Dengan munculnya aku dalam gambar kalian, hal itu mungkin akan membuat sedikit...............kekacauan. Am I right?

“Dengan kata lain, kau mengira bahwa aku menganggapmu tidak pantas untuk Soni?”

“Untuk hal itu, kita sepakat, Felix. Trust me. I know it well. Dia layak mendapatkan yang terbaik. An amazing guy like him, berada diluar jangkauanku. Lihat saja itu,” tunjukku ke dalam, dimana Soni sedang berganti pasangan lain.

You think so? My dear, don’t be ridiculous. Aku bahkan tidak peduli kalau kau memiliki dua kepala pada bahumu. Memang apa yang salah dengan kalian?”

Kalimatnya membuatku mengangkat muka untuk memandangnya, “Kau................tak keberatan?”

Ganti Felix yang kini tertawa, “Well.............aku memang terkejut. Dan tidak setiap waktu Soni bisa melakukan itu padaku. Tapi keberatan? Tidak! Aku tidak keberatan.”

“Tapi kami...................”

I know, TJ!” potong Felix, “I know it. Jujur saja, kalau boleh memilih, tentu saja aku ingin Soni menjadi normal seperti cowok kebanyakan.  Percayalah. Aku benar-benar tak ingin dia menempuh jalan yang dulu ku lalui. You know, semua celaan, hinaan, panggilan-panggilan merendahkan, serta pelecehan-pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang yang melabeli diri mereka normal, tapi terkadang bisa luar biasa bejadnya.

But he’s not. Dia jatuh cinta padamu. So what? Aku akan mendukungnya, sepenuhnya. Aku ingin dia mendapatkan apapun keinginannya TJ. Apapun yang bisa membuatnya bahagia. Dia layak mendapatkan kebahagiaan setelah apa yang dia alami selama ini. Sudah terlalu lama dia hidup dalam kepahitan dan kegetirannya. Kau tahu sejarah anak itu kan?” tanya Felix.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

“Kalau dia sudah menceritakannya padamu, itu artinya dia sudah sangat mempercayaimu. Percayalah, tak mudah bai Soni untuk melakukannya. Maka kaupun pasti bisa mengerti. Sekarang sudah waktunya dia bahagia, TJ. Dan aku sungguh-sungguh berharap kau bisa memberinya itu.”

Aku hanya mampu kembali tertunduk, memandang gelas anggur yang kupegang, “Can I? I mean, look at him. Or you! Can’t you see? Kami begitu..............berjauhan.”

“Dasar anak bodoh! Kau hanya perlu melakukan apa yang selama ini sudah kau lakukan untuk bisa membuatnya bahagia!” sergah Felix gemas.

“Huh? Apa?” tanyaku bingung.

“Menyayanginya. Mencintainya! Hanya itulah yang dia butuhkan,” kata Felix keras, sedikit mengagetkanku, “Dia punya segalanya TJ. Kecuali itu. Kau pasti setuju, he has the face, the fame, the money and everything. Semua itu berlimpah padanya. Meski sebagian dia dapatkan karena kesialan yang dia dapatkan. Dan semua itu bisa dia dapatkan. Dan aku yakin, dia juga pasti akan memberikannya padamu. All you have to do is just love him. That’s the only thing he wants or needs.”

Aku hanya bisa menatap Felix yang kini tersenyum padaku, “Dan hanya itulah satu-satunya hal yang ingin kulakukan padanya.”

Mata Felix melembut. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap aliran airmata di wajahku yang tak kusadari ada, “I think I know that now.,” ujarnya pelan. Dia lalu mengulurkan sapu tangan sutra putih. Cepat aku mengusap wajahku dan 
menyusut hidungku.

Thanks.

“Aku tak tahu harus berkata apa pada kalian berdua. Perasaan kalian benar-benar polos, murni dan begitu naif. Begitu banyak hal yang belum kalian ketahui dan alami. Terkadang aku ngeri membayangkan, akan jadi seperti apa kalian kalau mengalami dan tahu apa yang sudah ku lalui di masa lalu.”

“Eh?”

“Sayangku, kau tak berpikir kalau aku terlahir seperti ini bukan? Tampan, kaya, berkelas dan terhormat?” felix tergelak, 

I’ve been there, dear. Aku pernah berada di posisimu. Ragu, bingung, takut di tolak, ditindas, dilecehkan, dihina dan 
yang lainnya. Hanya karena aku gay. Bukan hanya oleh teman-temanku dan masyarakat. Tapi juga oleh keluargaku.
Ayahku menekanku. Memarahiku dan bahkan menghajarku. Ibuku menangisi dan memakiku. Keluarga yang lainpun 
menjauhiku. Hanya Kakaku, Phillipe, ayah Soni yang membantuku. Memberiku uang saat aku butuh, makan ketika aku kelaparan, dan support saat kondisiku memprihatinkan. Dia benar-benar orang yang perhatian, peduli, penuh kasih sayang, hangat dan luar biasa baik.  Hanya dia yang ku miliki saat semua orang menjauh dan tak peduli.

Teman-teman menjauhiku seakan-akan aku penyakit menular. Para orang tua melarang anak-anaknya bergaul denganku, seakan-akan aku akan memperkosa mereka. Masyarakat menghina, melecehkanku adn membenciku. Aku terpuruk pada awalnya. Merasa rendah, hina, bahkan terkutuk. Begitu kotor dan menjijikkan.

Phillipe yang terus adadisampingku. Memberiku dukungan. Meyakinkanku, bahwa aku adalah orang yang hebat. Bahwa aku berharga dan juga berguna. Aku bukan Cuma sekedar sampah. Karena dialah aku bangkit. Pada akhirnya aku sadar kalau aku tak boleh membiarkan orang-orang itu menekanku. Aku tak seharusnya membiarkanku merasa tertekan, rendah dan hina. Jadi aku bangkit. Belajar dan terus memperbaiki diri. Aku harus bisa membuka mata mereka. Bukan dengan jalan kekerasan dan intimidasi seperti yang mereka lakukan padaku, karena itu hanya akan membuatku sama seperti mereka. Sama brengsek dan arogannya. Aku belajar banyak hal, membuat prestasi. Menunjukkan pada semua orang bahwa aku mampu. Bahkan lebih daripada mereka. Pada akhirnya, mereka menoleh padaku.

Dan aku menjadi orang yang kau lihat sekarang. Dihormati, sejajar dengan mereka, dan cukup kaya. Semua orang yang pernah menghinaku, kini justr mengerubungiku seperti lalat. Merekameminta, bahkan  memohon agar aku menjadi anggota club mereka. Teman mereka. Keluarga mereka. Beberapa bahkan memintaku menjadi suami mereka. Can you believe that? Mereka tunduk dan bahkan menjilat sepatuku. “

Felix memberiku senyum sedikit getir, “Terkadang kita memang melihat orang dari bungkus luarbya saja, TJ. Tak bisa di pungkiri kalau ada sebagian orang yang cenderung menghargai baju, daripada siapa yang  memakainya. Mereka lebih menghormati uang dan pengaruh.

Aku mengajarkan pengetahuanku itu pada Soni. Saat pertama kali aku mengambilnya, dia adalah seorang anak yang selalu ketakutan, lemah dan tertekan. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku? Dia, anak dari kakakku, satu-satunya orang yangs selalu mendukung dan membantuku, terlihat begitu mengenaskan karena ulah seorang perempuan sakit jiwa. Jelas aku tak akan membiarkannya hancur seperti itu.

Aku berikan semua yang aku bisa padanya. Hal pertama yang ku lakukan adalah membangun kembali kepercayaan dirinya. Memulihkan kesehatan fisik dan mentalnya. Kami banyak melakukan terapi bersama. Aku berikan semua pengetahuanku padanya. Aku juga yang membuatnya belajar semua hal. Seni, pengetahuan modern, bisnis, bahkan kepribadian. Aku mengajarinya bagaimana menghadapi ketakutan dan traumanya. Aku buat dia melampiaskan semua emosinya dengan belajar berbagai ilmu bela diri. Judo, karate, tinju dan lainnya. Aku mengajarinya bagaimana bersikap dan membentuk citra dirinya di masyarakat. Dia tak boleh terlihat lemah, karena orang-orang hanya akan memanfaatkannya. Dia harus menjadi orang yang kuat, bermartabat dan pintar.

Aku yang membentuknya seperti itu. Dengna imej yang seperti itu, aku membawanya ke lingkungan sosial elit dunia. Dan kini, dia telah belajar bagaimana mengatur perkebunan dan perusahaan yang menjadi miliknya. Tapi............ada saat dimanaaku lupa, bahwa dia hanyalah seorang bocah. Seorang anak yang perlu tumbuh dan berada di lingkungan yang normal. Karena itu dia tinggal di Indonesia. Karena disanalah sebenarnya setan yang harus dia taklukkan. Dia harus bisa menghadapi trauma yang Erma bawa padanya di sana. Dan mengendalikan apa yang sudah menjadi haknya. Kau tahu bahwa dia jadi pewaris tunggal Erma kan? Wanita iblis itu sudah menjadikannya kaya raya. Ironis. Karena aku yakin, nenek sihir itu tak akan mengijinkannya, andai saja dia masih hidup. Dia hanya akan memperlakukan Soni sebagai budak.

Dan........jadilah dia Soni yang kau kenal sekarang.

Tapi aku tahu, jauh di dalam dirinya, semua luka dan trauma yang ditinggalkan Erma dan Ibunya, tak bisa kusembuhkan sepenuhnya. Semua itu akan membekas padanya. Dari luar dia memangorang yang tampan, berkelas, percaya diri, kaya dan berpengaruh. Tapi didalam dirinya, dia msih seorang bocah yang terus ketakutan, kesepian dan rapuh.

Hingga hari ini.............

Dia menjadi manusia yang utuh, karenamu. Aku tak pernah melihatnya begitu ceria. Selalu tersenyum dan tertawa seperti sekarang. Dia.............hidup!”

Felix menatapku dengan pandaangan dalam dan tersenyum tulus, “Aku berterima kasih padamu atas itu.”

Aku hanya mampu menggeleng dan tersenyum tipis seraya kembali mengusap pipiku yang basah, “Kau salah. Justru karena Soni aku merasa utuh. Aku tak melakukan apa-apa. Dia yang melakukan banyak hal untukku.”

Oh dear one, justru itulah letak keindahan hubungan kalian. Can’t you see? Semua yang kalian lakukan tidak ada dasar pamrihnya. Semua kalian lakukan karena kalian saling peduli. Saling menyayangi. Apa yang lebih indah didunia ini selain mencintai dan dicintai?”

Aku hanya mampu diam. apakah Felix sadar besarnya makna yang terkandung dalam kalimatnya tadi? Tuhanku! Salahkah aku bila aku berharap? Desahku dalam hati. Kembali aku hanya bisa mengulas senyum tipisku.

“Felix, kalau boleh aku bertanya, mengapa dulu kau tak mengambil Soni dari awal? Kenapa justru Erma yang mendapatkannya?  Apa waktu itu, kau................tidak menginginkannya?”

“ARE YOU CRAZY?!! Tentu saja aku menginginkannya. I wanted him. Always have. Alaways will! Jangan berpikir kalau aku diam saja. aku sudah melakukan berbagai cara untuk memperoleh hak asuhnya. Tapi.......pikir saja. Satu pihak, seorang wanita sukses, single dengan segudang prestasi dan reputasi tak tercela. Sementara yang lain adalah seorang homoseksual dengan seorang putri tunggal hasil bayi tabung yang dibesarkan oleh Ibunya. Pengadilan mana yang akan memenangkanku?” kata Felix dengan nada getir yang nyata. Jelas sekali dia terluka.

You must be hurt,” gumamku.

Hurt? Itu kata yang terlalu halus untuk menggambarkan perasaankum” kata Felix. Dia tertawa pahit dan mengusap rambutnya dengan sedikit kalut. Dia menghela napas panjang,  “Aku sudah merasa tak suka pada Ibu Soni sejak pertama kali melihatnya. Ada sesuatu tentangnya yang waktu itu membuatku membencinya. Aku juga sudah dengan jelas mengungkapkan ketidak sukaanku pada Phillipe. Tapi tentu saja, Phillipe yang baik hati, polos dan luar biasa naif, tidak mempercayainya. Mereka menikah. Dan...................kecurigaanku terbukti. Phillipe menemui ajalnya ditangan wanita sialan itu. Untungnya, Phillipe cukup cerdas dengan mewariskan bagian perkebunan miliknya ini pada Soni, dengan aku sebagai pengawasnya. Sebenarnya Ayah tersayangku sudah mencoretku sebagai ahli waris, but bless Phillipe, dia menyerahkan kembali hakku ketika Ayah sudah meninggal. Dan kami bekerja sama sejak itu. Jadi ketika dia meninggal, akulah yang jadi pengawas hak Soni, sesuai dengan wasiatnya. Menjaga agar perkebunan kami, tetap berada di tangan keluarga.

Lalu Erma datang. Wanita itu.................bahkan lebih mengerikan dari adiknya, Ibu Soni. Dengan melihatnya saja, aku sudah langsung bertekad bahwa aku tak akan menyerahkan Soni padanya. Aku juga punya kecurigaan kalau dia mengincar bagian Soni di perkebunan. I went through all the way untuk mempertahankan Soni. Tapi.........aku kalah. Dan Soni harus mengalami apa yang sudah kau ketahui. Dia................hancur,” pungkas Felix dengan suara bergetar.

Untuk sejenak, kami hanya diam. Memberi kesempatan untuk melegakan dada kami yang penuh sesak oleh duka. Keheningan yang kemudian menggelayut benar-benar tak menyenangkan. Masing-masing dari kami seolah-olah memberi waktu bagi hati kami yang perih untuk membaik dalam hitungan detik. Tapi nyatanya justru makin menyakitkan. Felix kembali menyesap kembali anggur yang  berada dalam gelasnya.

“Kau tak akan bisa membayangkan bagaiamana luluh lantaknya perasaanku saat pertama kali melihatnya. Saat aku mengambilnya dari rumah Erma. Dia meringkuk di sudut kamar. Pucat, lemah dan begitu..............ketakutan. mulanya dia tak mengenaliku. Saat dia tahu aku yang datang, dia memelukku begitu erat. Saking eratnya hingga dokter harus menyuntiknya dengan obat penenang agar bisa lepas dariku.

Butuh waktu sekitar setahun  bagi Soni untuk memulihkan mentalnya. Kami bersama-sama menjalani terapi yang sangat menyakitkan. Chantal dan Evelyn banyak membantu, meski Soni lebih sering menolak mereka. Aaahhh TJ. Can you imagine what I felt? Satu-satunya anak dari kakakku, satu-satunya keluarga dekatku yang tersisa, terkoyak seperti itu. Aku kira apa yang aku alami dulu itu sudah sangat bruk. Tapi Soni..................dia harus emnerima lebih dari itu di usia yang masih sangat muda. Dia............begitu menyedihkan.”

Lagi, kami sama-sama terdiam, meresapi rasa perih yang merambati perasaan kami dengan pelan.

“Felix..” panggilku kemudian saat sesuatu melintas dibenakku, “.........apakah menurutmu, hal itu yang membuat Soni menjadi.......” aku tak sanggup meneruskannya.

“Gay?” tanya Felix sembari tersenyum, “I don’t know. Aku tak punya bayangan sama sekali kalau Soni gay. Soni tak pernah menunjukkan ketertarikan pada orang lain sebelumnya. Either to a boy or a girl. Dia cenderung menjadi orang yang dingin, tak acuh dan tertutup.”

Yeah! Aku tahu itu, batinku, “Aku sendiri juga tak pernah memahami kenapa aku begini. Kau sendiri, pernah bertanya-tanya, kenapa kau.................berbeda?”

“Maksudmu kenapa aku bisa jadi gay?”

Aku menganggukan kepala.

Felix tertawa, “Ok. Aku bukan seorang ahli atau ilmuwan, tetapi bukankah normal atau tidaknya sesuatu itu merupakan hal yang relatif dan cenderung berubah? Poliandri bagi kita mungkin aneh dan gila. Tapi tidak bagi masyarakat Tibet. Poligami di dunia modern dianggap aneh, padahal nyaris semua Raja di masa lalu melakukannya. Setiap orang, negara dan juga golongan memiliki standart normal yang berbeda. Dan itu terus berubah seiring waktu.

I’m gay. Dan bagiku dan juga teman-temanku yang gay, kami normal. Kami hidup sesuai dengan cara kami. Dan kami rasa, kami orang-orang yang baik. Kami tidak membunuh, merampok, memaksa ataupun membebani orang lain. Untuk masalah seks, kami juga tidak memperkosa partner kami. Kami melakukannya dengan orang yang kami sukai, atau yang mau. Tanpa paksaan. Kami sama-sama menginginkannya. Tak ada pihak yang dirugikan. Sama dengan pasangan heteroseksual. “

Aku terdiam sejenak, merenungkan ucapannya, “Lalu.............” aku melanjutkan tanpa mampu menahan diri, “........pernah berpikir tentang Tuhan atau..........dosa?” tanyaku pelan.

Felix tersenyum mendengarku, “Aku percaya Tuhan, TJ. Aku percaya ada kekuatan yang besar di dunia ini. Kekuatan yang  mengatur dan memberkati kita, serta mengendalikan kehidupan kita. Kekuatan yang menciptakan alam dan mengendalikan nyawa manusia. Dan aku percaya bahwa kekuatan itu, menginginkan kita untuk hidup denga baik. Saling membantu dan menghargai, dan juga menyayangi. Itulah yang coba aku lakukan.

Setahuku, itulah inti yang diajarkan oleh semua agama. Dan setahuku juga, semua agama tidak memaksa para penganutnya untuk mengambil jalan yang mereka tunjukkan. Agama adalah tuntunan. Mereka memberitahu kita jalan hidup, berikut semua konsekuensinya. Kita, memiliki kebebasan dalam memilihnya. Bahkan jika kita memilih untuk tidak mengakui apa yang agama  dan para Nabi mereka itu sampaikan.”

“Tapi agamaku mengajarkan........”

“Aku tidak mengatakan kalau agamamu salah,” potong Felix, masih dengan senyumnya, “Percayalah pada apa yang kau percayai. Aku tahu betul dan yakin bahwa Isa, Muhammad, Abraham ataupun Gautama adalah orang-orang hebat. Mereka telah berhasil mengubah wajah dunia. Mereka adalah orang-orang yang membawa pesan dari langit. Pesan yang mengatakan bahwa kita harus menjadi makhluk yang baik, berguna dan tidak merugikan orang lain. And that’s what I’m trying to do.

Aku berusaha untuk menjadi orang baik sesuai kemampuanku. Menghargai orang lain dan tidak menyakiti mereka. I’m not gonna steal, hurt or kill anyone. Kenyataan bahwa aku adalah gy adalah sebuah fakta yang real. Untuk seks dan pasangan hidup, aku menginginkan pria. Itu benar. Tapi aku tidak memaksa mereka untuk melakukannya denganku. Kami melakukannya karena itu adalah keinginan kami bersama.

Jika aku bersalah, maka biarlah. If I’m cursed, then so be it. Tapi hanya Tuhan sendiri yang berhak memberi label itu padaku. Hanya Tuhan yang berhak melakukannya. This is my way. This is my life. And this is how I want it to be.
Aku sudah tidak mau ambil peduli apa yang dikatakan orang-orang di belakangku. Let them say what they want to. Aku tak akan membiarkan apa yang mereka katakan atau lakukan, membuatku depresi, merasa berdosa atau terkutuk seperti dulu. No! I’m not gonna let it happen again. Kalau aku berdosa, maka biarlah itu menjadi urusanku dengan Tuhan.
Tapi satu hal yang aku percaya. Tuhan Maha Tahu segalanya. Dia Maha Besar dan Maha Benar. Tuhan tak pernah dan tak akan pernah salah. Dan Dia yang menciptakan aku. Dia yang membuatku terlahir seperti ini. Maka aku, bukanlah kesalahan. Yang  bisa aku katakan padamu adalah, sayangi dirimu sendiri. Hargai dirimu. Jangan pernah merasa cacat ataupun hina sepertiku dulu. Dan jangan pernah membiarkan orang lain membuatmu merasa begitu. Terimalah dirimu apa adanya. You are what you are. Kalau kau tak pernah melakukannya, maka tak akan ada orang lain yang bisa. It’s all in you.

Ada sedikit kelegaan yang mengalir di dadaku saat mendengar kata-kata Felix. Aku menarik napas panjang, 

“Kau...........sungguh-sungguh tak ingin menikah dan memiliki keturunan?” tanyaku lagi. Terus mencoba untuk meraih kelegaan yang lebih besar.

“Kau lupa aku punya Chantal?’ tanya Felix mengingatkanku sembari tetap tersenyum, “Menikah dengan 
wanita................aku belum pernah menginginkannya. Bahakn meski itu dengan Evelyn,” katanya lagi.

Aku memangkap kesedihan yang dalam dari caranya mengatakan kalimat tadi . tapi aku juga menangkap campuran rasa sayang ketika dia menyebut nama Evelyn. Untuk sejenak, dia diam dan hanya menarik napas panjang.

“Aku dan Evelyn berteman akrab. Sangat akrab. Meski dia tahu aku gay.............hal itu tidak berpengaruh pada Evelyn. Dia..................jatuh cinta padaku. Sayangnya, aku benar-benar tak bisa menyayangi Evelyn seperti yang dia inginkan. Jangan salah. Aku sayang padanya. I’d do anything for her. To make her happy. Tapi untuk mencintainya seperti yang dia inginkan.........I can’t. Yang menyedihkanku, Evelyn dengan lapang dada bisa menerimanya.

Sama sepertiku yang menutup hidupku untuk wanita, Evelyn menutup hidupnya untuk pria lain. Sudah berulang kali, dan sudah berbagai cara aku tempuh untuk meyakinkan Evelyn, agar dia melanjutkan hidupnya. Untuk tidak menyia-nyiakan hidupnya. Tapi Evelyn, tetap pada pendiriannya. Dia bilang bahwa dia tidak menuntut apapun dariku, karena dia tahu bagaimana aku. Hanya ada 2 hal yang dia inginkan dariku. Pertama, dia ingin agar aku tetap membolehkannya untuk berada dalam kehidupanku. Dan aku tentu saja mengabulkannya dengan mudah. Karena aku juga tak ingin jauh darinya. Dan yang kedua, agar aku memberinya seorang anak. Dan.................tentu saja aku kembali tak bisa menolaknya. Maka lahirlah Chantal. Melalui inseminasi buatan.

Mereka berdua adalah dua orang paling berarti dalah hidupku. Selain Soni tentu saja. I’d do everything for them all. Kalau kau bertanya apa aku tak ingin menikah, jawabnya adalah tentu saja aku ingin. Aku masih mencari orang yang tepat. Yang jelas, aku tak akan bisa melakukannya dengan wanita. Karena aku tak bisa. I know exactly what and who I am. Dan jangan berpikir kalau aku melakukannya hanya berdasarkan dorongan napsuku saja. I’ve been thinking a lot. Dengan semua yang terjadi, aku, Evelyn, Chantal dan juga Soni. Kini aku bisa menerima kenyataan bahwa aku tak bisa.”

“Tak pernah merasa bersalah atau menyesal pada Evelyn dan Chantal?”

“Pada awalnya, selalu. Berulang kali aku bertanya, marah, bahkan mengutuk diriku sendiri. Dengan adanya wanita seperti Evelyn, kenapa aku masih juga tak bisa berubah? Tapi dorongan yang kurasakan berasal dari dalam diriku, TJ. Bukan hanya pemenuhan kebutuhan hasrat belaka. Dan aku akan selamanya begitu.”

Ada kembali sedikit rasa ringan dalam dadaku yang membuatku sedikit lega. Sadar bahwa aku tidak sendiri. Bahwa aku bukannya manusia dengan pemikiran yang lain. Selama ini, ada rasa takut, cemas dan juga bingung yang sering bergumul dalam diriku. Rasa yang semakin jelas kurasakan saat Soni hadir dalam hari-hariku. Selama ini, oikiran alam bawah sadarku menuntut penjelasan. Mencari  jawaban akan jati diriku. Apa yang diucapkan Felix adalah apa yang selama ini menjadi bebanku. Aku selalu merasakannya. Semua ketakutan, keresahan dan kecemasan seta keraguan itu menggunung dan bertumpuk begitu lama, dan aku hanya memendam dan mencoba untuk tidak mengacuhkannya. Aku tak pernah memiliki teman untuk membicarakannya. Tak ada yang bisa ku ajak untuk berdiskusi. Tidak Wina, sahabat terbaikku, atau anggota gank-ku yang lain. Bahkan juga tidak Bunda, wanita yang melahirkanku. Aku selalu takut akan penghakiman dan penilaian mereka nantinya. Bahkan dengan semua dukungan yang selama ini mereka tunjukkan. Aku begitu ngeri kalau nantinya akan mengecewakan mereka dengan kebenaran yang ada pada diriku. Entah sudah berapa lama aku merasa kesepian, sendiri. Tanpa ada yang mengerti.

Hingga kini aku bertemu Felix.

Dia begitu yakin dan percaya diri. Berdiri tegak dengan apa adanya dia. Dia sudah menemukan jalan yang dia yakini. Aku benar-benar iri padanya. Andai saja aku memiliki sedikit saja keyakinan yang dia punya.

There you are! Aku sudah mencarimu kemana-mana!”
 
teguran itu datang dari Soni yang muncul dari balik pintu yang ada dibelakang kami. Dengan tersenyum dia melangkah emndekat. Namun ekspresinya berubah dalam sekejap saat melihatku dengan jelas.

“Ada apa?” tanya Soni cemas. Tangannya terulur mengusap pipiku yang ternyata sudah kembali basah.

Aku segera mengusap kembali wajahku dengan sapu tangan yang tadi dipinjami oleh Felix.

“Apa yang Felix katakan padamu?” desak Soni dan dengan segera berpaling pada Soni dengan wajah yang menggelap, “Felix, I told you..............”

“Son!” potongku cepat, kaget mendengar nada bicaranya yang sedikit naik karena gusar, “Felix tidak melakukan apa-apa. Dia justru membantuku.”

“Tapi..............”

He did nothing!” tegasku dan meraih satu tangannya untuk menenangkan, “I swear. Dia justru membantuku. Kami hanya berbicara tentang masa lalu dan.................aku hanya terharu.”

Dia diam sejenak. Memamndangku seksama dengan pandangan menyelidik, “Really?

Swear! Cross my heart!” tegasku meyakinkannya. Soni memandanku untuk beberapa lamanya sebelum menarik napas panjang.

“Kenapa sih kamu begitu cengeng?” desahnya pelan dan menarikku. Dia memelukku erat dan mencium ujung kepalaku. Aku memejamkan mata. Menikmati sepenuhnya dekapan Soni. Bernapas dalam-dalam, memenuhi rongga dadaku dengan harum wangi floral tubuhnya yang telah akrab. Tuhanku! Aku benar-benar menyayanginya. Ada kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Hanya bersama Soni aku merasakannya. Dan kenyamanan itu terasa begitu berlipat ganda kini, saat aku berada dalam dekapannya seperti ini.

Fakta tentang masa laluna memang membuatku sadar bahwa dia bukan orang yang sempurna. Namun hal itu ustru membuatku makin menyayanginya.  Aku sudah tersenyum saat dia melepasku.

“Lain kali kau harus mengurangi cengengmu.”

Aku  tertawa mendengarnya, “Teach me how,” balasku.

Soni berpaling pada Felix yang sedari tadi tak bersuara. Dan kali ini, giliran aku dan Soni yang jadi tertegun melihat Felix yang berdiri diam dengan pipi basah, “Felix....”

Felix hanya mengangkat tangannya untuk mencegah Soni berbicara. Pelan dia mendekat dan memegang wajah Soni, “Are you happy?

Soni tersenyum dan mengangguk, “More than I’ve ever felt before.

Felix mengembangkan tangannya. Soni tertawa kecil dan menyambutnya. Mereka berpelukan erat.

“Kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu mengatakan itu padaku?’ bisik Felix pelan. Dan untuk sesaat pandangan Felix bertemu denganku. Ada begitu bnayak kata-kata terwakili dari sorot matanya. Aku bisa memahaminya. Naluriku bisa langsung menerjemahkan dalamnya tatapan Felix. Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepalaku untuk menjawabnya.

“Nah, sebelum para tamu bingung karena tidak ada tuan rumah yang muncul, kita harus kembali ke dalam. Ayo!” ajak Felix setelah melepas pelukannya. Dia menggandeng kami berdua dikedua sisinya.






Dalam perjalanan pulang, aku tak banyak bicara. Aku lebih banyak berpikir akan semua yang telah aku bicarakan bersama Felix. Terutama tentang aku dan Soni. Aku sependapat bahwa Soni berhak bahagia setelah semua yang telah dia alami. Dia layak untuk dicintai. Sekarang pertanyaannya adalah, apa aku bisa membahagiakannya?

Aku berpaling pada Soni yang sedang menyetir disampingku. Menelusuri wajahnya dengan seksama. Ada perasaan hangat yang kurasakan dan hampir-hampir tak tertahan. Perasaan hangat yang begitu kuat, yang emndorongu untuk meraih wajah itu, memebelainya, menciumnya dan mengatakan bahwa aku menyayanginya. Soni menoleh dan tersenyum padaku sekilas.

“Cape ya?” tanyanya pelan sembari memberiku senyuman.

Aku hanya bergumam lirih. Yah, aku benar-benar menyayanginya, desahku dalam hati. Pikiran itu terus berputar-putar di benakku hingga kami tiba dirumah Soni. Bahkan saat kami sudah berada dalam kamar.

Soni melepas jas dan melemparnya ke pembaringan. Lalu membuka kancing rompinya.

“Pheeewww...........cape juga. Dansa kesana kemari. Padahal aku ingin ngobrol saja denganmu,” gerutunya dab mendekat ke perapian untuk menyalakannya.

Aku hanya mengulas senyum simpul mendengarnya dan melepas jasku, “Ternyata nggak disini ataupun di Indonesia, kamu tetep saja banyak yang nguber.”

“Nguber apaan,” gerutu Soni lagi. Dia sudah berdiri didepan cermin besar berukuran  2 meter yang ada disamping closet, “By the way, kamu tadi ngomongin apa aja dengan Felix?’ tanya Soni ingin tahu dan melihatku melalui cermin sembari melepas dasinya.

Aku yang berada tak jauh dibelakang Soni, hanya diam dan menatap bayangannya. Pandangan kami bertemu. Sekali lagi aku menelusuri wajahnya. Bnetuk tubuhnya. Bahunya yang lebar. Dadanya yang bidang. Serta lengkungan mengecil pada pinggangnya. Bahkan saat aku menarik napas panjang, aku kembali bisa menghirup harum tubuhnya yang biasa. Dan sekali lagi, ada kehangatan yang kurasakan mengalir di sekujur tubuhku.

Aku kembali menatap wajahnya. Dan pandangan kami kembali bertemu. Dia diam memperhatikanku.

I love you,” bisikku lirih. Kalah oleh desakan dalam dadaku. Kalimat itu adalah satu-satunya yang bisa mewakili apa yang aku rasakan saat ini. Dan aku mengucapkannya dengan sepenuh hati.

Soni tampak sedikit tertegun. Dia berbalik dan menatapku. Lalu perlahan, senyum lebar merekah di wajahnya. Efeknya begitu besar, hingga aku tak sanggup melakukan apapun. Hanya diam di tempatku bediri. Itu senyum lebar yang pertama kali ku lihat di wajahnya.

Tanpa dapat ditahan, dia tertawa senang dan mendekat. Begitu berada di hadapanku, dia mengulurkan tangan kanannya dan mengusap sisi kiri wajahku dengan lembut, “Kamu sadar nggak, kalau tadi adalah pertama kalinya kau mengucapkan kalimat itu padaku?”

Aku menarik napas panjang. Mengulurkan kedua tanganku untuk meraih wajahnya. Aku harus berjinjit untuk bisa mencium bibirnya dengan lembut, “I love you. So much,” gumamku berulang kali seraya kembali menciumnya.

Soni tertawa kecil dan membalas ciumanku. Dia memeluk pinggangku, untuk kemudian membawaku ke tempat tidur. Sesaat kemudian dia menarik wajahnya dariku dengan ekspresi heran, lalu mendecak, “Kok nangis lagi?”

“Tangis bahagia gak kehitung,” elakku.

“Dasar!” gerutu Soni dan mengusap pipiku. Dia lalu kembali menciumku. Kian lama, ciuamannya jadi kian intens. Lidahnya turut bermain dengan ahlinya. Sekali lagi, alarm di otakku langsung berbunyi nyaring, membuatku mati-matian untuk mengembalikan akal sehatku.

“Son...........” desahku dan menahan dadanya begitu ada kesempatan.

Sepertinya Soni mengerti, karena sesaat kemudian dia menarik dirinya dariku perlahan, “I’m sorry. Kau pasti lelah. Kalau begitu, kita harus ganti baju dan tidur.”

Thanks,” kataku atas pengertiannya. Akupun bangkit dan menuju kamar mandi.

Saat aku sedang menyikat gigi didepan kaca tolet, Soni menyusulku. Dia sudah mengenakan piyamanya. Sambil tersenyum geli melihatku yang belepotan busa pasta gigi, dia mengambil sikatnya.

“Masih gak mau kasih tahu apa yang kamu omongin ama Felix tadi?” tanya Soni dan mulai menyikat giginya di sebelahku.

“Kan udah bilang tadi? Beneran bukan apa-apa kok. Cuma ngobrol bentar dan saling tukar pendapat. Itu aja.”

“Okay,” sahut Soni, sedikit tidak jelas karena sedang menyikat gigi.tapi dari nadanya, kentara sekali kalau dia tidak percaya. Aku hanya menggerutu pelan karenanya.

“Tapi........dia sayang banget sama kamu,” lanjutku pelan dan menatap bayangannya di cermin.

Soni menatapku juga dari cermin. Sejenak kami hanya beradu pandang. Dia lalu membasuh mulutnya di wastafel dan berpaling padaku, “Aku tahu. Sebelumnya, hanya dia satu-satunya orang dekat yang ku punya. Now.............I have you.”

Aku kembali tersenyum mendengarnya, hingga kemudian mataku tertumbuk pada bibirnya. Setelah menyikat gigi, bibirnya jadi keliahtan lebih merah dan basah. Aku mendesah dalam hati. Sepertinya aku tak akan pernah puas dengan dirinya. Siapa yang akan tahan dengan cobaan seperti ini? Perlahan, didorong oleh keinginan hati yang kuat, aku mendekat. Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya dan berjinjit untuk menciumnya. Bibirnya basah dan manis.

Soni mengerang lirih, membuatku sadar untuk menahan diri. Aku menjauhkan diriku.

“Kamu sedang mengujiku ya?” gerutu Soni sedikit kesal.

Aku hanya nyengir iseng, “That’s it fot tonight. Karena kita harus beristirahat,” kataku. Aku meraih bahunya dan membalikkan badannya, “Sekarang bawa aku ke tempat tidur,” kataku lagi dan dengan cepat melompat ke punggungnya dengan kedua tangan berpegang pada lehernya.

Soni tertawa dan kemudian dengan setengah berlari memanggulku ke kamar. Dia menjatuhkan tubuhku ke kasur, membuatku sedikit terpekik kecil.

“Besok gimana?” tanyaku dan membetulkan selimut.

“Kita kembali ke Paris. Besok malam tahun baru kan? Tanggal 1 kita harus kembali ke Indonesia,” jelas Soni dan ikut naik.

Already?

“Kamu gak inget? kita udah disini hampir seminggu.”

Aku menggeleng, “Engga. Cepet juga ya? Gak kerasa,” gumamku setengah melamun.

“Karena besok hari terakhir di Paris, ada yang ingin kamu lakukan?”

Let’s not waste it. Bawa aku ke tempat-empat yang belum kita kunjungi.”

Deal! Aku akan membawamu keliing Paris lagi. Kita besok pergi pagi-pagi. Felix sepertinya harus mengurus sesuatu. Jadi kita tak mungkin bisa menemuinya,” kata Soni.

“Kita tidak berpamitan?”

“Kita bisa meneleponnya nanti,” sahut Soni lagi. Aku mengangguk menyetujuinya. Felix mungkin memang memiliki urusan penting yang harus dia bereskan. Soni lalu mendekat untuk mengecup bibir dan keningku sekilas.

Good night,” katanya pelan dan mematikan lampu.

Aku tak menyahut. Kata-kata Soni tadi kembali terngiang di benakku. Hari terakhir di Paris. Ugh!! Aku pengen hari-hari seperti ini terus berlanjut. Aku ingin tetap disini bersama Soni. Aku belum ingin kembali ke Indonesia. Pelan aku beringsut mendekat ke tubuh Soni.

“Son............” panggilku pelan dan menyurukkan kepalaku di lehernya.

“Ada apa?” tanya Soni yang jadi sedikit kaget.

“Hmmm...........aku Cuma pengen tidur gini aja,” sahutku pelan dan melingkarkan lenganku ke dadanya dan semakin menenggelamkan wajahku diantara rahang dan lehernya. Aku mencium lehernya lembut.

“Dasar.....” gerutu Soni. Dia menyelipkan lengannya ke bawah leherku dan memelukku, “Kadang aku piir kamu tuh sengaja menggodaku ya?”

Aku tertawa kecil, “Aku suka harum tubuhmu. Seperti wangi pinus yangs segar. Mengingtakanku pada harum segar daerah dataran tinggi. Beli dimana? Merknya?”

“Di Paris. Sebenarnya bukan parfum kebanyakan. Ini hasil ramuan seorang ahli aroma therapy yang menggabungkan berberapa essence floral. Karena suka, aku selalu memesan racikan yang sama. I’ll buy you tomorrow if you want. For now, tidurlah. Besok kita harus kembali bermotor ke Paris.”

Aku Cuma bergumam tak jelas dan menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma Soni yang aku suka.