Translate

Tampilkan postingan dengan label soni TJ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soni TJ. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Mei 2017

THE MEMOIRS, A Gay Chronicle BAB 18





BAB 18


Kami tiba di bandara Charles de Gaulle pada jam 8 pagi waktu setempat. Sama seperti keberangkatan, kami turun di jalur khusus. Aku tak tahu bagaimana Soni berurusan dengan birokrasinya. Seingatku, banyak hal yang harus diurus ketika kita berkunjung ke luar negeri. Visa, pemeriksaan di bandara, petugas pabean dan lain-lain. Setidaknya itu yang aku lihat di Tv. Tapi Soni membawaku dengan santai turun dari pesawat menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sebuah hanggar.

Udara Paris di bulan Desember benar-benar dingin menusuk. Bumi tampak berkilat basah. Aku merapatkan jaket yang Soni pinjamkan kepadaku dan cepat-cepat mengikutinya. Ada seorang pria yang menunggu kami di dekat mobil berwarna hitam itu. Dia membuka pintu untuk Soni, lalu buru-buru kembali masuk ke tempat sopir.

“Mobil siapa?” tanyaku heran.

“Agen. Asistenku yang menyewanya untuk kita,” ujar Soni yang menahan pintu untukku. Dia mempersilahkan aku masuk dengan gerakan kepalanya. Aku hanya mendengus dan menurutinya masuk ke mobil.

Good morning gentlemen. Where should I take you?” tanya sopir itu dengan aksen Perancis-nya yang kental.

Hôtel de Caeza, s’il vous plait!” kata Soni membuatku bengong.

Dia tadi ngomong pake bahasa Perancis? Gak salah denger kan gue? pikirku takjub. Dia melakukannya dengan santai seolah-olah dia sudah biasa menggunakan bahasa itu.

Oui monsieur,” jawab sopir kami langsung dan  segera menjalankan mobil, “Est-ce que c’est la première fois vous visitez Paris?” taya sopir itu lagi.

Pas pour moi. Mais c’est le premier temps lui arrivé ici.

Aaaahhh okay. Vous devez montre la belle de Paris.

Bien Sûr.

Vous allez aimer cette ambiance. Tout le monde aimer Paris.” kata sopir itu dengan mata yang menatap padaku. Aku kembali cuma bengng cengo.

Dia ngomong ma gue? Pikirku bingung.

Tu as raison!” kata Soni dam tertawa kecil.

Vous parler bien français, monsieur.

Merci beaucoup.

Dan kembali aku bengong sebengong-bengongnya, menatap Soni dan sopir itu bergantian. GILA!!!! Soni bahasa Perancisnya ngeces abis! Bahasanya benar-benar bagus dan halus.

“Ada apa?” tanya Soni yang melihatku masih keukeuh bengong dengan mulut nganga gak jelas.

“Kamu..............bisa bahasa Perancis?” tanyaku takjub.

“Lho? Emang kenapa? Aneh?” tanya Soni balik dengan senyum terkulum.

“Eng-engga juga sih,” sahutku pelan, “Tadi ngomong apa sama dia?”

“Bukan hal yang penting kok. Dia tadi cuma nanya, apakah ini pertama kalinya kita ke Paris. Aku jawab iya untukmu. Dia juga bilang kalau aku harus menunjukkan keindahan kota ini padamu. Dia bilang semua orang akan suka Paris.”

“Terus tadi bilang makasih buat apa? Merci artinya terimakasih kan?”

Soni tersenyum dan mengangguk, “Tadi dia bilang bahasa Perancisku bagus.”

“Yeah. And he’s right. Aku nggak tahu kalau kamu bisa bahasa Perancis dengan bagus begitu. Bisa ajari aku? Dari dulu aku pengen banget bisa ngomong pake Bahasa Perancis.”

Assurez-vous,” jawab Soni dengan senyumnya.

What?

Sure...” jawabnya lagi dan terkekeh pelan.

Merci,” kataku lagi membuat Soni kembali tertawa kecil dan mengacak rambutku dengan gemas.


Mobil yang kami naiki kemudian berhenti didepan lobby sebuah hotel bernama Ceazar. Sebuah bangunan megah berarsitektur Romawi kuno, meski lobby hotelnya jelas bernuansa Eropah dengan warna-warna pastel hangat.

 Bienvenue à Paris, Messieurs! Je vous souhaite tout le bonheur ici! Bonne Journée!!” teriak si sopir yang kemudian meninggalkan kami.

Merci!” jawab Soni dan melambaikan tangan untuk membalasnya. Dan begitu kmai berbalik, kami sudah disambut oleh seorang pria berusia empat puluhan dengan setelan jas resmi yang tampak rapi dan resmi. Kehadirannya yang hampir tak terdengar sedikit mengagetkanku. Tapi Soni sepertinya sudah mengenalnya, karena lagi-lagi dia menampilkan senyumnya pada pria asing di depan kami.

Aah monsieur Duainne. C’est un plaisir de vous rencontrer encore.

Monsieur Bennet. Est-ce que ma chambre déjà prête?

Bien sûr. Vas-y..” jawab pria itu dengan senyum ramahnya. Dia melambai pada dua orang bellboy yang segera menghampiri kami.

“Ayo TJ!” kata Soni mengajakku yang sedikit terpana dengan keakraban mereka berdua.

“Kamu sering menginap disini ya?” tanyaku langsung dan mengikutinya. Kami lalu masuk ke sebuah lift bersama dua orang bellboy tadi.

Soni mengangguk, “Hotel ini memang tidak sebesar Ritz. Tapi hotel ini tenang dan nyaman. Dan juga berada di daerah yang aman dan bersih. Aku suka disini. Aku selalu menginap disini tiap kali pergi ke Paris.”

Aku diam. Tiap kali. Dan pasti itu lumayan sering, pikirku. Sampai-sampai dia bisa begitu akrabnya dengan pria tadi, yang menurut perkiraanku adalam manager hotel ini.

Sesaat kemudian lift terbuka. Kami mneyusuri sebuah lorong yang lantainya dilapisi oleh karpet tebal yang empuk hingga langkah kami tidak menimbulkan suara. Dinding-dinding hotel diwarnai dengan warna pastel dan ada beberapa lukisan jaman Renaissance yang tergantung. Entah asli atau replika. Kami melewati beberapa pintu yang hanya diberi tanda dengan nomor yang tercetak dalam tinta emas timbul.

Kami berhenti di ujung lorong, di depan sebuah pintu bernomor 72. Kami masuk setelah pintu dibuka oleh bellboy dengan sebuah kartu.

Soni benar!!

Aku bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari dalam kamar hotel yang berwarna peach ini. Karpet tebalnya, cat dindingnya, lukisan-lukisannya dan juga furnitur-nya. Semua memancarkan warna-warna hangat musim gugur. Diruang tengah ada seperangkat sova besar berwarna gading yang tampak empuk dan lembut, berhadapan dengan satu set lengkap home theatre. Aku pergi meninggalkan Soni yang sedang berbicara dengan bellboy itu dalam bahasa Perancis. Aku ingin melihat tempat tidurnya. Dan saat aku mencapai tempat tidurnya, aku tak bisa menahan desahanku. Tempat tidurnya terbuat dari kayu berukir jaman pertengahan dengan kasur empuk besar dan terlihat nyaman. Bantal-bantal yang tersusun rapi dan menggoda itu rasa-rasanya mengeluarkan suara membujuk, memintaku untuk membaringkanku di atas mereka setelah perjalanan panjang dalam pesawat.

Hingga kemudian aku menyadari sesuatu.

Hanya ada satu ranjang disini. Ranjang besar dengan 4 tiang penyangga, kelambu tebal mewah serta bantal-bantal empuk menggoda. Tak ada ranjang lain. Meski ranjang itu besar dan mungkin cukup bila ditiduri oleh 4 orang dengan ukuran tubuh kami, tapi tetap saja. Begitu Soni mengikutiku, aku langsung melotot padanya dengan 2 tangan di pinggang.

What?” tanya Soni bingung.

“Satu ranjang?” tanyaku balik dengan nada menuntut. 

“Ooh itu. Aku ingat perkataanmu. Kamu sendiri kan yang bilang, kalo kamu jarang bisa tidur ditempat asing. Waktu di perkebunan teh, ingat? Jadi aku pikir, akan lebih baik kalau kita tidur bareng aja. At least, kalau kamu gak bisa tidur, aku bisa nemenin kamu.”

Ide yang menarik.dan sangat menggoda. Tapi aku sadar akan besarnya bahaya yang ada disana. Soni yang tak menyadarinya bisa saja santai. Tapi aku?!!

“Son...a-aku ra-rasa...”

“Sudahlah. Kenapa sik? Kasurnya gede juga kan? Hitung-hitung irit. Kan lumayan, daripada menyewa dua kamar,” cengirnya. Argumen yang tak akan bisa aku sangkal. Aku tak bisa menemukan sanggahan yang tepat untuk melawannya. Lagipula, aku tak bisa membayangkan mahalnya sewa kamar di hotel ini. Kita berada di Paris. Bukan puncak Bogor. Aku tahu kalau aku tak punya pilihan lain seain menurutinya. Duh! Andai saja dia bisa paham kenapa aku mengangkat topik tadi, pikirku sedikit muram. Aku mulai mengkhawatirkan kewarasanku.

“Kita harus membeli beberapa baju untuk kita pakai dan beberapa keperluan lain. Aku sudah meminta Bennet menyediakan mobil sewa untuk kita. Tapi kita sarapan dulu ya? Atau kau ingin mandi dulu? Lagipula toko-tokonya juga masih belum buka,” tawar Soni.

“Mandi!” jawabku cepat.

“Baiklah. Kamu mandi dulu. Aku akan kebawah sebentar, ok?” katanya dan berlalu dengan senyumnya.

Mandi dengan air hangat sedikit menenangkanku. Dan aku tak tahu apa merk yang diginakan oleh toiletries hotel ini, tapi shampoo dan sabunnya memiliki harum yang aku suka. Hingga tanpa sadar, aku sudah menghabiskan 20 menit lebih di kamar mandi. Dan begitu keluar, aku mendapati Soni yang telah menunggu sembari nonton tv.

Having fun in the bathroom?” godanya dengan senyum simpul.

Aku hanya tersenyum malu mendengarnya. Dia pasti berpikir kalau aku tipe-tipe yang lelet kalau mandi. Tapi karena tak bisa menyangkal, aku hanya mengangguk untuk menjawabnya.

Glad you could have fun in there. Kau tidak menghabiskan sabunnya kan?” tanya dia lagi masih dengan senyum simpul yang mulai membuatku berpikir.

“Masih kok.lagipula.............”

Tunggu sebentar!! Maksud dia ‘fun’ di kamar mandi tadi jangan-jangan dia mikir kalau aku masturba...

“HEI!!!!! AKU CUMA MANDI!!!!” teriakku pada Soni yang menghilang di balik pintu kamar mandi, menyisakan tawanya. Sial!!! rutukku dalam hati, dongkol. Harusnya tadi aku paham apa yang dia maksud. Senyum simpulnya itu jarang sekali terlihat. Jadi aku tak berpikir aneh.

Dan ketika dia keluar dari kamar mandi, aku masih dongkol dengan tuduhannya. Tapi Soni pura-pura tak melihatku yang manyun berat. Dia malah langsung mengajakku untuk turun ke restoran di bawah. Bennet sudah menyiapkan meja kami untuk sarapan.

Kurang dari 1 jam kemudian, kami sudah melaju di jalan raya. Aku tak henti-hentinya memperhatikan sekeliling kami. Kagum akan gabungan antara gedung-gedung tua zaman Renaissance dan modern. Kedongkolanku pada Soni kontan menguap. Dan sebelum aku menyadarinya, Soni sudah menghentikan mobil sewaan kami.

Dia membawaku ke sebuah butik bernama Jean La Mode. Sebuah butik yang tampak sederhana dari luar namun toh tertata dengan begitu bagusnya di dalam. Butik ini memiliki koleksi pakaian yang ternyata sangat lengkap. Baju-baju musim dingin yang dipajang sangat spektakuler menurutku. Juga berkelas dan mencakup berbagai usia. Baju-baju anak mudanya mencerminkan spirit muda yang elegan dan elit, namun tetap casual dan sporty. Di bagian lain, aku bisa melihat baju-baju yang terlihat lebih resmi dan lebih pantas dipilih oleh kalangan eksekutif.

“Pilih mana yang kamu suka, ok?” kata Soni sembari melihat-lihat. Aku tak menjawa. Hanya diam dan mengikuti dibelakangnya. Beberapa saat kemudian dia baru ngeh padaku yang menguntitnya dalam diam, “Kenapa?” tanya Soni sedikit bingung.

Aku menggeleng rikuh, “A-aku gak beli. Harganya pasti gila-gilaan dan....”

“Hei!! Aku tak suka bicara soal uang, ingat? Kamu pikir kamu akn menggunakan jaket itu sepanjang waktu? Baju-baju yang kamu bawa dari Indonesia bukan diperuntukkan bagi musim dingin di Eropah. Kau akan kedinginan.”

“Son, ini Paris! Kalo sampe keabisan uang kita...”

“TJ!!!” potong Soni dengan nada final. Aku diam tak membantahnya. Tapi aku benar-benar tak mampu bergerak. Akhirnya dengan gemas Soni meraih bahuku dan sedikit meremasnya, “Dengar! Kamu disini bersamaku. Jangan memikirkan apapun. Aku yang akan membereskan semuanya.”

“Son...”

Soni menggeleng kuat, “Trust me!

Untuk sejenak aku tertegun. Bukan saja karena nada lembutnya, tapi juga karena keintiman sikapnya. Matanya yang menatapku dengan sinar yakin dan dekatnya tubuh kami berdua saat ini, “Kalau begitu, kamu saja yang  pilihin buatku. Seleramu jelas lebih baik dariku kan?” kataku mencoba memberi jalan tengah.

Soni melipat tangannya ke dada dan menatapku dengan sebelah alis terangkat, “Yakin? Gak nyesel? Kamu bisa memilih sesuai dengan seleramu sendiri lho.”

“Percaya deh. Aku lebih suka caramu berpakaian. Kau selalu terlihat sesuai dan.............mengagumkan,” jawabku jujur.

Well...........thank you. Meski sebenarnya itu juga karena jasa personal shopper-ku,” jawab Soni dengan sedikit tersipu. Tuh kan! Aku kembali membatin. Duhh! Dia kok ngegemesin banget siihhh!!!

“Baiklah........ Let’s see....”gumam Soni dengan mata melihat ke sekeliling. Dan sesaat kemudian, dia sudah melangkah dengan pasti.

Beberapa menit kemudian, aku tak tahu harus merasa senang ataukah menyesal dengan keputusanku tadi. Soni belanja gila-gilaan! Semula aku pikir kami hanya akan membeli beberapa baju saja. hanya cukup untuk liburan kami. Mungkin 4 atau 5 stel maksimal. Tapi ternyata tidak. Aku sudha dapat 10 t-shirt tebal, selusin celana, 7 kemeja dan 5 buah jaket. Itu masih belum barang-barang yang Soni beli untuk dirinya sendiri. Ada 3 orang pelayan toko yang membantu kami membawa barang-barang tadi.

“Son, udahan yok. Ini udah banyak banget. Gimana bawanya ntar?!” cegahku saat dia mau melangkah ke bagian yang memajang beberapa syal.

“Eh tapi kamu kan belum dapat underwear. Kamu gak perlu CD atau boxer gitu? Atau kamu mau aku yang...” Soni menggantungkan kalimatnya dengan nada menggoda.

“Aku saja!” sahutku cepat dengan wajah sedikit memanas. Gila saja kalau aku biarin dia memilih underwearku.

“Sebelah sana! Kamu ambil saja,” kata Soni sedikit geli dan menunjuk ke arah pojok kanan.

Aku langsung saja ngacir ke arah yang dia tunjuk. Aku memilihnya dengan cepat. Aku cari harganya yang paling rendah, meski aku ragu mereka bisa dibilang murah dengan ukuran Indonesia. Bahan-bahannya begitu lembut dan nyaman ditanganku. Aku ambil beberapa yang menurut perkiraanku cukup untuk beberapa hari ke depan. Hanya sebagai tambahan, karena aku juga sudah membawa beberap dari rumah.

Saat aku kembali, Soni sudah mendapatkan 4 pasang sepatu dan 4 buah syal hangat untukku. Satu syal dia ambil dan ia lingkarkan ke leherku. Syal berwarna hitam yang lembut dan  hangat. Bahannya terbuat dari kashmir yang nyaman.

“Paris dingin,” katanya singkat, sementara aku hanya diam sedikit rikuh. Apalagi dengan hadirnya 3 orang pelayan toko yang ada di sebelah kami, “Kamu tunggu disini. Aku juga membutuhkan underwear,” katanya santai dan pergi.
Akupun diam ditempat menunggunya. Duh!! Kira-kira berapa uang yang dia habiskan kali ini? Pikirku masygul memandang ke arah belanjaan kami yang naudzubillah. Padahal dia bisa hanya mengambil seperlunya saja. gak perlu juga beli sebanyak ini kan?

Perhatianku sedikit terpecah saat kudengar dentingan pintu butik yang terbuka. 2 orang wanita masuk.

Seorang wanita paruh baya dengan rambut pirang dan seorang lagi, seorang gadis awal duapuluhan yang juga berwarna pirang rambutnya. Sepertinya keduanya bukan dari kalangan biasa sepertiku. Penampilan keduanya begitu anggun. Semerbak harum parfum yang lembut tercium oleh hidungku saat mereka melangkah dan mengedarkan pandangannya. Ada rasa ingin tahu yang besar terpancar dari sorot mata mereka saat melihatku berdiri diam dengan semua belanjaanku.
Yang membuatku kaget adalah saat mata  mereka melebar ketika melihat Soni. Keduanya memekik kecil. Yang lebih muda memanggil nama Soni dengan suara keras. Dan tanpa ragu sedikitpun dia melangkah cepat ke arahnya dengan kedua tangan terkembang lebar.

Aku hanya melihat dari kejauhan saat mereka saling berpelukan dan mencium pipi dengan raut gembira. Wanita yang lebih tua menyusul dan memeluk Soni. Soni juga mencium oioinya dengan hangat. Mereka ngobrol begitu akrabnya hingga makin mengherankanku. Sesaat kemudian Soni berpaling dan menunjuk ke arahku. Aku Cuma mampu diam menatap mereka yang melangkah ke arahku.

“TJ, this is Madam Evelyn dan putrinya, Chantal. Butik ini milik Evelyn. This is my friend TJ.”

Evelyn mengulurkan tangannya yang segera kusambut, “How do you do, TJ. Panggil aku Evelyn,” katanya ramah dalam bahasa Inggris dengan aksen Perancis kental. Dan kembali aku menangkap rasa ingin tahu yang besar dari sorot matanya.

Hi....I’m Chantal. Jarang sekali Soni membawa temannya kesini. We should hang out sometimes,” kata Chantal dengan sorot yang sama. Bahasa Inggrisnya begitu halus dan nyaris tanpa aksen.

Aku tersenyum sedikit kikuk pada mereka, “Aku harap begitu. Well.............I’m just lucky he bring me here, I guess.

“Sepertinya kalian sudah berbelanja banyak” ujar Evelyn dengan senyumnya melihat belanjaan kami.

Well Soni did. I just follow hima round. But I must admit, anda punya koleksi yang sangat mengagumkan. This place is amazing!

Evelyn tertawa kecil, “How kind of you. Thank you ma cherrie. Kau punya teman ynag menyenangkan Soni.”

Thank you,” jawab Soni singkat dan mengerlingkan matanya padaku yang Cuma bengong.

“Bagaimana kalau nanti malam kita dinner bareng sebagai pesta selaat datang Soni, Mum? Kamu mau kan?” tanya Chantal antusias.

No! Don’t!” cegah Soni cepat, “Kunjunganku kali ini mendadak. Aku akan menghargai sekali kalau kalian 
merahasiakannya dulu.”

“Oh? Jadi Felix tidak tahu?’ tanya Evelyn tertarik.

“Tidak. Dan aku pasti akan kesana, tapi dalam beberapa hari. Ini pertama kalinya TJ kesini. Aku ingin mengajaknya berkeliling dulu.”

Oooh honey, tentu saja. Tapi berjanjilah kalau kita akan melewatkan waktu bersama. Ada pesta tanggal 29 ini di rumah. Kalian harus datang,” ujar Evelyn.

Yes, benar sekali. Kalian harus datang! Wajib datang!”

Something important?” tanya Soni dengan sebelah alis naik.

Really important!” tegas Chantal.

Ok. Don’t worry. We’ll be there!

Perfect! Now let me take care of those!” kata Evelyn dan melambaikan tangan. Dua orang pegawai datang menjawabnya dan segera mengurus belanjaan kami. Soni segera mengulurkan kartu kreditnya, “No, dear. I said I’ll take care of them.

“Evelyn, tidakkah kau lihat.”

You are family, dear. Kau sudah tahu pasti dan akan melakukan yang sama untukku. Anggap saja itu hadiah untuk kalian,” kata Evelyn dan mengibaskan tangannya, “Jadi apa rencana kalian selanjutnya?”

Well...kami masih perlu mencari beberapa barang lain, lalu kami akan ke hotel untuk beristirahat. Kami baru saja tiba pagi tadi. Jadi............agak sedikit lelah.”

“Kalau begitu kami tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku akan mengirimkan barang-barangnya ke hotel. Ceazar?” tanya Evelyn yang di jawab dengan anggukan oleh Soni.

“Soni, aku ada perlu. Bisa bicara sebentar?” tanya Chantal.

I’ll wait in the car,” kataku cepat, sadar kalau kehadiranku mungkin mengganggu, “Senang bertemu denganmu Evelyn. And thank you so much.”

My pleasure, dear,” jawab Evelyn ringan dan menyambut tanganku.

Cepat aku mendahului mereka keluar dari butik dan langsung masuk ke dalam mobil yang kuncinya tadi sempat aku minta dari Soni. Evelyn mengantarku sampai ke depan butik dengan senyum ramahnya.  Aku menunggu di mobil dengan sedikit rasa ingin tahu sementara Soni, evelyn dan Chantal ngobrol, sembari menunggu pegawai-pegawai Evelyn mengangkut belanjaan kami ke mobil angkut.

Ok. Byee!!

Kudengar Soni berpamitan. Aku berpaling dan melihat mereka saling berpelukan dan mencium pipi. Tak lama dia masuk ke mobil dan segera menghidupkannya. Sebelum melaju, kami sempat melambai pada Evelyn dan Chantal yang membalasnya.

“Kalian kenal lama?” tanyaku igin tahu setelah butik evelyn menghilang dari pandangan.

“Kamu sudah dengar Evelyn kan tadi. We’re family!” ujarnya singkat.

“Kalian terlihat sangat................akrab,” pancingku lagi. Dan membuatku sedikit bertanya-tanya, sudah berapa kali sebenarnya Soni ke Paris.

“Yeah.........” jawab Soni cuek.

Nah..........kuat deh! Pikirku agak kesal

“Kami memang dekat,” sambung Soni lagi tanpa memalingkan wajah dari jalan yang kami lalui, “Kita ke Hartnell. Kita masih membutuhkan setelan resmi.”

“Belanja lagi?”

We need tux. Hanya untuk berjaga-jaga,” kata Soni.

Sambutan di Hartnell ternyata tak kalah ramahnya. Manager butik, Mr Olsen, secara pribadi menyambut kami dan memperlakukan kami dengan spesial. Belanja disana tak memerlukan waktu yang lama. Kami Cuma melihat ke dalam katalog. Soni memilihkanku 3 setelan resmi, lengkap dengan kasesorisnya. Sepatu, ikat pinggang, manset, dompet, dasi dan yang lainnya. Setelan yang menurutku terlalu elegan dan resmi. Aku terbiasa dengan busana casual yang simpel. T-shirt dan jeans boleh dibilang seragam keseharianku. Sementara setelan yang dipesan Soni benar-benar busana yang match dari ujung kaki sampai kepala. Karena sadar bahwa tak ada yang bisa aku lakukan untuk menolaknya, akku menutup mulutku rapat-rapat, dan membiarka beberapa pegawai butik mengukur tubuh kami. Monsieur Olsen menjamin bahwa baju-baju kami akan siap besok dan akan diantarkan langsung ke hotel.


Kami kembali ke hotel saat hari sudah melewati tengah hari. Entah kemana waktu, hingga kami membutuhkan nyaris setengah hari penuh bagi kami untuk membeli keperluan-keperluan kami selama disini. Meski judulnya belanja, aku tetap saja menganggapnya berwisata, karena dengan berjalan kesana kemari, aku mendapatkan pengalaman dan melihat-lihat kota Paris yang luar biasa dan lain dari Jakarta. Beberapa kali kami juga berfoto bersama dengan bantuan beberapa orang yang kami lewati. Kami juga sempet makan di Mc D di sebuah Mall.

Perlu sekitar 2 orang pegawai hotel untuk membantu kami membawa semua belanjaan ke dalam kamar. Aku sendiri lebih memilih untuk langsung mandi dengan air hangat. Sepertinya tubuhku masih belum menyesuaikan diri dengan waktu Perancis. Hari baru saja hendak beranjak sore, tapi aku sudah ingin tidur. Begitu keluar, aku mendapati Soni sedang  membereskan belanjaan kami.

“Aku sudah memesan travelling bag. Mereka akan membawanya kesini nanti,” katanya, “Kamu mau tidur atau....”

“Iya,” sahutku langsung dan nyengir, “Aku capek.”

“Gak mau makan dulu?” tanya Soni yang kemudian aku jawab dengan gelengan kepala. Soni tersenyum dan mengulurkan sebuah tas padaku, “Ini piyama. Pakai saja kalau mau tidur. Aku sudah beli beberapa untukmu. Aku mandi dulu, ok?” pamit Soni dan pergi.

Aku sudah berbaring di tempat tidur saat Soni selesai mandi dan mengganti baju. Aku yang tadinya memunggunginya segera berbalik saat mendengar suara pintu terbuka, “Habis............”

Kalimatku menggantung disana saat aku melihatnya. Soni mengenakan piyama hitam dengan garuis putih seperti yang aku pakai. Persis sama. Jelas dia membelinya sepasang. Dan pemikiran itu membuatku tak mampu berkata apa-apa untuk sejenak.

“Lucu ga?” tanya Soni dan mengembangkan dua tangannya, meminta pendapatku.

“Kamu........sengaja beli sepasang?” tanyaku sedikit geli melihatnya yang bisa bertindak konyol dan kekanakan seperti ini. Dia yang biasanya terlihat dewasa, tenang dan bahkan dingin, bisa terlihat girang dengan antusias seorang bocah.

Soni mengnagguk dan tersenyum, “Aku pikir lucu juga kalo kita kembaran,” kata Soni. Dia menutup semua korden kamar sehingga kamar menjadi gelap dan kemudian  naik ke tempat tidur.

Tapi tetap aja keliatan beda, pikirku dalam hati. Kalo Soni yang pake, piyama itu terlihat WAH! Dia lebih cocokjadi model yang memperagakannya di catwalk. Kalau aku.................jadi kelihatan biasa saja dan bahkan konyol kalau disandingkan dengannya. Kalau di rumah, paling aku Cuma pakai t-shirt butut buat tidur. Gimanapun juga, kami berdua emang beda.

Aku hanya bisa menghela nafas.

“Habis berapa tadi?” tanyaku sembari memeluk guling yang memisahkan kami berdua.

“Kamu tidur aja. Istirahat. Nanti malam kita bisa jalan-jalan ke menara Eiffel dan Champs Elysees,” kata Soni tanpa menghiraukan pertanyaanku tadi.

“Sepertinya akan sulit tidur,” gumamku.

“Kenapa? Bukannya tadi bilang cape?”

“Cape sih. Cuman...............udah hampir 24 jam aku gak liat Bunda. Jadi kangen.”

What?!” sergah Soni heran dan berpaling padaku, “Kita disini baru beberapa jam. Dasar anak mami. Manja!” gerutunya, lebih karena geli daripada marah.

“Heii!!! Ini bukan masalah manja atau engga!,” rungutku kesal, “Asal tau saja, Bunda biasanya selalu mencium keningku dulu sebelum tidur dan..........” aku berhenti saat Soni tiba-tiba memajukan tubuhnya. Dia membungkuk dan kemudian mencium keningku.

“Nah, sudah. Bisa tidur sekarang?”

Aku tak menjawab, hanya bisa diam terpaku dengan mulut terbuka. GUE DICIUM?!! LAGI?!!!! Ini beneran gak seeeeeehh?!! Teriakku dalam hati. Aku benar-benar tak tahu harus bereaksi bagaimana. Hanya mampu bengong melihat ke arah Soni yang Cuma tersenyum simpul dan kemudian mematikan lampu kamar.

“Selamat tidur,” kata Soni dan membaringkan tubuhnya.

Dan kembali aku tak bisa manjawabnya.

Lebih dari setengah jam kemudian aku baru bisa tertidur. Aku hapir-hampir tak bisa mencerna akan apa yang sedang terjadi. Otakku benar-benar tumpul. Perasaanku begitu datar dan nyaris mustahil memahami. Baru sekitar satu jam kemudian aku merasakan suatu kedamaian asing yang begitu menenangkan. Aku merasa nyaman dan tenang karena bisa melihat serta tau Soni ada di sebelahku. Tertidur dengan tenangnya.

Dan beberapa menit kemudian aku mengikutinya, tenggelam ke dalam alam mimpi.

Rabu, 12 April 2017

THE MEMOIRS, A Gay Chronicle BAB 16




BAB 16



Flu yang disebabkan oleh hujan waktu itu ternyata membandel. Hari ini, aku menyerah. Aku benar-benar merasa tak sanggup untuk sekolah. Bunda yang sudah tahu dari suaraku, langsung menyuruhku untuk tinggal dirumah. Walhasil, seharian ini kerjaanku hanya diam dikamar. Dan itu benar-benar membosankan. Aku sudah merasa jenuh luar biasa setelah jam 11 ke atas. Dengan tubuh yang terasa mendingan karena telah minum obat, aku puuskan untuk ke ruang tengah menontotn tv. Sial!! Padahal seminggu lagi ujian, pikirku. Nggak masuk sekolah gini ternyata boring luar biasa. Gak bisa ngumpul ama yang laen. Gak bisa jajan di kantin................

Ataupun ngecengin Soni.

Kalimat itu terlintas begitu saja dibenakku. Segera ku hembuskan nafas dan menepisnya. Seharusnya aku lebih merasa bersalah pada Bunda yang telah aku buat repot. Beliau jadi terlambat masuk kerja. Beliau juga heboh membuatkan aku bubur karena tadi aku langsung muntah begitu makan makanan keras. Aku yang kehilangan selera sebenarnya ingin menolak bubur Bunda. Mulutku terasa pahit dan kering. Tapi usaha beliau membuatku tak tega.
Aku melirik pada jam dinding diatas TV. Jam segini sekolah pasti udah bubar, pikirku. Di waktu-waktu seperti ini, aku and the gank biasanya nongkrong di pinggir kelas untuk ngecengin Soni. Hari ini aku mesti puasa melihatnya. Kok rasanya gak enak banget ya? Gerutuku jengkel. Dari tadi tiduran atau nonton TV mulu. Bosen!!

Aku bangkit dan mask ke kamar dengan langkah kesal. Kujatuhkan tubuhku di pembaringan sembari menyambar ponsel yang ada di atas meja kecil yang ada disebelah ranjang. Ponsel hadiah dari Soni. Hanya ada satu nomer dalam ponsel itu. Nomor Soni. Nomor-nomor kontakku yang lain masih ada di ponsel lamaku.
Tengah asyik memandangi nomor kontak Soni, pintu kamarku terbuka.

“Gimana Nek? Parah?” sapa Wina dengan nada riang dan masuk ke kamarku.

“Lumayan,” jawabku nyengir tanpa bangkit dari tempat tidur, “Kok gue gak denger lo masuk tadi Win? Bareng ma siapa?”

“Tadi ketemu Bunda di depan. Katanya beliau keluar sebentar mau beli apaa gitu buat elu abis bukain pintu. Gue sendirian,” jawab Wina yang kemudian duduk di sisiku.

“Yang laen?”

“Mereka ada kegiatan klub? Gue bolos,” jawab Wina menjelaskan, “Ngapain aja lo seharian tadi?’

“Paling Cuma tiduran, nonton tv, tiduran lagi. Mo ngapain coba Win? Senin besok gue udah masuk kok. Cuma flu ringan ini.”

“Syukurlah. Eh ya, tadi gue ketemu Kak Soni,” kata Wina pelan, namun langsung membuatku diam membeku, “Dia gak ngomong apa-apa. Waktu gue bilang lo gak masuk karena sakit, dia juga gak komen apa-apa.”

Aku hanya mampu tersenyum tipis, “Emang dia harus komentar apa coba? Dia gak bilang apa-apa soal baju itu kan?”

Wina menggelengkan kepalanya, “Dan gue juga gak ngomong apa-apa kok. Jadi tenang aja. Kali ini gue gak bakal ember,” serobot Wina mendahuluiku yang sudah hendak membuka mulut untuk mengingatkannya.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum tipis, “Thanks ya, Win. And please, jangan ngomong apa-apa juga soal baju itu ama Bunda. Bisa jantungan Bunda ntar kalo tau jumlah uang yang gue pinjem ke lo. Gue pasti bakal segera nyari jalan buat ngelunasin utang gue. Secepatnya. Lo sabar dulu ya, Win?”

Wina mendecak, “Udahlah. Santai aja. Itu uang tabungan gue sendiri kok. Niatnya sih buat persiapan kuliah ntar. Jadi lo masih punya banyak waktu buat ngelunasinnya. Cukup lama ini kan?” canda Wina sembari nyengir.

“Lo yakin gak mau pegang ponsel gue ini dulu buat jaminan?” tanyaku lagi dan menunjukkan ponsel hadiah dari Soni.

“Ngapain sih? Emang lo pikir gue pegadaian apa, pake jaminan segala. Lagipula..........”

Kalimat Wina terputus dengan mata yang terarah pada satu titik, membuatku secara naluriah mengikuti arah pandangnya yang menatap ke pintu kamarku yang sedikit terbuka. Rasanya tubuhku diguyur dengan seember air es dengan tiba-tiba. Soni disana! Dia berdiri diam didepan pintu tanpa suara, entah sejak kapan. Begitu kami melihatnya, dia kemudian membuka pintu dan melangkah masuk dengan perlahan.

“G-gue pu-pulang dulu TJ,” pamit Wina sedikit gugup dan cepat-cepat bangkit, “Ma-mari Kak,” pamitnya pada Soni dan buru-buru pergi.

Hening!

Entah untuk berapa lama. Aku sendiri tak tahu apa yang harus aku lakukan atau katakan. Hatiku yang mencelos sedari tadi masih belum bisa aku tenangkan. Ya Tuhan. Sudah berapa lama dia berada dibalik pintu tadi? Seberapa banyak dia mendengar pembicaraanku dengan Wina tadi? Gawat kalau dia paham apa yang kami bicarakan! Belom lagi keadaanku yang berantakan karena tidak mandi seharian dan cuma tiduran. Aduuuhhhhh..............!

“Du-duduk, Son.......” aku berhenti sejenak untuk berdehem karena suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar aneh dan serak, “Duduk...” ulangku lagi, mempersilahkannya dan mendorong kursi meja belajarku untuk dia duduki.

Tak ada sahutan dari Soni, tapi dia duduk dikursi yang aku angsurkan padanya. Matanya masih menatapku dalam diam. ekspresinya datar dan tak terbaca seperti biasa. Kenapa sih sulit sekali sih mengerti anak ini? Keluhku dalam hati. Aku tak pernah bisa menangkap maksud ataupun suasana hatinya. Baik dari ekspresi ataupun gerak tubuhnya. Ekspresi wajahnya benar-benar sulit ditebak. Kadang yang tampak di permukaan, berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Saat aku hendak membuka mulut untuk berbicara, pintu kamarku kembali terbuka.

“Waktunya makan dan minum obaat,” kata Bunda dengan nada riang, seakan-akan aku anak kecil yang masih menggunakan popok. Beliau masuk dengan membawa semangkok bubur dan segelas air gula hangat, “Soni mau makan bareng?”

“Makasih Bun. Sebentar lagi udah pulang kok,” jawab Soni dengan sopan.

“Taruh di meja belajar aja, Bun,” kataku dengan malas, “Nanti aja makannya,” kataku lagi dan mengerling padanya.

“Ya sudah, Bunda mau pergi sebentar ya? Ada sesuatu yang harus Bunda beli di toko. Soni kalau mau makan, ambil sendiri di dapur ya Nak. Anggap rumah sendiri,” kata Bunda dan berlalu.

Saat Bunda menghilang dibalik pintu, Soni kembali berpaling padaku. Untuk beberapa saat lamanya, dia kembali diam dan menatapku. Lalu tanpa disangka, dia mengambil mangkok buburku yang dibawakan Bunda tadi.

“Eh Son, itu buatku,” sergahku cepat, “Kalau kamu mau, dibelakang masih...........” suaraku hilang saat Soni mengulurkan sesendok bubur padaku.

“Ada seseorang yang bilang padaku, kalau orang sakit tidak boleh telat makan. Untuk cepat sebuh, dia harus tetap makan dengan teratur. Meski mulutnya terasa tidak enak atau pahit. Jadi.............ayo! buka mulutnya,” katanya lancar tanpa menghiraukan kekagetanku.

“S-son, kamu gak per-perlu...”

“Dan sudah kubilang kalau suatu saat aku akan membalasmu,” katanya lagi, memotongku. Aku hanya mampu nyengir kecut, teringat aku saat ngomel dan menyuapinya dulu. Aku memang ingin dia suapi, tapi tidak dalam keadaan yang amburadul seperti ini!!!!

“Ayo....”

 Paksa Soni lagi, membuatku tak punya pilihan lain selain membuka mulut.

“Gimana sekolah?’ tanyaku kemudian, mencoba mencari topik pembicaraan yang aman untuk menutupi kecanggunganku.

“Seperti biasa. Satu minggu lagi kita akan menghadapi ujian tengah semester. Jadi, kau harus cepat sembuh dan mengejar pelajaranmu yang tertinggal.”

“Aku kan cuma absen sehari,” gerutuku. Soni hanya mengangkat bahu dan kembali menyuapiku. Aku hanya bisa menatapnya. Dalam hati, aku tak pernah berhenti bertanya. Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan kemarin dengannya? Kenapa dan apa yang berbeda sekarang?

Kalaupun Soni menangkap tanya yang ada dalam mataku, dia tidak mengacuhkannya. Dia terlihat tak peduli. Seolah-olah, tak ada apa-apa yang terjadi diantara kami kemarin. Seolah-olah dia tak pernah kembali dingin padaku. Entah kemana kemarahan ataupun sikap dinginnya itu pergi.

“Maaf.......” kataku pelan, membuat Soni yang sedang mengaduk buburku mengangkat wajahnya. Dia menatapku tak mengerti.

“Untuk apa?” tanya dia singkat.

“Entahlah. Harusnya kau yang bisa memberitahuku. Apa kesalahan yang sudah aku lakukan,” kataku tanpa bermaksud menuntut. Aku hanya ingin mengerti. Namun Soni hanya tersenyum tipis dan diam. dia kembali menyuapiku lalu mencurahkan perhatiannya pada buburku yang kembali diaduknya pelan.begitu tenang. Tak ada riak diwajahnya, yang bisa memberitahuku, apakah dia marah, salah tingkah, gugup ataupun mengerti.

Akhirnya aku juga memilih untuk diam dan menancapkan pandanganku pada poster sponge Bob yang aku pajang diujung pembaringan. Sesekali aku membuka mulut saat Soni mengulurkan sendok untuk menyuapiku.

“Obatnya dimana?” tanay Soni beberapa saat kemudian. Aku berpaling. Saat kulihat, isi mangkuk yang ada ditangannya telah tandas.

“Laci atas meja belajar,” jawabku singkat. Dia mengambilnya dan memberikannya padaku. Akupun menerima dan meminum obat yang dia berikan tanpa berbicara, dengan gelas air gula hangat yang tadi dia sodorkan.

“Bukan salahmu. It’s  just me.”

Kalimat singkat yang dia ucapkan itu membuatku mengangkat wajah dan melihatnya.

Soni tersenyum tipis, “Tak usah dipikirkan. Aku hanya sedang..........memahami sesuatu. Masalah yang benar-benar harus aku pahami. Maaf kalau sikapku membuatmu merasa tak enak.”

Jujur aku tak mengerti maksudnya, jadi aku hanya bisa memandangnya. Tapi kemudian aku tertunduk, kalah dengan tatapannya yang intens. Lagipila, aku juga tak tahu harus berkata apa. Jadi aku kembali diam.

“Aku pulang,” katanya lagi, membuatku kembali mengangkat wajah, “Bisa kupinjam passportmu yang kemarin?” tanya dia dengan senyum yang tanpa sadar membuatku sedikit tersipu.

“Ada dilaci bawah meja. Ambil saja,” kataku yang kebali tertunduk tanpa mampu mengangkat muakaku yang memanas. Dari sudut mataku, aku lihat dia bangkit dan mengambil passportku. Lalu kembali mendekat.

“Cepat sembuh ya?” dan mengusap lembut ujung kepalaku. Dan kemudian, sebelum aku menyadari, dia menunduk dan mencium keningku, “Pamitin ama Bunda,” katanya pelan sebelum pergi.

Membutuhkan waktu satu menit penuh bagiku untuk sadar sepenuhnya atas apa yang dia lakukan tadi. Tanpa sadar aku kembali mengusap ujung kepala dan juga keningku. Nyaris masih bisa aku rasakan gerakan lembut bibirnya tadi didahiku. Bulu-bulu disekujur tubuhku meremang seketika!

Dan malam itu, aku kembali bermimpi. Mimpi tentang Soni yang memelukku dan menciumku. Tubuhnya yang polos menyatu dengan tubuhku. Hanya saja, kali ini semua terasa begitu pas. Terasa begitu menyenangkan dan sudah semestinya. Melambungkan anganku. Pagi harinya aku terbangun dengan perasaan ringan dan tenang.