Translate

Rabu, 23 Oktober 2013

MEMOIRS III (The Triangle) Chapter 3 - What should I do

ZAKI



Aku hampir2 tak bisa menahan diri! Orang didepanku ini benar2 menguras habis kesabaranku. Lihat saja! Bukannya cepat2 minggir atau menjauh, dia malah diam bego ditempatnya berdiri meski beberapa saat tadi nyawanya hampir saja melayang.

"WHAT THE HELL ARE YOU THINKING?!!" bentakku murka. Hal itu membuatnya tersentak, dan aku baru menyadari bahwa tubuhnya gemetar hebat. Tanpa sadar aku mengerang keras. Hebat! Bukannya merasa dirugikan, aku malah merasa bersalah telah membentaknya. Liat saja. Kakinya jd bergerak-gerak aneh. Wajahnya makin memucat dan tiba2 saja dia jatuh terduduk.

"Hei!!" bentakku lagi, sedikit lebih pelan dari yg tadi. "Berdiri!" perintahku ketus. Aku tak ingin orang2 yg mulai berkerumun disekitar kami berpikir kalo aku telah menganiaya anak bego ini.
Dengan perlahan dan masih sedikit gemeteran dia bangkit. Dengan wajah yg sepertinya ketakutan dia melihatku. Bola matanya kemudian membesar beberapa saat kemudian.

"Apa?!" tanyaku heran. Dia tak menjawab, tapi tangannya menunjuk kearahku. Jelas aku hanya bisa menatapnya keheranan. "APA?!!!" bentakku lagi kesal.

Tangannya yg menunjuk pada keningku makin bergetar hebat. Dan saat itulah aku merasakan cairan hangat darah yg mengalir dari lukaku. Aku mengumpat keras tapi menahan diri untuk tidak mengusapnya. Bisa2 aku kena infeksi.

"Ada apa Ki?" tanya seseorang yg mendekat kearahku. Aku tak ingat namanya, tapi yg jelas kami berada di jurusan yg sama. Seingatku kami belum pernah ngobrol sebelumnya.

"Si Goblok itu membuat mobilku ringsek," kataku sedikit ketus.

"Kamu berdarah. Kuantarkan ke rumah sakit. Ayo!" ajaknya dan menggamit lenganku.

"Sebentar," kataku dan mendekat pada anak idiot yg masih berdiri dg begonya itu. "Mana kartu mahasiwa dan ktp mu," pintaku. Bukannya langsung memberikan, dia malah menatapku heran. "CEPAT KELUARKAN!!" bentakku. Heran nih anak! Kecepatan loading otaknya benar2 parah!

Dengan tergesa-gesa dia meraih dompetnya. Kulihat sekilas hanya ada bbrp lembar uang disana. Sepertinya anak yg biasa2 saja. Aku lalu mengambil dua kartu yg dia sodorkan dg edikit kasar. Regha Zulfikar Widhiarya. Majalengka!

Persetan! Aku harus memberinya pelajaran karena dia sudah mencelakakanku 2 kali dalam sehari. Juga membuat mobilku ringsek.

"Kau, ikut kami ke rumah sakit! Kita punya urusan yg harus dibahas!" perintahku dingin yg hanya dia jawab dg anggukan. Aku lalu berpaling pada temanku sejurusanku tadi. "Antar kami!" pintaku singkat.

Sial! Aku harus segera menghubungi Pak Arya agar dia bisa menyelesaikan urusan di panti.





REGHA


Aku hanya mampu diam diruang tunggu Rumah sakit ini dengan perasaan yg tak karuan. Sedari tadi kakiku gemetaran tanpa bisa kutahan. Ingin rasanya aku jatuh bersimpuh dilantai dan berteriak keras untuk melegakan dadaku yg kini terasa sesak. Aku bukan orang yg cengeng, tapi aku benar2 ingin menangis keras skrng. Allah, kenapa sial sekali nasib ku hari ini? Apa yg sebenarnya telah ku lakukan sebelumnya hingga aku harus mengalami hal ini.

Masih kuingat bagaimana kejadian siang tadi, saat mobil Zaki hampir menabrakku. Bagaimana kagetnya aku saat itu. Sempat bersyukur bahwa Allah masih memberiku kesempatan untuk hidup. Tapi beberpa saat selanjutnya Mas Angga justru memberiku tugas untuk mewawancarai Zaki, orang yg hampir menabrakku. Dan sore harinya, sekali lagi krn keteledoranku, aku lagi2 hampir mendapat ciuman mesra dari mobil Zaki. Untungnya dia cukup sigap untuk menginjak rem.

Sialnya hal itu justru mebuat mobilnya menabrak keras pot beton. Moncong mobilnya tampak ringsek. Dan dia harus mendapat perawatan karena kepalanya terantuk keras di kemudi. Ada luka di dahinya yg harus segera dirawat. Menurutku dia tidak terluka parah, krn tadi dia masih sempat memakiku dg keras sebelum bbrp teman kampus kami mengantar kami ke rumah sakit.

Aku ikut bukan krn aku terluka, tp lebih krn tuntutan Zaki. Aku harus bertanggung jawab atas ketelodaranku. Aku bukan hanya membuatnya terluka, tapi jg menyebabkan mobilnya rusak parah. Masih kuingat kalimat Zaki tadi. Intinya adalah dia menuntut pertanggung jawabanku. Tadi dia sudah meminta KTP dan Kartu Mahasiswa ku.

Jadi disinilah aku. Diruang tunggu rumah sakit ini. Sendiri. Sudah hampir satu jam Zaki dibawa kedalam. Dan dia masih belum keluar, smentara aku hanya mampu diam disini dengan kepala berdenyut keras.
Allah. . . Dari mana aku bisa mengganti kerusakan mobil Zaki? Kalau biaya rumah sakit, aku masih bisa menanggungnya. Aku yakin. Tapi biaya perbaikan mobil Zaki?!!
Membayangkannya saja aku ngeri!

"GHA!!!"

Suara panggilan itu membuatku mendongak. Vivi dan Regi berjalan cepat menghampiriku dari pintu masuk.

"Gw denger dari temen2 lo disini. Makanya kita nyusul," kata Vivi cepat dan duduk disebelahku.

"Lo gak apa2 kan Gha?!" tanya Regi penuh simpati. Dia bahkan tak sadar kalau dia menggunakan bahasa normal. Bukan bahasa planet aneh yg biasa dia gunakan. Aku benar2 sedikit terbantu dengan kehadiran mrk. Sedikit terhibur setelah beberapa saat lamanya tertekan

Aku tersenyum kecut dg kepala tertunduk. "Gw baik2 aja. Tapi. . . "

"Nih!!"

Aku terdongak saat kudengar suara Zaki yg tahu-tahu sudah berdiri didepanku. Kulihat ada perban didahinya. Dia menyodorkan beberapa lembar kertas dan juga kwitansi. Tanpa menungguku untuk menerimanya, dia melempar kertas2 itu padaku.

"Biaya rumah sakit dan obat hanya 1 juta. Biaya perbaikan mobil, menurut bengkel gw diperkirakan bisa 30 jutaan. Lo siapin aja 40 juta. Plus uang perawatan gw tadi, jdi sekitar 41 jutaan. Gw tunggu dirumah secepatnya! Liat alamat rumah gw dikartu nama gw itu" katanya cepat dan tanpa menungguku dia berlalu pergi, meninggalkanku yg terpaku dg mulut terbuka kaget.
Tenggorokanku terasa kering mendadak.


Hening. . . .

Lebih dari semenit kemudian aku baru bisa berpaling pada Vivi dan Regi yg memandangku dg tatapan iba.

"Apa . . . ,yg harus gw lakukan?!" tanyaku dengan suara tercekat. Dari sinar mata mereka, aku tahu bahwa mrk jg sama tak tahunya jawaban dari pertanyaanku tadi, hanya mampu kembali menatapku dg iba. Mrk berdua tahu bagaimana usahaku untuk bertahan disini. Dg smua usaha ku itu, aku masih harus hidup dg prihatin. Jd dg mudah mrk bisa menarik kesimpulan kalau harus mendapatkan uang sebesar 41 juta bagiku adalah MUSTAHIL!

Untuk sejenak tak ada dari kami yg bisa mengeluarkan satu katapun. Sampai. . .

BRAKK!!!

"TUYUL BENCONG! EH GUE BENCONG EH ELO TUYUUULL!!!" pekik Regi nyaring saat pintu ruang darurat yg berada tak jauh dari kami terbuka dengan tiba-tiba. Regi yang latahnya kumat karena kaget hanya mampu nyengir tengsin saat dia menjadi pusat perhatian diruang tunggu itu.

"Kita pergi!" ajak Vivi seraya melirik kesal pada Regi.

"Sorry," bisik Regi dan mengikuti kami. "Eh Bo, tp si Zaki tadi tetep cakep ya meski ngamuk gitu?!"

"Dasar bencong sinting! Tahan diri dikit kenapa sih?!" rutuk Vivi dan menyeretnya untuk cepat-cepat keluar. Aku yg meski bisa merasakan cengiran bbrp orang disekitar kami tetap diam tak berkomentar. Otakku masih tak bisa menemukan jalan untuk masalah yg ada didepanku.





 RIZKY



"Bisa kan Ky?" tanya Ibu padaku. "Hari ini Ibu ada keperluan dengan Tante Rina. Beliau akan mengadakan upacara pertunangan putrinya minggu depan. Jadi hari ini Ibu mau rundingan soal masakan apa saja yg beliau ingin sajikan. Jadi Rizky jaga warung ya hari ini?" pinta beliau lg.

Jaga rumah makan sambil ngecengin Regha? Kenapa harus nolak? batinku. "Iya Bu! Tenang saja," jawabku sembari kembali menyendok sarapanku.

"Urusannya sudah selesai Ky? Udah beres semua?" tanya Ayah yg juga menikmati sarapannya.

"Sudah Yah! Kemarin sudah diurus semuanya. Minggu depan tinggal kembali ke kampus sebentar buat kasih surat2 yg sudah beres, trs bisa langsung balik kesini," terangku.

"Mulanya Ayah kira kamu bakal bawa kejutan kemari Ky," gumam Ayah pelan. Aku hampir2 tak dapat menahan diri untuk mengerang. Oh please! Jangan bahas itu lagi.

"Ibu pikir jg gitu Yah! Kmrn jg sudah Ibu tanya. Tapi ya gitu jawabnya," tunjuk Ibu dengan dagu. "Mematung lagi."

"Yaaaaahh. . . , kapanpun kamu siap lah," kata Ayah sedikit mendesah. "Kami sebenarnya sudah ingin menimang cucu. Beberapa tahun lagi juga, ayahmu ini bakal pensiun. Jadi nantinya ada yg bisa jadi teman main ayah diini."

Aku tak menjawab ataupun menoleh. Aku tancapkan mataku pada hidangan didepanku.

"Tuh Yah! Kalo sudah bahas itu, pasti gak ada suaranya," gerutu Ibu.

"Kadang Bapak itu berharap," lanjut Ayah sedikit mendesah, ". . . kalo kamu itu sedikit bandel seperti anak-anak muda yg lain. Pacarnya ganti terus, pulang malem dan yg lainnya. Kamu itu kok ya justru gak pernah bawa satu anak cewekpun kemari. Emang nggak ada yg suka sama kamu ya Ky? Orang cakep begitu masa ga laku?" tanya beliau dengan nada heran yg tak disembunyikannya.

"Bukannya gak laku Yah, Rizky nya aja yg terlalu pemilih. Kemarin saja anaknya Jeung Titik yg juga Dokter Muda itu naksir berat sama Rizky. Kalo ketemu selaluuuu nanyain. Rizky nya dikasih tahu malah lempeng!" lapor Ibu membuatku ngedumel dalam hati. Siapa jg yang mau sama cewek beringas gitu?!!

"Kamu itu maunya yg gimana tho?" tanya Ayah lg. Aku tetap dg aksi andalanku, diam!

"Kentutnya aja gak bakal bunyi Yah!" sahut Ibu sedikit jengkel.

"Kamu itu pendiemnya kok ya kebangeten sih?" gerundeng Ayah. "Ya sudah, sana! Kalo selesai cepet ke warung sana. Siang nanti jemput Ibu kamu ya? Biar berangkatnya sama Ayah," kata beliau akhirnya mengalah.

Dengan cepat aku menyambar kesempatan itu dan berlalu pergi. Sial!! Pagi-pagi sudah dapet awal yg jelek. Apa hari ini bakalan bikin empet seterusnya? pikirku kesal.



Pemikiran itu ternyata terus terbawa sampai ke Rumah Makan. Dan sepertinya, aku bukan satu-satunya orang yg berada di mood yg jelek hari ini.

Regha tampak lebih kacau. Saat aku tiba disana, dia menyapaku dg sedikit linglung. Seperti tak sadar dg siapa dia berbicara. Hal itu terus berulang dan jadi semakin parah. Beberapa kali dia salah membawa pesanan customer dan tersandung. Malah dalam waktu kurang dari dua jam, dia sudah menabrak pintu 3 kali. Meski biasanya dia memang ceroboh, hari ini hal itu sudah keterlaluan.

Sepertinya dia sedang bermasalah, batinku. Lalu aku mendengar suara pekikan keras yg diiringi suara nyaring benda2 yg berjatuhan.

MEMOIRS III (The Triangle) Chapter 2 - The accident

RIZKY



Begitu masuk ke rumah makan, aku melihat sekeliling dg agak sembunyi2. Aku tak melihat sosoknya. Apa mungkin masih dibelakang? tanyaku dalam hati. Aku berharap-harap cemas, hingga sesaat aku benar2 merasa konyol.

"Ky!" panggil Ibu yg duduk ditempat kasir dan melambaikan tangannya padaku.

Aku segera menuju pintu masuk bagian belakang rumah makan dan bergegas menghampirinya. "Bu!" sapaku dan mencium tangannya.

"Udah sarapan tadi?" tanya Ibu dan memberiku tanda untuk mengambil kursi lain agar bisa duduk disebelahnya.

"Sudah. Tadi kan Ibu udah bikinin rendang?" jawabku dan tersenyum. Setiap kali aku pulang beliau selalu memasakkan makanan kesukaanku itu dengan tangannya sendiri. Rasanya tak berubah tiap kali aku memakannya. Tetap rasa yang sama.

"Iya Ibu bikinnya tadi juga banyakan. Soalnya si Regha ternyata punya selera yg sama denganmu," seloroh Ibu sembari mengecek layar komputer didepannya.

"Regha?" gumamku heran.

"Iya! Dia suka banget sama rendang. Kaya kamu. Makanya tadi Ibu bawain dia juga supaya bisa ikut makan," jelas Ibu.

"Udah balik anaknya?" tanyaku berusaha terdengar wajar dan tidak terlalu ingin tahu.

"Sudah. Barusan aja. Dia kan ada kuliah jam 1," jelas Ibu sembari mengetikkan beberapa angka ke komputer. Yang membuatku kaget, setelah itu beliau mencopot kaca matanya dan menoleh padaku dg tatapan serius. "Ada apa?" tanya Ibu dg nada menyelidik.

Karuan saja aku jadi gugup mendadak. Ya Tuhan!! Masa beliau curiga sih? Padahal selama ini aku berusaha mati2an untuk bersikap santai, malah cenderung acuh pada Regha. "A-apanya Bu?" tanyaku agak pelan tanpa mampu menatapnya.

"Kenapa kamu tiba2 mendadak pulang kesini?" tanya Ibu lg.

Sumpah!!! Aku hampir saja menghela nafas panjang saking leganya. Tapi aku cukup bisa menahan diri. Terimakasih pada pengalamanku yg selalu menyembunyikan perasaanku diam2. Jadi aku tak gampang bereaksi gegabah. Kukira tadi beliau bakal menginterogasiku macem2. "Bukan hal yang penting Bu!"

"Terus?"

"Rizky akan Koas didaerah Bandung sini. Jadi perlu mengurus beberapa hal," jelasku.

"Jadi di desa pinggir kota itu?" tanya Ibu.

"Jadi Bu!" jawabku. Aku memang akan melaksanakan koas ku disebuah desa kecil diluar kota Bandung yg jaraknya bisa ditempuh dengan satu jam berkendara(bila lalu lintasnya normal) mobil.

"Ibu senang kamu akhirnya bisa koas didekat sini. Tapi. . . . , Ibu tadi mengira kau punya berita yg lebih menarik dari itu," kata Ibu sedikit mendesah.

"Lebih menarik? Emang Ibu mau Rizky koas diluar pulau?n tanyaku heran.
Dengan gemas beliau menepuk bahuku. "Bukan itu barokoko!"

"Terus?"
"Ibu kira teh tadinya kau mau kasih berita heboh dengan datang tiba2 gitu."

"Berita heboh kumaha Bu?" tanyaku lagi yg jadi ikut2an keselip Sunda.

"Ya kali aja kamu mau bilang kalo kamu sudah menemukan calon mantu buat Ibu," sergah beliau.

Mendengarnya, aku hanya mampu menghela nafas panjang. Kalo Ibu sudah menyinggung hal itu, aku lebih suka memilih untuk diam saja. Ibu dan Ayah berasal dari Jawa Tengah. Sebuah daerah kecil di pinggir kota Semarang yg masyarakatnya banyak melakukan kawin muda. Ayah dan Ibu sendiri menikah di usia 21 tahun. Meski keluarga mereka telah hijrah ke Bandung sejak 20 tahun, namun pandangan mereka tentang pernikahan masih sama.

Dan selama ini senjata ampuhku untuk menghindari pembahasan lebih lanjut tentang hal itu adalah, diam.

"Kapan Ky? Kenapa belum juga ada? Bahkan pacar aja belum pernah ada yg kamu kenalkan ke Ibu," tanya beliau dg suara pelan.

Yg mana yg Ibu mau? Theo? Radit? Jerry atau Kiko? pikirku dalam hati sedikit menggerutu.

Sejenak tak ada reaksi dari beliau. Tapi setelah keheningan yg lumayan lama, akhirnya beliau menghela nafas panjang. Yg bisa kuartikan bahwa aku sudah selamat.

"Ya sudah! Kalo kamu diem gitu, sampe nanti juga gak bakal mau bahas. Kamu tolong lihat kebelakang. Tanya sama mbak Marni, apa saja yg perlu Ibu beli dipasar nanti," kata Ibu akhirnya.

Tanpa menunggu diberitahu 2 kali, aku segera bangkit kebelakang untuk mencari Mbak Murni yg sudah bekerja pada Ibu sejak permulaan rumah makan ini dibuka.

Maaf Bu! batinku sedikit nelangsa karena mengecewakannya. Tapi. . . .




ZAKI



DAMN!!!!!

Aku kembali menyumpah dalam hati. What the hell is swrong with today? Kenapa semua yg ada disekelilingku seakan-akan berkonspirasi untuk menyiksaku hari ini? Setelah semua yg terjadi tadi, aku masih harus mengerjakan quiz dadakan yg bahannya belum pernah kulihat sekalipun.

Belum lagi, soal yg terakhir kami disuruh membuat essay tentang cacat hukum yg ada di Indonesia, menurut pandangan kami sendiri sebanyak 10 paragraf. Minimal. Kalian dengar itu? MINIMAL 10 PARAGRAF!!!!! I mean, what the f*ck should I write anyway? Walhasil aku hanya membuat karangan seenak udel tentang banyaknya berita2 soal korupsi di tv2 nasional. Dan ku beri pendapat2 pribadiku.
Terserah deh! pikirku pasrah. Mungkin saja kalau aku mendapat nilai jelek dalam semester ini, aku akan mendapat dampratan lagi dari Mommy.

Dg cuek aku bangkit dan mengumpulkan kertasku lalu berjalan keluar. Lalu dengan cepat aku menuju area hot spot kampus. Aku harus segera mengirim berkas yg diminta Mommy. Semakin cepat aku menyelesaikan tugasku maka semakin baik. Aku ingi cepat2 santai dan terbebas dari kewajiban. Begitu sampai didekat gedung lab computer, aku mencari tempat duduk yg nyaman dan terlindung dari matahari. Meski speed buat internet disini lumayan lelet, aku harus menerimanya. I parah. I have no other option.

Seperti yg kuduga. . . . . .

Speednya benar2 parah. Tapi tak apalah. Saat aku baru saja menghela nafas panjang setelah melihat tulisan SENT di laptop ku, ponsel ku bordering.

“Pak arya?” gumamku dengan kening berkerut. Tumben kepala Humas panti mengubungiku pada jam seperti ini. “Ya,hallo?”

“Pak Zaki?”

Siapa lagi? Gerundengku dalam hati. “Ya Pak Arya. Ada apa?” tanyaku langsung dengan sedikit khawatir. Jangan2 ada masalah

“Pak Nurcahyo, beberapa menit yang lalu meninggal Pak,” lapor Pak Arya dengan suara pelan.

Tanpa sadar aku mengumpat pelan dg berita yg dia sampaikan. Pak Nurcahyo adalah salah satu penghuni Panti Jompo keluargaku. Beliau sudah menjadi member sejak 3 tahun yg lalu. Dulu beliau adalah salah seorang pejabat teras disini. Jadi kematian beliau pasti akan jadi berita disurat kabar.

"Pihak keluarga sudah dihubungi?" tanyaku cepat. Sial!! Bakalan banyak hal yg harus dibereskan. Kenapa harus hari ini sih?! gerundengku.

"Sudah Pak. Pihak keuarga meminta agar jenazah dikirim kerumah duka. Mereka juga meminta kita membereskan urusan dg pihak pers. Mereka tidak ingin ada berita keluar bahwa almarhum meninggal dipanti."

Aku tersenyum kecut. Tentu saja. Karena kalau berita itu keluar, mereka akan banyak mendapat cercaan dari pihak media. "Ya sudah! Bapak siapkan semuanya. Dokumen2 yg perlu saya tangani taruh saja di meja. Pulang kuliah saya akan segera kesana," putusku.

"Baik Pak! Selamat siang!" jawab Pak Arya dan menutup telepon.

SHIT!!!! It's gonna be another long day! Can it be any worse?! desahku kesal. Dengan meninggalnya member panti, apa lagi orang yg cukup dikenal, pasti akan banyak hal yg harus diurus. Surat2, kendaraan, barang2 peninggalan sampai pengendalian informasi. Seperti yg Pak Arya bilang tadi, pihak keluarga tidak ingin kalau orang tahu bahwa Bpk Nurcahyo meninggal di panti. Jadi pihak panti harus membuatnya tampak seolah-olah beliau meninggal dirumah sakit kami.

Dan itu berarti aku punya lebih banyak pekerjaan yg harus kuselesaikan.

Sial!!




REGHA


"Gw mesti gimana iniii??!" keluhku saat aku, Dhani, Pras, Vivi dan Regi sedang makan dikantin. Regi dengan murah hati mentraktir kami untuk makan nasi goreng krn dia menang taruhan dengan Vivi ma yg lain. 300 ribu! Lumayan!

"Emang kenapa sih Gha?" tanya Vivi seraya melahap nasi gorengnya. Tangannya yg lain sudah hendak meraih kerupuk udang, tp langsung ditepis oleh Regi.

"Jij gak boleh ambil yg lain. Cukup nasi aja ok?!" larang Regi.

"Tapi. . . ,"
"TINTA!!" tegas Regi lalu berpaling padaku. " Emang kenapa sih Gha? Kan endang kali bisa ngobras ma Zaki. Diana kan cucok abis!" lanjutnya.

Dengan muka memelas aku menceritakan pengalamanku pagi tadi ke mereka. Vivi yg biasanya sebodo teuing kalo ada makanan didepannya, kali ini terpaku bengong dg mulut terbuka. Regi yg biasanya selalu menemukan celetukan ngeselin jg hanya mampu menatapku. Pras dan Dhani yg cuman jadi figuran, cuma saling menatap lalu nyengir.

"Dan sekarang gw kudu wawancara dia. Kira2 apa reaksi dia coba?" tanyaku lemas.

"Kali aja dia gak bakal inget lo Gha," ujar Vivi mencoba membesarkanku.

"Setelah dia semprot gw didepan orang banyak gitu?" tanyaku dg nada skeptis.

"Iya juga sih! Dia pasti inget banget dengan insiden kayak gitu kan?" timpal Pras.

"Lagian muka si Regha juga muka yang mudah diinget kok! Siapa lagi coba mahasiswa yg ceking dengan muka pengemis kaya dia disini?" celetuk Dhani.

Aku langsung melempar botol minumanku kearahnya. "Anjrit!!!" makiku kesal. "Kira2 dong kalo mo nyela orang! Muka pengemis! Emang segitu sengsaranya muka gw?!" rutukku dan kembali berpaling pada Vivi dan Regi. Dua orang itu cuma saling menatap dan tersenyum simpul. Jelas sekali mereka mengamini komentar Dhani tadi. Aku langsung mengerang kesal karenanya. "Oh!! Yang bener aja?!! Kalian juga mikir begitu??!!" sentakku tak percaya.

"Regha. . . , tapi emang bener lho! Muka lo itu model2 orang sengsara banget. Apa lg cara lo berpakaian. Terkesan. . . ," Vivi tak sanggup meneruskan kalimatnya, malah menatap Regi mencari bantuan.

"Udik!" rangkum Regi singkat. Kalo mungkin tadi Vivi meminta bantuan Regi untuk memperhalus bahasanya, maka dia gagal. Karena Regi selalu menemukan istilah yg terburuk.

 Aku mengumpat lirih karenanya.

"Sorry Cin! Tapi sebagai fashion director di majalah kita, menurut ikke, jij emang ENGGAK banget! Ivan Gunawan bisa gantung diri kalo liat cara jij berpakaian. Coba dong lo benerin cara berbusana jij. Ini Bandung Cin! Kiblat mode orang2 se Nusantara. Saban hari jij cuma pake jeans belel ma t-shirt doang. Udah gitu warnanya butek pula. Jadi wajar aja jij tinta lakaran(tidak laku). Sebenernya jij cucok kok Cin. Cuman kudu ngerombak busana, gaya rambut, body language ma muka jij doang. Jadi jij musti pake pembersih muka dan. . . ,"

"Stop!" potongku dan mengangkat tangan kananku untuk menghentikannya. "Gw gak ngerti lo ngomong apa! Kalo gw kudu gitu, bisa2 gw gak makan sebulan tau?!" semburku jengkel.

Untuk sejenak tak ada reaksi dari mereka. Vivi dan yg lain yg ada disini sekarang adalah segelintir mahasiswa di kampus ini yg tahu tentang keadaanku sebenarnya. Mereka mengerti perjuanganku untuk bisa survive disini.

"Kalo lo mau, ikke punya lho pembersih muka yg ga kepake lagi. Ga cocok ma kulit ikke," celetuk Regi kemudian.

Aku tersenyum dengan tawarannya. "Ogah banget! Pembersih muka lo paling2 yg sering dipake ma emak2," selorohku.

"Idih! Rumpiiiikk!!!" pekik Regi centil seraya mencoba menabokku. "Jij kira ikke apaan?! Ngapain juga ikke musti pake kosmetik emak2!" omelnya judes. Aku cuma terkekeh dengan reaksinya.

"Terus, lo mau gimana soal wawancara lo itu Gha?" tanya Vivi, menyadarkanku kembali pada tugas yg harus aku lakukan.

"Yaaah. . . ,seperti yg lo bilang, gw mesti banyak berdoa kali ya, supaya dia gak inget muka gw. En semoga dia mau diwawancara," harapku dengan nada skeptis.

Regi dan Vivi tersenyum, mencoba membesarkanku. "Lo bilang aja kalo lo butuh bantuan," kata Vivi.
"Iya cuy! Ikke mau kok ngebantuin. Lumayan kan bisa ngecengin wajah cakep si Zaki. Kali aja dia naksir ikke. Em?" celetuk Regi centil membuat aku dan Vivi langsung menggerutu.

"Ganjen!"

"Gatel!" imbuhku yg Regi balas dg menjulurkan lidahnya.





Aku tak bisa mengenyahkan keresahanku sepanjang hari itu. Berulang kali hanya bisa menghela nafas masygul. Kenapa Mas Angga mesti memberikan tugas itu padaku sih? Berulangkali menyesali kecerobohanku tadi pagi. Penjelasan dosen yg ada didepan kelas sama sekali luput dari perhatianku. Entah apa yg dia katakan. Alvin yg sepertinya cemas bolak-balik mencoba menyadarkanku yg terus2an melamun. Aku cuma nyengir dg kekhawatirannya. Mungkin dia pikir aku masih shock oleh insiden pagi tadi.

Well. . . ,tidak sepenuhnya salah kan?

Hingga kuliah berakhir hari itu, aku tak bisa menenangkan pikiranku. Entah mengapa tugas yg diberikan Mas Angga kali ini benar2 terasa berat. Intuisiku mengatakan kalau aku akan banyak menemui hambatan dalam menyelesaikan tugas ini.


Saat pulang aku hanya mampu berjalan pelan dengan pikiran penuh dan langkah gamang. Sapaan beberapa teman hanya kujawab singkat dan tanpa semangat. Otakku terus berpikir bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau si Zaki itu menolak untuk diwawancara? Bagaimana kalau dia mempersulitku? Bagaimana aku bisa menghadapi Mas Angga?
Mas Angga selalu tegas dalam memimpin kami. Karena itu dia terpilih sebagai kepala editor majalah kami 3 tahun berturut-turut. Tahun ini dia akan lulus. Sudah pasti dia ingin tahun terakhirnya berjalan dengan gemilang. Usul polling cowok cewek terpopuler dikampus juga menjadi idenya. Jelas dia tak akan terima kalau aku mengacaukannya.

Perhatianku sedikit terusik oleh teriakan beberapa orang yg membuatku mengerutkan dahi heran. Lalu ada suara makian keras diikuti decitan ban yg begitu menyakitkan telinga. Dan dari sudut mataku, aku melihat sebuah mobil berwarna silver menuju ke arahku dengan kecepatan yg membuatku terpaku kaku ditempatku berdiri.

Aku hanya mampu melotot kaget! Tahu kalau aku akan langsung hijrah ke alam barzah kalu benda itu menabrakku.
Pengendara itu mengeluarkan suara gerungan keras dan mobil itu meliuk kearah kanan. Dan dengan derakan keras, mocongnya menabrak pot semen besar yg jaraknya hanya sekitar 2 meter dariku. Sementara body mobil itu bergerak miring dan berhenti sekita 10 senti dari tempatku berdiri!!!!!

Nafasku terhenti di tenggorokan.

Pengendara mobil itu, Zaki keluar dan menudingkan jarinya padaku. Wajahnya memerah, murka seakan-akan ingin menelanku. "YOU FUCKIN' MORON!!! MASIH BELOM SADAR JUGA BAGAIMANA CARA MEMAKAI MATA?!! LOOK WHAT YOU'VE DONE TO MY CAR?!!!" teriaknya membahana.

Detik itu juga aku yakin akan dua hal.

1. Aku berada dalam masalah yg SANGAT BESAR.

2. Zaki tak akan pernah lupa wajahku, selamanya!


Kepalaku sontan berdenyut sakit!








NOTE = Kamus Kecil Bahasa Banci Salon
Tinta = Tidak
Diana = Dia (terkadang bahasa gaulnya 'Dia' bisa jg pake Dese)
Cucok = Cakep
Ngobras = ngobrol
Endang = enak
Lakaran = laku
Ganjen = Genit

Selasa, 22 Oktober 2013

ACTORS WHO CAUGHT MY EYES










Okay, after I talked about Alexander Skarsgaard, now this dude is another actor that caught my eyes this days. Liam Hemsworth. I've seen some of his movies. The last Song (where he was in love for real with that skank Miley Cyrus), The Expendables 2, n also that movie with Dwayne Johnson. what was it? The Empire is it? Whatever.
Tapi yang jelas, nih cowok bener-bener penyejuk buat mata ya?
I mean he's young, hot and have so much potential. I like him!









Dan yang bikin iri adalah, He's Chris Hemsworth brother!!
I mean, look at 'em?!!!
Can u imagine being apart of those two lives?
I'll be drooling all over 'em!!
hahaha......
Kidding!
No, seriously!!
who wouldn't!!

Rabu, 26 Juni 2013

NINO'S BLUE VALENTINE


"Ini gimana No? Bagus gak?" tanya Gana seraya menunjukkan boneka beruang biru yg dipegangnya. Ada tulisan MISS YOU yg dibordir pada sebuah bantal kecil dan dijahitkan kedada boneka itu. Sebuah boneka dengan warna biru lembut berhias sebuah bantal berbentuk hati berwarna merah muda. Imut sekali.
Untuk sesaat Nino tak menjawab. Dia hanya melihat boneka itu dan menarik nafas kesal. "Kenapa lo ga nyari yang pink aja? Valentine kan identik sama pink. Tuh, banyak yang bagus," tunjuknya kedepan dengan dagu, kearah rak yang berisi tumpukan full boneka beruang berwarna pink.
"Dia ga suka warna pink. Sukanya biru!" sahut Gana lagi.
Nino kembali diam dan mengambil boneka tadi dari tangan Gana. Lembut dan empuk. Pasti enak kalo dijadiin bantal, pikirnya. Nino membalik labelnya dan langsung dibuat tercekat hebat melihat harganya. Rp.300.000,-. Tiga ratus ribu buat boneka sekecil ini?!! Cepat dilemparnya boneka tadi kearah Gana. "Jelek! Mending lo cari lainnya aja," komennya ketus.
"Lo ga nyadar kalo dari tadi kita udah ngubek-ngubek semua semua toko boneka di plaza ini, en gak ada yang lebih bagus dari ini?!"
"Siapa bilang? Tadi banyak yang bagus kok. Lo nya aja yang rese!" gerutunya kesel.
"Tapi gak ada yang warnanya biru kaya ini kan? Aku ambil yang ini!"
"JANGAN!!" seru Nino spontan membuat Gana kaget.
"Lo kok jadi agak-agak histeris gini sih? Kenapa? Gua perhatiin dari tadi lo aneh banget!" gerundeng Gana dan meletakkan telapak kanannya didahi Nino. Nino menampiknya dengan kesal. "Suhu lo normal kok."
"Gua kesel ma elo!" bentaknya judes.
Gana bengong gak ngerti. "Okay!! Jadi ini gara-gara gue. Bisa jelasin kenapa? Gua gak ngerasa salah lho!"
Nino mendengus keras dan melangkah pergi. Gana cepat-cepat mengikutinya. "Lo udah ngitung berapa duit yang lo abisin cuma buat ngerayain valentine bareng bokin lo?"
"Eehhmmmm. . .  ," Gana mengerutkan keningnya, berpikir. "Sekitar. . . , ah cuma dua jutaan kok!" jawabnya enteng.
Nino mendelik berang. "Tadi elo udah beli cincin emas seharga lebih dari 2 juta. Sekarang lo mau beli boneka konyol beruang itu yang harganya 300 ribu, dan lo bilang CUMA?!!"
Kata terakhir itu diucapkan -lebih tepatnya diteriakkan- oleh Nino dengan nada super marah. Beberapa orang yang berada disekitar mereka langsung menoleh.
Gana celingukan salah tingkah. Nino sebenernya malu. 2 orang cowok berantem di sebuah toko boneka sementara 1 nya memegang sebuah boneka beruang bukan pemandangan yang lazim. Tapi kalo brenti sekarang nanggung banget. Sekalian aja.
"Lo pikir duit jatoh begitu aja dari pohon?! Inget Ga, bukan elo yang nyari duit itu! Lo cuma mahasiswa di Jakarta ini. Ortu lo yang ada di Kalimantan sana yang banting tulang nyarinya. Sementara lo disini enteng aja buang duit 2 juta lebih cuman buat pacar. IQ lo berapa sih?"
Gana garuk garuk kepala sambil nyengir kuda. Gini nih kalo Nino marah. Serem! Selama satu tahun mereka berteman, hanya beberapa kali Nino marah besar kaya gini ke dia. Dan itu pasti berarti kalo Gana udah keterlaluan. Karena pada keadaan normal, Nino adalah teman yang ceria, menyenangkan dan perhatian. Tapi kalo lagi marah. . . , gawat!
"Tapi sebagian besar uang itu kan uang tabungan gue kok No," elak Gana.
"Oh ya?! Lalu darimana asal uang tabungan lo itu? Undian? Atau ada orang yang dengan baik hati transfer ke rekening lo?"
Kembali Gana cuman menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yaaa. . , enggak sih! Gue cuman pengen buat Nevi seneng kok No! Gua mau dia ngerasa seneng di hari Valentine's day taon ini."
"Gana, dia cuman pacar! Lo gak perlu kasih dia cincin. Itu lebih mirip kalo lo mau ngelamar dia, bego!" gerutu Nino lagi.
"Ya biarin! Syukur-syukur kalo dia mau?"
"KALIAN BARU JALAN 2 BULAN GANAAA!!"
"Lho? Emang kenapa? Gue bener-bener sayang dia!"
Nino tak tahu harus berkomentar apa lagi. Cepat dia berbalik dan pergi meninggalkan Gana yang berteriak memanggilnya.

Nino kesal!
Dia marah pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia bersikap kekanakan seperti tadi?! Harusnya dia bisa lebih baik dari itu. Tapi ternyata tidak. Dia mengacaukan semuanya. Padahal dia begitu menyayangi Gana. Biasanya dia pintar menjaga sikap dan berpikir rasional. Tapi semua itu hilang saat dia harus menghadapi Gana.
Kalau saja dia tidak jatuh cinta pada temannya yang satu itu! Mungkin semuanya akan lebih mudah! Atau kalau saja Gana juga gay, seperti dirinya. Semuanya akan jauuuuuuuhh lebih mudah. Tapi dia straight, dan dia temannya. Teman yang selama ini tidak tahu bahwa dia gay, dan dia jatuh hati padanya. Nino sendiri baru menyadari perasaannya setelah semua terlambat.
Andai saja dia bisa memutar balik waktu, mungkin dia akan melakukan semuanya dengan cara yang berbeda.

Perkenalan mereka diawali saat Nino salah mengirim sms. Waktu itu dia bermaksud untuk memberitahu Rina, salah satu teman kampusnya, bahwa besok ada paper yang harus dikumpulkan. Sialnya, Rina merupakan tipe-tipe Miss Ring Ring yang hobi banget gonta ganti nomor. Dia ganti nomor lebih sering daripada Paris Hilton ganti celana dalamnya. Bener-bener mafia kartu telepon deh! Karena itu Nino lebih sering menghapal nomornya daripada memasukkannya kedalam memori hp nya. Ngabisin memori doang kalo nyimpen semua nomor Rina.
Waktu itu, sms yang seharusnya diterima oleh Rina, justru nyasar ke hp Gana karena 2 digit nomor terakhirnya terbalik. Nino baru jelas heran saat mendapat balasan dari nomor yang dipikirnya milik Rina.

U siapa?
Kurang kerjaan ya?
Mo mnta kenalan?
ju2r aja!
from:08xxxxx

Mata Nino langsung nyureng membaca barisan kata-kata tadi. Dasar cewek sinting! gerutunya dalam hati dan langsung membalasnya.

Ini gua Nino, kutil!!
To:08xxxx sent

Balasannya :
Gue bukan kutil.
Nama gue Gana!
Lo Nino anak mana?
Salah 1 fans gw y?
From:08xxx

To: 08xxx
Rina, ga usah rese deh!
Paper itu harus dikumpulin besok!
message:sent

Maaf,skali lg, gw bukan Rina/kutil
Nama gw Gana.
Ngaku aja deh kalo mau kenalan.
Udah biasa lg!
From:08xxx

Nino langsung membunuh hp nya setelah membaca sms itu. Dasar narsis gebleg!!
Dan ternyata benar!
Keesokan harinya, saat dia bertanya pada Rina, cewek itu menegaskan kalau dia sudah salah pada 2 digit nomor terakhir. Malah sekarang dia sudah ganti nomor lagi. Jelas Nino misuh-misuh mendengarnya. Namun terus terang, dia malah jadi penasaran dengan sosok Gana.
To:08xxx
Eh Gan, sorry.
Kmrn gw salah kirim.
gw pikir lo Rina temen gw.
Gw salah ma 2 nomor trkhr.
Kebalik!
SENT

From:08xxx
Lho? Masih gak mau ngaku jg?
Udah dibilang jujur aja.
Ngomong aja lngsng kalo mo kenalan
Udah biasa kalee

To: 08xxx
Rese!
Sok kecakepan bngt sih lo!
SENT

From:08xxx
Lho?
Emang cakep kok!
Mo bilang apa lg?
Udah dari sononya!

To:08xxx
Idih! Narsis!!!
Ga pernah ada yg blng kalo lo kurang waras?!

From;08xxx
Ga ada tuh!
Malah ada bbrp cowo yg blng gw kurang jelek!
Abis mrk kalah cakep trs!
Gmn hayoh?!!!

Nino ngakak membacanya. Kayaknya dia asyik nih buat sparing partner! pikirnya. Dan semenjak itu, mereka selalu saling kirim sms. Budget pulsanya memang membengkak. Terkadang mereka saling ngobrol dan asyik bercerita hingga lupa waktu. Gana bilang, dia adalah salah satu teman pertamanya. Gana berasal dari Kalimantan dan tidak kenal siapapun di Jakarta ini. Keputusannya merantau ke Jakarta sendiri sempat ditentang oleh orang tuanya. Tapi dia nekat. Karena itu, dia senang sekali berteman dengan Nino.
Hingga kemudian Gana ngajak ketemuan.
Mulanya Nino ragu kalau itu ide yang bagus. Dia sudah merasa cukup asyik dengan hubungan mereka sekarang. Dia gak mau kalau penilaiannya pada Gana akan berubah kalau mereka sampai bertemu. Lebih gawat lagi, kalau nanti hal itu disebabkan oleh faktor fisik. Bukannya mau sok pilih-pilih teman, tapi pasti akan muncul rasa segan untuk menghubungi lagi kalo misalnya ia mendapati Gana adalah Oom-Oom jelek, item, buntek plus tonggos. Kan gak asyik kalo dia sms an ma orang kaya gitu!
Tapi Gana memaksa!!
Karena tak bisa lagi menemukan alasan untuk ngeles, Nino akhirnya menyetujuinya. Meski dengan setengah hati. Dia sudah pasrah, kalo nanti hubungan mereka bakalan bubar. Habis mau gimana lagi?
Merekapun janjian untuk ketemu di sebuah restoran fastfood yang ada di salah satu plaza terkenal.
Gana bilang kalo malam itu, dia bakal pake kemeja warna merah. Nino sudah langsung agak ilfil mendengar pilihan warnanya.
Aduuhh!!!
Sepanjang yang dia tahu, hanya segelintir orang, apalagi cowok, yang pantes pake warna itu. Gak sembarang orang bisa cocok.
Kayaknya gue bakalan bener-bener bubar temenan nih! pikirnya.
Dan malam itu, dia bener-bener dibuat shock.
Dia masuk ke restoran fastfood itu, dan celingukan mencari sosok Gana. Ada dua orang disana yang memakai kemeja warna merah. Dan keduanya bener-bener beda jauh!
Yang satu adalah seorang cowok yang -ampun deh!!!- cakep banget! Baju merah yang dipakainya begitu pas dengan kulitnya yang putih bersih. Wajahnya pun mulus, dengan rona kebiruan diatas bibir, dagu dan sisi wajahnya. Anehnya, dengan semua atribut machonya itu, wajahnya justru memancarkan kesan polos, lugu dan hampir-hampir kekanakan. Perpaduan yang unik dan menawan. Sayangnya, Nino melihat dihadapannya ada 2 buah nampan meski kursi didepannya kosong. Itu berarti cowok itu sudah bersama temannya yang sekarang gak jelas pergi kemana. Kesimpulannya, dia bukan Gana.
Dan seorang lagi. . .
Dia hampir jatuh pingsan!
Ada seorang Oom-Oom dengan kepala agak botak, perut yang menonjol dan sedang makan dengan rakusnya. Dia duduk sendirian. Mencaplok makanannya dengan lahap.
Ya Tuhan!! Hanya dua orang ini yang memakai kemeja merah. Kalau cowok keren itu sudah bersama temannya, berarti dia bukan Gana. Artinya. . .
TIDAAAAAAAAKKKK!!!!!
Nino sudah akan berbalik untuk pergi saat cowok dengan muka innocent itu bangkit dan melambaikan tangannya. Nino bengong, sembari celingukan kesamping kiri kanannya. Semua orang duduk!
Aku?! tunjuk Nino dengan bahasa isyarat pada dirinya sendiri. Cowok itu mengangguk. Gak salah nih?! pikir Nino ragu, meski tak urung dia mendekat.
Cowok itu tersenyum dan mengulurkan tangannya setelah mereka berhadapan.
"Nino? Aku Gana!" katanya memperkenalkan diri sembari memamerkan barisan gigi putihnya yang rapi dan bersih.
Untuk sesaat Nino bengong. "Kau Gana? Lalu. . . ,"
Nino cuma mampu menoleh pada nampan lain yang ada dihadapan nampan milik Gana. Hidangannya masih utuh, tak tersentuh.
"Aku sendiri. Aku membelinya untukmu. Jadi kita bisa ngobrol sambil makan. Tadi. . . , aku laper!" jelas Gana dan nyengir agak malu.
Untuk sesaat Nino cuma mampu diam, lalu menghela nafas lega. "Ya Tuhaaann!! Syukurlah," ia menjatuhkan dirinya di kursi untuk kemudian tertawa kecil.
"Kenapa?" tanya Gana heran dan ikutan duduk.
"Gua kira Oom-Oom yg disana itu elo!" cetus Nino dan menuding ke arah kanan. Gana cuma tertawa.

Itu awal dari kedekatan mereka.
Nino benar-benar menyukai Gana. Bukan hanya karena fisik Gana yang menarik, tapi karena cowok itu benar-benar menyenangkan. Nino lebih menyukai persahabatan, karena meski dia gay, Nino masih belum come out pada siapapun. Selama ini, dia merahasiakan kecenderungan yang dimilikinya dari orang lain. Bukan hanya karena dia malu, tapi lingkungannya masih menganggap gay sebagai cacat. Dan Nino tak mau dipandang atau diperlakukan sebagai makhluk aneh.
Bukan hal yang mudah bagi Nino untuk membaur. Terkadang dia harus menjadi orang lain dan bersikap sepenuhnya seperti orang straight jika bersama dengan teman-teman kampusnya. Ikutan ngecengin cewek, ngomongin bagian-bagian tubuh cewek, pacaran ma cewek, dan yang paling parah, nonton bokep straight bareng temen-temen cowoknya.
Kalo nontonnya doang sih gak masalah. Yang jadi bencana kalo salah satu, atau salah dua atau salah lebih dari itu temennya udah kadung horny dan mulai ngocok senjatanya ditempat kejadian perkara. Jadilah ajang nonton bokep itu ke ajang adu panjang, adu cepat atau adu banyak. Nino kudu ekstra diem kaya patung supaya matanya gak jelalatan ngecengin rudal temen-temennya. Dia harus mati-matian pasang muka santai meski dede kecilnya udah berontak abis dan jantungnya empot-empotan.
Resiko jadi gay diantara begundal-begundal mesum!
Tapi Nino sudah bisa sedikit menguasai diri berkat didikan keras dari temen-temennya yang edan itu. Berkat mahasiswa-mahasiswa cabul itu dia jadi pintar menguasai diri. Dan berteman dengan cowok yang bagaimanapun menarik dan edannya, dia tak punya masalah. Tak akan ada orang yang tau kalau dia gay. Dia sudah menjadi ahli dalam menyembunyikan identitas rahasianya.
Begitu juga saat dia berteman dengan Gana. Meski dia mengakui kalau Gana cowok yang menarik, Nino bisa dengan santai berteman dengannya. Dia merasa asyik bersama Gana. Cowok itu benar-benar sepolos kelihatannya.
Seperti pengakuan Gana. Nino adalah teman dekatnya yang pertama di Jakarta, selain orang-orang yang dikenalnya di fakultas (mereka satu universitas, hanya saja beda jurusan). Gana juga mengaku jarang mempunyai teman cewek. Baik disini atau di kampung halamannya sana. Malah hampir-hampir tak pernah bergaul sama cewek. Dikampungnya di Banjarmasin sana, orang tuanya bisa dibilang orang yang terpandang dan religius. Segala macam hubungan akrab dengan cewek dilarang keras, kecuali bila sudah menikah.
Nino hampir pingsan karena ngakak setelah tahu, bahwa meski telah berada di semester 2 sebuah perguruan tinggi di Jakarta, Gana hanya pernah pacaran satu kali. HANYA SEKALI!
Padahal secara fisik dia menawan. Tapi karena status dan nama keluarganya, dia harus menjaga sikap. Padahal dia pengen banget bergaul normal seperti teman-temannya.
Nino sendiri sadar kalo dia bukan cowok super. Bisa dibilang dia cowok biasa-biasa saja. Kulitnya kecoklatan dan berambut lurus. Tinggi sekitar 173 cm. Kadang dia justru merasa risih saat berjalan dengan Gana, karena cowok itu terlihat jauh lebih cerah darinya. Apalagi Nino telah sadar kalau dirinya gay. Tapi kalo pacaran sama cewek, dia jauh lebih berpengalaman.
Jadi mumpung lagi jauh dari orang tuanya Gana, Nino merancang rencana untuk mencarikan pacar buat Gana. Mereka bakal hunting bareng. Kayaknya bakal seru.
Setelah melalui tahap seleksi, kandidat yang muncul adalah Nevi. Anak fakultas kedokteran. Nino yang kebagian tugas menyelidiki kepribadiannya. Dimulai dengan perkenalan mereka diperpustakaan hingga akhirnya mereka berteman. Untungnya, Nino punya kepribadian yang supel dan cepat akrab. Jadi semua berjalan mulus. Dia lalu mengenalkannya pada Gana. Tidak sampai dua bulan, mereka jadian.
Nino masih inget bagaimana girangnya Gana saat melapor padanya.
"GUA JADIAAAAANNN!!!" teriaknya heboh dan memeluk Nino sambil lompat-lompat girang. "Makasih No! Lo emang hebat! Gue diterima!"
"Udah jelaslah! Siapa dulu dong sutradaranya. Nino!" sumbarnya dan menepuk dada.
"Iya deh! Lo hebat!" puji Gana pasrah. Padahal, dalam keadaan biasa dia gak bakal rela bikin pengakuan kayak gitu.
"Eh tapi, jangan mentang-mentang udah jadian, lo cuekin gue ya? Siapa lagi dong yang bakal kasih gue tumpangan gratis atau traktiran?!"
"Dasar gak mau rugi!! Ya pastilah! Lo bakal selamanya jadi sohib gue!"
Yeah! Dan memang seperti itulah kedudukan Nino dalam hati Gana. Hanya sebatas sohib!
Mulai saat itu, waktu Gana tidak lagi dihabiskan bersamanya. Dia harus berbagi dengan Nevi. Bahkan jatah waktu bermainnya lebih sedikit kalau dibandingin dengannya. Perhatian Gana juga jelas tercurah pada pacarnya.  Setiap malam minggu adalah hari wajib apel baginya. Di kampus mereka nongkrong bareng, pulang berdua, makan bareng. Tak ada lagi kegiatan yang dulu sering Gana lakukan bersamanya. Kadang dalam 1 minggu, mereka hanya bertemu sekali. Itupun cuma sebentar aja, karena terkadang kebersamaan mereka bakal terpotong dengan telepon dari Nevi yang minta dijemput disuatu tempat. Gana sendiri pasti langsung kabur.
Mau ngomong apa? Gana benar-benar jatuh cinta pada Nevi. Dan Nino tahu kalau Gana adalah tipe cowok yang sangat menghargai wanita. Dia begitu perhatian, pemurah, setia dan bertanggung jawab. Kualitas yang sudah jarang dimiliki oleh cowok pada umumnya dimasa sekarang. Dia selalu menjaga kesopanan serta perasaan pasangannya. Dia juga suka memberi kejutan yg menyenangkan.
Benar-benar seorang gentleman!
Dan Nino menyukainya. Diapun baru sadar, kalau dia tak ingin membagi Gana dengan orang lain. Dia ingin semua itu menjadi miliknya seorang. Hanya miliknya!
Dia ingin Gana disampingnya, menemaninya, menghiburnya saat dia bermasalah, membantu dan mendukungnya. Seperti yang selama ini Gana lakukan. Ganalah tempat dia bisa berbicara tentang masalah-masalah yang dia hadapi (terlepas dari status gay nya), begitu pula sebaliknya. Tapi hati, tubuh serta perhatian cowok itu bukan lagi miliknya. Cowok itu milik Nevi, nyaris sepenuhnya.
Pertemuan-pertemuan mereka selalu dibayangi oleh Nevi. Pembicaraan merekapun terbatasi tentang bagaimana hubungan Gana dan Nevi. Bagaimana sikap Nevi, kemarahan Nevi, perubahannya yang kadang membingungkan, pertengkaran mereka, atau bagaimana kebersamaan dan kebahagiaan mereka.
Semua memang terasa wajar dan biasa pada awalnya. Nino sendiri selalu berusaha membantu Gana mencari jalan keluarnya. Mendengarkan dan kadang merukunkan mereka kalau lagi pada angot. Sering sekali dia jadi jembatan antara mereka berdua, jika terjadi salah paham. Semua terasa normal dan menyenangkan pada awalnya. Sampai kemudian dia semakin memahami sisi terdalam Gana, dan jatuh cinta padanya.
Karena sepanjang kebersamaan itu, semua pebicaraan tentang Nevi, masalah-masalah mereka, dan bagaimana Gana bersikap, Nino menjadi begitu terpesona oleh kepribadian Gana. Dia suka cara Gana memperlakukan Nevi. Dia melihat bagaimana cara Gana menyayangi Nevi, dan dia ingin Gana menyayanginya sperti itu. Dia ingin Gana lebih memperhatikannya daripada Nevi. Dia ingin semua kelembutan, perhatian, senyuman serta tatapan mata itu menjadi miliknya. Hanya miliknya.
Dan itu mustahil.
Karena dia tahu, bagaimana sayang Gana pada Nevi. Dia juga tahu, kalau kedudukannya dihati Gana, tak lebih dari seorang sahabat. Tempat Gana mengadukan masalahnya. Rekan Gana dalam berpikir mencari jalan keluar saat bermasalah, dan tempat Gana berbicara saat cowok itu membutuhkan teman. Tak lebih!
Nino membenci dirinya sendiri.
Sumpah!
Dia tak ingin seperti ini. Dia ingin menyingkirkan semua perasaan itu. Namun sulit! Bagaimana caranya? Saat dia bersama Gana, dia hampir-hampir tak bisa memalingkan muka darinya. Menikmati saat Gana berbicara, cara cowok itu makan, minum atau tertawa, meski dia tak pernah bisa lagi menatap matanya. Dia tak bisa lagi beradu pandang dengan Gana. Nino takut kalau semua perasaannya tergambar jelas dimatanya. Dia lebih senang memperhatikan cowok itu, tanpa dia menyadarinya. Melihat cowok itu berjalan, bergerak aktif ataupun melakukan hal-hal lain yang sebetulnya biasa, namun tiba-tiba menjadi begitu menakjubkan untuknya.
Nino suka sekali bagaimana Gana tertawa, berbicara atau hanya diam saja. Semua itu membekas dihatinya. Hal-hal sederhana itu akan diingatnya saat ia menjelang tidur. Walau dia harus dihadapkan oleh kenyataan pahit. Gana bukan miliknya.
Tak jarang dia menjadi bete saat tiba-tiba Nevi muncul ketika dia bersama degan Gana. Dia merasa tersudut saat melihat mereka berdua. Melihat mereka duduk begitu dekat, melihat tangan mereka bertautan, melihat bagaimana mereka berbicara dan bertatapan, melihat mereka bercanda, apalagi berpelukan.
Hal-hal seperti akan merusak seluruh harinya. Dia akan lebih memilih pergi daripada melihatnya. Meski hal itu jarang bisa dilakukannya. Gana akan menahannya dan mengajaknya bicara. Sialnya, topiknya adalah cerita-cerita tentang kencan mereka berdua dan masalah-masalah mereka. Bayangkan betapa menyiksanya hal itu.
Dia merasa sesak dan sulit untuk bernafas. Tapi dia diharuskan untuk tetap bersikap ceria, ramah dan menjadi pendengar setia. Tiba-tiba saja, tersenyum menjadi satu hal yang sulit baginya.
Dia menjadi tak bersemangat dan membenci dirinya sendiri. Dia seperti memiliki kepribadian ganda. Didepan mereka dia tersenyum. Dibelakang dia meratapinya. Dia benar-benar merasa kalau dia telah menjadi orang munafik. Merasa begitu nelangsa. Lagu-lagu sentimentil tentang patah hati tiba-tiba terasa begitu pas dan dibuat khusus untuknya, membuatnya semakin merasa terpuruk.
Kadang Nino merasa tak sanggup lagi menahannya. Ingin dia mengungkapkannya pada Gana. Tapi saat dia berhadapan langsung dengannya, saat ia melihat binar dalam mata itu ketika bercerita tentang Nevi, mulutnya sontan terbungkam. Dia tak mampu merusak kebahagiaan Gana. Terlebih dengan resiko kalau mungkin dia akan kehilangan Gana. Bisa saja Gana tak bisa menerima kecenderungannya dan memusuhinya. Nino tak ingin hal itu terjadi. Sehingga kadang dia ingin menjauh saja. Namun hal itu juga sulit. Apa lagi Gana tahu betul jadwalnya, jadi susah untuk menghindar meski dia ingin. Baginya, satu hari yang terlewat tanpa melihat Gana adalah hari yang buruk. Dia harus melihatnya, meski dari kejauhan. Itu sudah cukup melegakan.
Masalahnya terjebak sampai di titik itu. Dia bingung harus bagaimana. Efeknya Nino jadi sering bete, uring-uringan gak karuan, dan puncaknya adalah kemarin. Beberapa hari menjelang valentine. Sore itu Gana datang kerumahnya dan mengajaknya ke sebuah plaza ternama.
Cowok itu membawanya masuk ke sebuah toko perhiasan yang cukup mewah. Gana bilang dia ingin membelikan sebuah cincin di hari Valentine untuk Nevi.
Nino jelas tercengang. Dia menolak ide itu dan mengajukan berbagai macam argumen.
"Gana, ini cuma valentine konyol! Lo gak perlu beli cincin kaya orang mo ngelamar!"
Gana hanya tersenyum sekilas dan kembali jelalatan mencari-cari cincin yang cocok. "Gua pengen kasih dia kejutan No! Gua gak bermaksud ngelamar dia. Tapi kalo dia menganggap begitu, kebetulan! Gua gak nolak kok! Menurut lo mana yang bagus buat cewek No?" tanyannya seolah-olah tak mendengar protes Nino tadi.
"Gak tau!" sahut Nino ketus. "Gua gak nyangka lo bakal segila ini!" gerutunya.
Gana mengangkat bahunya. "Mungkin! Lo bakal tau apa yang gw rasain kalo lo jatuh cinta Bro! Untuk ngebahagiain dia, gue rela melakukan apa aja," katanya tanpa memalingkan muka, tak tahu akan Nino yang jadi sesak nafasnya, dan hanya mampu menatap punggungnya dengan sorot terluka.
Gua udah tahu gimana rasanya Ga! Sayangnya cinta gua bertepuk sebelah tangan, desahnya dalam hati.
"Liat yang itu Pak!" pinta Gana pada penjaga toko. Pria itu mengambil sebuah cincin putih dengan sebuah permata tunggal kecil ditengahnya. Sebuah cincin dengan design sederhana. Tampak lembut dan anggun.
"Pas!" komentar Gana setelah mencobanya. "Gua udah ngukur cincin yang pernah dia pake. Gedenya cuma sebatas jari kelingking gue. Gimana menurut lo?" tanya Gana dan mengangsurkannya pada Nino. Nino mengamatinya sejenak. Bagus!
"Terserah lo!" jawabnya acuh dan mengembalikan cincin itu.
"Saya ambil yang ini pak! Berapa?"
"Dua juta seratus Mas!" jawab Bapak itu kalem.
Nino mendelik hebat! Tapi Gana dengan santai mengangsurkan kartu kreditnya.
"Ga!!"
Gana cuma mengangkat tangan mendengar teguran Nino, mencegahnya untuk berkomentar lebih lanjut. Nino hanya mampu diam.
Ya Tuhan! Dia begitu memujanya. Bantu aku menata hatiku! keluhnya dalam hati.
Gana mengambil kotak berisi cincin yang diberikan oleh Bapak itu, dan berbalik. "Dia pantas mendapatkannya," katanya singkat saat melihat sorot protes dari Nino. "Sekarang anterin cari boneka ya?" katanya dan menarik tangan Nino.

Nino menarik nafas panjang saat melirik kalender kecil di meja belajarnya. Tanggal 14. Hari Valentine. Gana pasti sedang makan malam dalam suasana romantis saat ini dengan Nevi. Dan dia hanya sendiri disini. Di kamarnya.
Beberapa hari ini dia memang menghindar dari Gana. Nino memutuskan untuk menjauh dari kehidupan cowok itu. Mencoba membiarkan semuanya mengendap oleh waktu. Dia tak sanggup lagi bersama Gana dan memandang kemesraan cowok itu dengan Nevi. Dia tak mampu melihat bagaimana nyamannya kepala Nevi bersandar dibahu Gana. Saat kepala mereka bertemu dan tubuh mereka berdekatan.
Ya Tuhan! Tidak!! Dia tak mau melihatnya. Tidak lagi. Sumpah!!
Dadanya terasa nyeri luar biasa.     
Dia pun tak sanggup untuk menghancurkan hubungan mereka. Memikirkannya saja membuatnya jijik. Dia merasa marah pada dirinya sendiri, tiap kali kalimat harapan putusnya Gana dan Nevi melintas dipikirannya. Jahat sekali! Dia tak berhak mendoakan keburukan bagi orang lain. Apalagi untuk Gana. Dia akan turut terluka kalau cowok itu sakit.
Jadi, biar waktu menyembuhkan segalanya. Separah apapun luka, suatu saat akan sembuh juga, meski kadang berbekas. Nino hanya akan menganggapnya sebagai satu episode kisah manis dalam hidupnya. Sama seperti orang-orang yang pernah datang dan pergi dalam hidupnya. Biar saja dia menyimpan perasaannya sendiri.
Nino bangkit dari tempat tidurnya. Mungkin moodnya akan jauh lebih baik dengan menonton tv. Biasanya banyak film bagus yang diputer dihari spesial seperti ini. Lumayanlah, meski semua bakalan bertema cinta. Darpada bengong melamun!
Langkah Nino terhenti diruang tengah saat bel rumahnya berhenti.
"Biar Nino yang buka!" kata Nino saat ibunya muncul dari arah dapur. Dia kedepan dan membuka pintu. Dihadapannya muncul sebuah boneka beruang pink dengan tulisan MISS YOU ditengahnya. Sebuah tangan menggoyang-goyangkan boneka itu.
"Happy Valentine's day!!" seru Gana yang muncul kemudian.
Nino terdiam dan memandang Gana tak percaya. "Ga. . ., lo bilang. . "
"Iya tahu!" potong Gana. "Gue emang mau makan malam bareng Nevi. Tapi gue gak bisa pergi sebelom ngucapin met valentine ke lo!"
"SURPRISE!!!" Nevi berseru nyaring dan berdiri dibelakang Gana. Dia mengulurkan sebuah kotak berwarna hitam padaku.
"Nevi," gumam Nino pelan sembari mencoba tersenyum.
"Met Valentine ya? Gana gak mau pergi kemana-mana sebelom nemuin elo. Nih, hadiah buat lo! Buka!" ujarnya ceria.
Nino menerima kotak itu dan perlahan membukanya. Dia tercengang saat melihat sebuah kalung kecil dengan bandul bermata tunggal yang mungil untuknya.
"Ga seberapa No! Tapi gue sama Nevi pengen lo memakainya. Kita tau kalo kita ga bakal jadi kalo lo ga bantuin. Kita ga bakal jadi gini kalo lo ga masuk dalam kehidupan kami!"
Leher Nino tercekat. Dia hanya mampu memandang Gana nanar.
"Selama ini lo udah baek banget ma gue. Dengan semua kecerewetan elo, gua gak ngerasa sendiri di Jakarta. Gue ngerasa ada keluarga dideket gue. Elo No! Kalo gak ada lo, mungkin gue gak akan jadi diri gue sendiri begini. Jakarta gak ramah No. Tapi berkat lo. gue bisa baik-baik aja. Dan lagi. . . , lo udah memberi Nevi dalam hidup gue. Gue berterima kasih banget ma elo No! Gue pengen lo tetep jadi temen gue. Gue gak tau kenapa, tapi akhir-akhir ini gue ngerasa lo ngejauh. Apapun sebabnya, kalo gue salah, gue minta maaf No! Gue gak mau musuhan ma elo!"
Nino merasa matanya perih.
"Elo gak percaya?" tanya Gana karena kediaman Nino. "Iya gue tau, kemaren gue bikin lo marah. Bener! Gue cuma mo bikin Nevi seneng No. Gue mau dia bahagia!" Gana meraih tangan Nevi dan menggenggamnya. Mendekatkannya didada. "Gue ngerasa beruntung memilikinya. Dan itu semua karena lo. Gue sayang dia No! Dan gue juga sayang kok ma elo. Sebagai sohib. Jangan ngambek lagi ya?" pinta Gana dengan tampang memohon.
Aku tak sanggup merusak kebahagiannya! Bagaimana aku bisa? pikir Nino sedih.
"No. . . ," panggil Gana.
Nino memandangnya diam.
"Baikan ya No?! Gua gak ada temen lagi yang sebaik elo," ujar Gana dengan nada lembut membujuk.
Nino hanya tersenyum tipis dan berusaha setengah mati untuk menahan airmatanya. Teman baik! Yaaah. . . memang hanya seperti itulah posisi Nino dalam hati Gana. Dia harus menerimanya. Jadi dia hanya mampu mengangguk samar, karena kalau tidak dia akan mempermalukan dirinya dengan menangis didepan mereka.
Yeaaah! Kini aku tahu tempatku. Aku tahu dimana posisiku.
Wajah Gana langsung sumringah melihat anggukan Nino.
"Tapi gua gak bisa seperti dulu lagi Ga!" cetus Nino pelan. Kalimatnya memudarkan senyum diwajah Gana. Cowok itu menatapnya tak mengerti. Nino menatap langsung kematanya. "Sudah waktunya bagi kalian berdua untuk melangkah dan belajar sendiri. Sekarang kalian harus menghadapi semua masalah berdua. Belajar lebih memahami satu sama lain. Belajar untuk saling menghargai. Belajar buat mengendalikam ego masing-masing dan menyatukan perbedaan kalian. Nggak baik kalo gue terus ngedampingin kalian. Akan muncul masalah-masalah baru kalo gue tetep seperti dulu. Gue akan melihat dari jauh. Gue akan selalu ada buat kalian. Gue akan selalu siap kalo kalian butuh gue."
"Tapi No, gue bakal kehilangan. . ."
"Gue ga bakal kemana-mana Ga!" potong Nino. "Kapanpun lo butuh gue, gue akan selalu ada. Kuliah gue tetep kan? Gue juga ga bakal pindah rumah. Lo tau dimana lo bisa nemuin gue. Iya kan?" ujar Nino pelan dan tersenyum.
Gana sudah hendak protes, tapi Nevi menahan gerakannya.
"Dia benar Ga! Kita gak bisa selalu bergantung padanya. Nino punya kehidupan sendiri," ujar Nevi lembut dan meremas jemari Gana yang dipegangnya. Dia lalu berpaling pada Nino. "Tapi ada satu hal yang harus gue tegesin No. Kita berdua juga masih butuh elo. Jangan jauh-jauh dari kami. Lo masih sohib kami. Jangan tinggalin kami ok?" pinta Nevi.
"Iya No! Nevi bener!" tegas Gana.
Nino mengangguk dan tersenyum "Pasti!"
"Dan kapanpun lo butuh kami, jangan ragu buat langsung hubungin kami. Kami akan selalu siap!"
"Gua tau!"
"Kami sayang lo No" kata Nevi.
Kembali Nino mengangguk dengan leher tercekat. "Gue juga," balasnya pelan. Mereka tersenyum. Ada beban yang terasa telah terangkat dari dada mereka. Semua berakhir dengan baik meski keadaan tak bisa kembali secara utuh seperti sebelumnya.
"Eh, tunggu dulu!" potong Nino tiba-tiba memecah keheningan. "Hadiah ini lo dapet darimana Ga?" tanya Nino dengan nada tajam.
Gana nyengir dan menggaruk kepalanya. "Sebenernya kemaren gue sempet dimarahin ma Nevi waktu gue cerita kenapa lo ngamuk. Dia bilang wajar kalo lo marah. Jadi dia ngajak gue buat ngembaliin cincin itu. Tapi kita akhirnya kembali kesana cuma buat tuker dengan kalung itu. Nevi ngajak patungan buat beli hadiah itu ke elo!"
"Iya No! Hadiah dari kami berdua buat elo!"
Nino mendesah masygul. "Seharusnya kalian gak perlu melakukannya!"
"Kami cuman pengen lo ga ngamuk en seneng lagi No. Sama seperti Gana pengen gue bahagia. Gue pengen lo juga ngerasain bahagia yg kami berdua rasain."
Nino terpaku menatap Nevi yang tersenyum dihadapannya. Lagi dia merasa tercekat dengan ketulusan sepasang kekasih dihadapannya. Ya Tuhan, mereka begitu tulus, baik dan memperhatikanku. Kenapa pernah terlintas dipikiranku agar mereka bubaran? Jahat sekali aku!
Nino tersenyum.
"Sebaiknya kalian lanjutkan acara kalian malam ini. Jangan sia-siakan!"
Gana tersenyum dan menggamit tangan Nevi. "Lo bener. Nah, kami pergi dulu. Lo mau oleh-oleh apa?"
"Jaga aja Nevi baik-baik," pesan Nino pelan. Gana mengangguk dan pamit. Nino hanya tersenyum dan membalas salam mereka. Ditatapnya mereka sampai mobil Gana menghilang dari pandangan. Dia lalu menghela nafas panjang dan mendongak.
Tuhan, aku tau Kau punya rencana yang indah untukku. Suatu hari, suatu saat dan pada suatu tempat, Kau pasti mempertemukanku dengan takdirku dan menyatukan kamu. Mungkin itu bukan Gana. Dan sekarang bukanlah waktuku. Kuatkan aku dalam menunggu Tuhan!! doanya khusuk.

March,15th 2006.
Inspired by my valentine' s day this year!
My heart's in blue.
DJ's


http://www.mediafire.com/?re7fv9bg7x0gb89