Translate

Jumat, 23 Maret 2012

MEMOIRS II (Dimaz' classic story) part 1-3

note: Kisah ini sebetulnya sempalan dari novel yang sedang gw garap. Entah gw bisa upload novel itu suatu saat disini atau enggak. Masalahnya novel itu terdiri dari 4 buku(rencananya) n cerita dibawah ini adalah bagian dari buku ke 2 yang masih belum gw rampungin. Gw lebih terbiasa bikin cerita pake tulisan tangan sih. Lebih ngalir, karena itu lama. Insyaallah, niatnya gw mau upload buku 1 nya doang. Tapi. . . , liat ntar deh.
N sengaja gw ga kasih detil soal setting ceritanya karena gw ga mau ada yang berpikiran buruk pada satu hal yang gw sebutin dalam cerita ini. Ini cuman kisah hidup dari seseorang yang terlempar dalam alur drama kehidupan yang nggak pernah ia rencanakan. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari cerita hidupnya.
Hope u guys can enjoy it to!
Eh kelupaan,benernya cerita ini belom siap gw posting. Tapi berhubung banyak temen2 yg nagih baik dari email or sms, jadi akhirnya gw posting. But honestly, masih belom gw edit plus selesein versi aslinya.
Jadi maaf2 aja kalo ada yang kurang berkenan. N pastinya, gw gak bakalan bias posting tiap hari kaya dulu. Jadi mungkin cuma seminggu sekali. Maaf banget yaaaa??!!
Thanks banget buat temen2 yg udah mau kasih dukungan ke gw buat nulis lagi!



Prolog

Namaku Dimaz. Teuku Dimaz Putra Alamsyah. Tak perlu kukatakan darimana asalku, karena kalian pasti sudah bisa menebaknya. Aku seorang mantan model, pernah beberapa kali jadi bintang iklan dan pernah juga jadi bintang tamu dalam beberapa sinetron. Aku bukan bintang besar tp. . . yeah orang-orang mengenalku. Dan seperti kebanyakan para pesohor/orang terkenal lain, aku juga mempunyai sebuah rahasia yg mati-matian kututupi dari mata khalayak ramai.

Aku gay!

Bukan hal mudah bagiku untuk mengakui hal itu. Bukan hanya karena hal itu tabu bagi hukum adat dan agamaku, tapi juga karena butuh waktu yang lama bagiku untuk tahu dan menerimanya sebagai bagian dalam diriku. Penyangkalan merupakan reaksi pertamaku saat tahu bahwa aku bisa menyukai sesama jenis. Bahkan aku meninggalkan cinta pertamaku tanpa ada satu katapun krn kebodohanku itu.
Disini, aku ingin bercerita. Membagi kisahku dengan kalian. Mungkin beberapa diantara kalian akan berpendapat kalau masalah yang kualami dalam ceritaku ini adalah masalah klasik yang sudah sering kali terjadi. Namun aku sedikit berharap dengan membacanya kalian  tak akan pernah melakukan kesalahan bodoh seperti yang aku lakukan.

I

Aku lahir dalam lingkungan yg normal,bahkan cenderung religius. Ayahku memiliki gelar bangsawan dalam suku kami. Dan beliau juga seorang pemuka agama. Beliau orang yang disegani dan mempunyai pengaruh di daerahku. Orang tuaku jg terbilang cukup sukses. Jadi secara sosial ekonomi, aku termasuk baik. Aku dibesarkan dengan cara yang terhormat dalam lingkungan dan adat yang agamis. Dimana para pria dan wanita dipisahkan dan dijaga agar tidak terjadi kekacauan. Dan aku tumbuh dengan normal, tanpa ada satu insiden yg bisa jadi trauma.

Dari SD sampai SMP aku bersekolah di sekolah putra. Baru pada waktu SMA aku bersekolah di tempat yang heterogen. Disinilah aku menapaki dunia baru yang sebelumnya belum pernah ku pahami keberadaannya. Disini aku bertemu dengan berbagai macam anak dengan berbagai macam karakter yang unik dan menarik.

To be honest, aku cukup populer disekolah. Jadi aku tak memiliki kesulitan dalam berteman. Aku dikenal sebagai anak yang santun,sopan dan tak pernah bermasalah. Guru-guru pun sedikit segan padaku. Hal itu juga didukung dengan fakta bahwa ayahku, adalah ketua dari Dewan Komite Sekolah.

Disekolah yang heterogen ini, aku bertemu dengan teman -teman yang baru. Mereka yang dulunya bersekolah ditempat yang juga heterogen Jadi mereka punya sifat yg agak berbeda dg teman-teman SMP ku dulu. Teman-teman cowokku disini lebih ekspresif, jujur, berani dan begitu bebas. Mereka tidak canggung-canggung mengekspresikan apa yang mereka rasa dan pikirkan. Tak ada tameng. Sementara teman-teman cewekku. . . . agak membosankan. Hampir semua dari mereka bersikap sangat ramah, sopan dan mencoba menarik perhatianku. Tindakan yang salah. Karena mereka justru membuatku bosan.
Aku justru lebih menyukai teman-teman cowokku yang unik. Meski ada satu yang boleh dibilang. . . . lain dari yang lain. Rafly.

Rafly Risyad Bayu Kurniawan lengkapnya.

Sejak awal masuk sekolah, dia sudah menjadi topik pembicaraan. Baik oleh guru,kakak kelas, sampai teman satu angkatan. Ceritanya, pada waktu masa orientasi dia datang terlambat. Dasar kakak kelas yang sok, dia dimarahi habis-habisan. Pertama sih dia cuek beibeh.Sampai kemudian dia mendengar kakak kelas itu berkata, "Kamu gak pernah diajari sopan santun sama orangtua mu ya? Mereka gak becus mendidikmu hah? Gak bisa ngajarin kamu baca jam dan. . .
Rafly langsung menghajar senior itu sebelum dia bisa menuntaskan kalimatnya tadi.

Terjadi kehebohan yg hebat hingga akhirnya para guru ikut turun tangan. Hebatnya,selama menjalani pemeriksaan, tak sepatah katapun keluar dari mulut Rafly. Dia benar2 bungkam seribu bahasa. Karena tak bisa mendapat informasi darinya, para Guru mencoba bertanya pada kami, teman satu ruangnya. Mulanya tak ada yang berani bicara. Para guru sudah hampir mencoret nama Rafly dari daftar siswa baru. Hingga akhirnya aku tak tahan dan maju. Aku ceritakan apa yang terjadi dan perkiraan ku kenapa Rafly bisa ngamuk. Bahwa Rafly marah karena kakak kelas itu menghina orangtua nya.  Keputusan akhir, para Guru memutuskan untuk tidak memperpanjang urusan itu.

II

Sejak saat itu, Rafly jadi sosok yang ditakuti di sekolah. Jarang ada teman yang mau berbicara dengannya. Baik cowok ataupun cewek. Kecuali saat mereka benar-benar butuh dan perlu bicara dengannya. Itupun biasanya hanya karena ada titipan atau pesan dari guru. Selain dari itu, mereka lebih suka membiarkannya sendiri. Mereka sungguh takut padanya. Hal itu ditunjang oleh Rafly yang cukup mengintimidasi. Rafly bertubuh tinggi besar untuk ukuran anak SMA, dan wajahnya berkesan dingin dan tajam. Pokoknya nyeremin! Orang pasti keder melihatnya. Belom lagi kabar bahwa dia berhasil ngalahin 5 orang kakak kelas yang mencoba mengeroyoknya. Buntut dari peristiwa orientasi waktu itu. Orang pasti mengkeret kalo Rafly sudah menatap mereka dengan tajam. Kebanyakan dari mereka pasti lebih memilih ngacir tanpa menunggunya bersuara.

Maka dengan sendirinya dia terkucilkan.

Tp sepertinya dia tidak perduli. Dia cenderung acuh. Malah seolah olah menikmati kesendiriannya. Yang membuatku salut, pada saat pembagian raport, dia masuk dalam 10 besar kelas. Padahal seingatku, dia tidak pernah aktif di kelas. Selalu datang mepet ke sekolah. Setelah jam istirahat terakhir, aku jarang melihatnya duduk tegak menyimak pelajaran. Lebih sering dia tertidur dibangkunya. Siapa sangka dia bisa masuk dalam 10 besar kelas.
Kami tetap sekelas dikelas dua ini. Rafly tetap konsisten dengan pembawaannya. Jadi baik aku, ataupun teman2 sekelas yang lain memperlakukannya seperti biasa.

Suatu saat, 3 hari berturut-turut dia absen tanpa alasan yang jelas. Pada hari ke-4 wali kelas kami memintaku untuk menyampaikan surat panggilan ke rumahnya, karena aku adalah ketua kelas. Beliau memberiku sebuah alamat.
Maka sore harinya dengan diantar sopir, aku mencari rumahnya. Cukup sulit. Dan butuh waktu 3 jam bagi kami untuk menemukannya. Selain karena letaknya yang 4 km dari sekolah, rumah Rafly juga sedikit tersembunyi. Dia tinggal di daerah pinggiran yang sebenarnya cukup ramai dan padat. Kebanyakan, daerah yang sedikit kumuh itu dihuni oleh para pendatang dari luar pulau. Untuk ke rumah Rafly, kami harus memarkir mobil ditepi jalan raya dan masuk ke gang yang hanya cukup dilewati oleh 2 buah sepeda motor. Dan sedikit berbelok-belok.

Lucunya orang-orang disana tak mengenal nama Rafly. Tapi saat aku menyebut nama lengkapnya, mereka baru paham. Di lingkungannya, Rafly dikenal dengan nama Wawan. Dan disanalah kami. Didepan sebuah rumah kecil yang luasnya cuma 6x8 meter. Aku sedikit ragu untuk mengetuk pintu melihat suasananya yang sunyi. Rumah yang terbuat dari kayu itu tampak lengang tak berpenghuni. Suasana sudah gelap, tapi tak ada satu lampu pun yang menyala disana.
Aku dan sopirku sudah hendak pergi ketika seorang pria berusia 30 tahunan mendekat.
"Maaf Dik. Nyari siapa ya?" sapanya dengan logat Jawa.

Untuk sejenak, aku cuma saling pandang dengan sopirku, ragu. "Anu Pak. Saya nyari rumah teman saya. Rafly Risyad Bayu Kurniawan," kataku akhirnya.

"Ooh Dhek Wawan. Lha bener ini rumahnya," tunjuknya ke rumah itu. "Ada kok didalam. Mungkin ketiduran. Dia kan lagi sakit. Sudah 3 hari ini gak bisa apa2. Kasihan, gak ada yang jaga."

"Sakit? Gak ada yang jaga?" gumamku tak mengerti.

"Lho? Ndak tahu tho? Orang tua Dhek Wawan kan sudah lebih dari setahun meninggal. Kecelakaan. Jadi dia tinggal sendiri. Ayo masuk. Pas bener adik kesini dan ketemu saya. Saya lagi nganter bubur ini buat dia. Ayo. . . ," ajak Bapak-bapak itu dan membuka pintu yang ternyata tak dikunci. Dia tampak terbiasa dengan rumah itu. Dia segera menghidupkan lampu dan mempersilahkanku duduk. Sopirku segera pamit dan pergi untuk menunggu dimobil.

Aku diam disana dan menatap ke sekeliling ruangan. Ruang tamu itu begitu sederhana. Hanya ada sebuah meja dan empat kursi kayu. Tak ada perabotan atau hiasan didindingnya. Tak ada foto yang dipajang. Tak ada sedikitpun petunjuk yang bisa kutangkap tentang kehidupan Rafly ataupun hubungannya dengan laki2 tadi.

Tak lama kemudian mereka keluar. Rafly dipapah oleh lelaki tadi. Dia tampak lemah,kusut dan kuyu. Begitu tak bertenaga. Matanya yang biasanya tajam dan serem terlihat sayu dan sedikit mengantuk. Melihatnya seperti itu, aku cepat bangkit dan membantunya untuk duduk. Meski terlihat sedikit kaget, Rafly diam saja membiarkan aku membantunya.
"Bener gak apa-apa ku tinggal Wan?" tanya si bapak-bapak, sedikit mengherankanku.

"Iya Mas. Mas Arif pulang saja.Katanya kan ada garapan yang harus diambil besok pagi. Saya sudah mendingan kok Mas. Cuma sedikit lemas. Kan baru bangun," jawab Rafly dengan nada ramah dan akrab. Baru kali ini aku mendengarnya berbicara memakai nada seperti itu. Biasanya dia cuma ngomong dengan singkat dan dingin.

"Ya sudah kalo gitu. Dhek, nanti tolong Dhek Wawan kalo dia butuh bantuan kembali ke kamar ya?" pinta si Bapak yang dipanggil Mas Arif tadi padaku.

"I-iya Pak.Eh. .  Mas," jawabku kikuk.

Dia hanya tersenyum, "Panggil Mas Arif aja kayak Wawan. Ya sudah,permisi. Assalamualaikum," pamitnya dan berlalu setelah kami menjawab salamnya.

Untuk beberapa saat lamanya, kami diam. Aku jadi merasa canggung dan bingung harus mengatakan apa. Lucunya, hampir bersamaan kami membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.

"Ada apa kesini?" tanya Rafly akhirnya setelah kebisuan yang meresahkan. Nadanya kembali dingin seperti biasa.

"Anu. . . ada titipan dari wali kelas," kataku dan mencoba mencairkan suasana dengan sedikit senyum. Rafly tak membalasnya. Dengan diam dia mengambil amplop yang kuulurkan. Dia hanya menghela nafas setelah membacanya sekilas. "Wali kelas kita nggak tahu tentang keadaanmu Raf. Karena itu beliau mengirim surat. Jangan khawatir, aku akan mencoba menjelaskannya dan. . ."

"Gak perlu!" potong Rafly membuatku langsung terdiam. "Besok aku akan masuk!"

"Jangan maksa Raf. Kamu masih lemes gini," saranku.

"Aku sudah sembuh!" potongnya, membuatku kembali terdiam. Kecanggungan kembali menggelayut. Aku sendiri bingung, karena sepertinya tak ada lagi yg bisa ku katakan.  

Aku berdehem, mengumpulkan suara. "Kalo gitu. . ., aku permisi dulu ya?" kataku akhirnya. Karena Rafly tak menjawab, aku pun bangkit, "Kamu butuh bantuan kedalam atau. . .,"

"Aku cuma sakit, bukan invalid!!" tukasnya sedikit tajam membuatku tersipu.

"Maaf. . . .! Kalau begitu, permisi," pamitku dan cepat-cepat pergi.


Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tak bisa tidur semalaman memikirkan seseorang. Aku mengingat-ingat potongan-potongan cerita yg diberikan oleh Mas Arif tentang Rafly. Bahwa orang tuanya telah meninggal, dan dia hidup sendiri. Mungkin inilah alasannya kenapa waktu orientasi dulu, Rafly langsung menghajar senior yang menghina orangtua nya. Lalu siapa yang menghidupinya? Menyekolahkannya? Memenuhi dan menyediakan kebutuhannya?  Apa lagi sekarang saat dia sakit. Siapa yang akan memasak dan menjaganya?
Semua hal itu berkecamuk dalam pikiranku.

III

Keesokan harinya, ternyata Rafly tetap tidak masuk sekolah. Saat istirahat, aku dipanggil oleh wali kelas. Segera saja kuberitahukan apa yang ku ketahui. Bahwa Rafly sakit dan orang tuanya telah meninggal. Beliau sepertinya mengerti dan mengatakan akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki catatan Rafly di sekolah.
Aku sendiri,begitu usai sekolah usai langsung menuju tempat praktek dokter pribadi keluargaku dan membawanya ke rumah Rafly.

Seperti sebelumnya, rumah Rafly tampak lengang seperti tak berpenghuni. Setelah mengetuk dan mengucapkan salam bbrp kali tp tak ada sahutan, akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pintu yang ternyata tak dikunci. Ruang depan kosong, jadi aku ke dalam. Aku menemukan Rafly tergolek pingsan dilantai kamarnya. Ada bekas muntahan didekatnya.

Sedikit kehebohan terjadi!

Dokter segera memeriksa dan mencoba menyadarkannya. Karena dia terlalu lemah, kami memutuskan untuk langsung membawanya ke rumah sakit. 3 jam aku menungguinya. Saat dia sadar dan tahu sedang berada dimana,  Rafly marah dan ngotot pulang. Tentu saja pihak rumah sakit menahannya. Karena dia terus berontak, Dokter memberinya obat penenang. Tapi sebelum tertidur dia sempat menggumamkan tentang uang dan biaya perawatan. Sepertinya, itu adalah alasan kenapa dia ingin segera pergi.

Keesokan harinya saat aku kembali, Rafly terbaring tenang meski aku bisa melihat gurat kekesalan di wajahnya. Untuk beberapa saat kami cuma saling diam.
"Dokter bilang, kamu gak boleh makan yang keras-keras untuk sementara waktu," kataku, mencoba memulai percakapan. "Jadi. . . . , aku bawakan roti dan bbrp makanan ringan yang lunak. Juga susu. Aku sudah tanya Dokter, asal bukan susu coklat, kamu boleh meminumnya."

Tak ada sahutan.

"Mengenai biaya rumah sakit, kamu gak usah khawatir," imbuhku. "Pihak sekolah yang akan menanggungnya. Kamu tentu tahu kalau ada asuransi bagi para siswa. Jadi kamu gak perlu khawatir dan. . ."

"Kamu yg memberitahu pihak sekolah?" tanya Rafly tiba-tiba dan memotong kalimatku.

Untuk sesaat aku tercenung mendengar nada suaranya yang tidak ramah. Lebih cenderung menegur dari pada bertanya. "Yeah. . .! Tentu saja. Aku satu-satunya orang disekolah yang tahu keadaanmu kan?" tanyaku balik dan sedikit tersenyum untuk mencairkan suasana. Kembali tak ada sahutan dari Rafly. Aku yang masih canggung akhirnya meraih sebungkus roti dan membukanya. "Coba rasain roti ini deh. Aku suka banget. Tiap pagi aku makan ini lho!" ujarku nyengir dan mengulurkan selapis roti itu padanya.     

Semula Rafly ragu. Namun akhirnya, sesaat kemudian dia bergerak hendak bangkit dari tidurnya. Terlihat agak susah karena ada selang infus dan dia juga sepertinya masih lemah.

"Jangan!" kataku cepat menahannya. "Kamu tidur aja! Masih lemes gitu. Biar aku bantu," kataku dan mencuil sedikit roti itu dan menyorongkan ke depan bibirnya. Rafly sedikit tertegun. Aku paham apa yang dirasakannya. Akan tampak aneh kalau aku menyuapinya. Tapi kepalang tanggung. Dan keadaan Rafly juga tidak mendukung. Akhirnya Rafly mau membuka mulutnya meski dengan sedikit enggan. Aku tersenyum agar dia merasa rileks.

Rafly berdehem tanda hendak mengatakan sesuatu. "Jadi. . . apa benar ada ansuransi untuk kasus seperti aku?" tanyanya ingin tahu.Aku diam,tak langsung menjawabnya karena aku tahu kalau aku tidak berhati-hati, akan ada masalah baru.

"Maksudmu apa?" tanyaku balik.

"Aku tahu memang ada ansuransi bagi para siswa disekolah kita. Tapi biasanya pihak ansuransi mau menanggung, hanya jika insiden itu terjadi pd saat proses belajar disekolah. Jika terjadi sesuatu diluar lingkungan dan jam sekolah,bukannya itu jadi tanggung jawab pribadi?"
S
eharusnya aku tahu kalau dia tidak bodoh, pikir ku. Tapi tak mungkin kalau aku bilang ke dia bahwa semalam aku minta bantuan ayahku untuk menanggung biaya rumah sakit ini. Bahkan aku merekomendasikan Rafly pada beliau agar dia mendapat beasiswa. Untuk hal itu, masih perlu waktu. Tapi bagaimanapun juga, dia layak mendapatkannya kan? Selain karena prestasi akademisnya, ekonomi Rafly juga memenuhi syarat.

"Apa itu penting Raf?" tanyaku sembari menyorongkan secuil roti padanya. Rafly tak menjawab. Dia menatapku dengan seksama, membuatku jadi canggung dan salah tingkah. Aku tahu orang sejenis dia memiliki harga diri yang tinggi. Kalau dia tahu aku membantunya, mungkin dia akan meledak.

"Aku tak punya pilihan lain kan?" gumamnya kemudian dengan nada pahit, membuatku kembali berpaling pdnya. Rafly sudah membuang pandangannya ke samping dengan ekspresi kalah. Seperti yang kuduga, harga dirinya terusik. Dia sakit hati.

"Tak ada manusia yang bisa hidup sendiri Raf," kataku pelan. "Sekuat apapun seseorang, suatu saat dia akan mencapai batasnya. Dia pasti akan berada di suatu kondisi, dimana dia harus bergantung pada orang lain. Siapapun itu. Orang-orang besar seperti Alexander The Great, Bung Karno, atau bahkan Nabi kita, tidak mengubah dunia sendirian. Ada orang-orang di samping mereka. Para sahabat, keluarga dan yang lainnya. Singkatnya, kita akan selalu membutuhkan orang lain. Jadi. . . tak perlu merasa kalah, lemah. Apa lagi. . . terhina. Hal itu benar-benar wajar kok!"
Rafly kini diam menatapku. Aku kembali tersenyum pada nya. Mencoba menyuntikkan semangat dan kembali menyuapkan roti untuknya. Untuk beberapa lama, sampai akhirnya dia menghabiskan dua lapis roti, tak ada kata-kata yang kami ucapkan. Setelah merasa cukup, aku pun pamit.

"Dimas!" panggil Rafly saat aku hampir mencapai pintu,membuatku kembali berbalik pdnya, " . . . terima kasih," katanya pelan.

Aku mengangguk dan tersenyum,"Besok aku kesini lagi. Mau kubawakan sesuatu?"

Rafly menggeleng, "Datang saja," katanya.

Mendengarnya aku benar-benar merasa lega. Seakan-akan aku telah mendapat restu untuk memasuki dunianya. Kurasa, dia mulai bisa menerimaku.

MEMOIRS II (Dimaz' classic story) part 4-5

IV

Sdtelah itu,kami memang menjadi sedikit lebih akrab dibandingkan sebelumnya. Satu hal yang pasti, Rafly benar-benar orang yang introvert. Meski kami telah banyak bicara tentang berbagai hal, tetap saja aku belum tahu sejarahnya. Rafly tak mau membuka diri. Dia hanya mau bicara tentang hal-hal umum saja. Bila sudah bicara menyangkut dirinya, paling banter dia cuma tersenyum. Mau tak mau aku jadi penasaran.
7 hari dia dirawat. Tak ada teman lain yang menjenguk karena dia memang minta untuk dirahasiakan dari mereka. Yang datang cuma Mas Arif. Kami bertemu beberapa kali dan mulai sedikit akrab. Dia juga yang datang menjemput pada saat Rafly telah diperbolehkan rawat jalan dirumah.
Dan 3 hari kemudian, saat pertama kali dia masuk sekolah, aku diliputi oleh rasa senang yang aneh. Mirip dengan perasaan yg kurasakan saat bertemu dengan saudara dekat yang terpisah jauh. Hanya saja perasaan yang kurasakan pada Rafly lebih manis.
Saat dia muncul dipintu kelas, aku berteriak keras memanggil namanya dan berlari menyongsongnya. Dua tanganku memeluk satu lengan Rafly dan membimbingnya ke bangku tempatnya duduk. Semua temanku yang lain bengong kaget. Bahkan Rafly sendiri tampak luar biasa jengah. Wajahnya sontan memerah.
"Kamu apa-apaan sih? Semua pada ngeliatin tuh!" gerutunya. Aku jadi sadar dg reaksiku yg sedikit berlebihan (?!) sempat bengong, tapi akhirnya acuh. Meski semua teman2 yang lain memperhatikan kami. Sepertinya mereka heran melihatku yang punya reputasi bagus dan disegani, bisa akrab dengan preman kaya Rafly.Tapi aku tak perduli. Pokoknya waktu itu aku benar2 merasa nyaman bersama Rafly, dan aku ingin tahu lebih banyak tentang dia.
Kamipun banyak menghabiskan waktu bersama disekolah. Hanya disekolah. Rafly selalu menolak saat ku undang kerumah, atau saat aku hendak maen kerumahnya. Dia selalu menghindar. Jelas aja aku justru semakin ingin tahu. Apa lagi akhir2 ini dia jadi agak aneh. Dia sering banget terlihat kecapekan. Bahkan tertidur ketika bel istirahat belum berbunyi. Tiap kali ku tanya, dia cuma tersenyum.
Satu minggu kemudian ayahku memberitahu bahwa beasiswa yang beliau ajukan untuk Rafly ke komite sekolah, disetujui. Waktu itu hari minggu siang. Karena tak sabar untuk memberitahukannya pada Rafly, aku segera meluncur ke rumahnya.
Rumah Rafly sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Beberapa kali ketukanku tak ada yang menjawab. Untungnya, salah seorang tetangga Rafly lewat. Beliau memberitahuku kalau Rafly sedang bekerja di bengkel Mas Arif. Tentu aku sedikit terheran-heran. Aku segera menanyakan letak bengkel itu padanya.
Bengkel Mas Arif terletak sekitar 1km dari sana. Aku langsung meluncur, tapi tidak serta merta berhenti didepan bengkel. Ku parkir mobilku sekitar 20 m darinya dan melihat keadaan.
Dia disana. Sedang mengotak-atik sebuah mobil. Penampilannya sama dengan montir-montir di bengkel kecil yang biasa kulihat dipinggir jalanan. Dengan baju dan celana lusuh dan kotor oleh gemuk dan oli. Wajahnya juga tampak coreng moreng. Kulihat Mas Arif berada disampingnya. Sepertinya mereka sedang membicarakan masalah mobil itu. Rafly kulihat mengangguk-angguk, lalu ia nyelonong kebawah kolong mobil.
Satu lagi hal baru tentangnya yang kuketahui. Diikuti dengan berbagai macam pertanyaan baru. Apa benar dia bekerja? Atau cuma belajar?Apa sebenarnya hubungannya dengan Mas Arif? Apakah ini alasan dia menolak semua undanganku? Aku tak tahu jawaban dari semua itu,tapi aku berniat untuk mencari tahu. Dengan nekat, kulajukan mobilku kesana.
"Mas Arif!" panggilku sembari membuka pintu mobil. "Saya mau ganti oli mobil nih! Bisa bantu?" pintaku menghampirinya yang terlihat sedikit kaget.
"Lhoo. . . Dhek Dimaz. Sendiri?" tanya Mas Arif balik.
"Iya Mas. Ini, mau ke rumahnya Rafly. Jadi sekalian ganti oli disini. Dapet rekomendasi dari orang. Katanya bengkel Mas Arif bagus. Terus pengen coba. Kali aja dapet diskon," dustaku lancar, meski dalam hati aku heran dengan ide mendadak yang ku dapat.
"Halah! Bisa aja. Boleh deh. Nanti Mas diskon. Kalo nyari Wawan, tuh! Dia dibawah!" sahut Mas Arif menunjuk kebawah.
Perlahan Rafly muncul dari kolong mobil. Dia bangkit dan menepuk-nepuk baju dan celananya, seolah-olah mencoba membersihkannya. Padahal gak ada efeknya sama sekali. Pakaiannya tetep aja super kumuh.
"Ngapain sih kesini?" tanyanya sedikit menggerutu. Bibirnya cemberut tak senang, dan dia tak mau memandangku. Malah melihat mobilku.
"Lho? Kok judes gitu? Emang kenapa? Aku kesini kan sebagai pelanggan. Mas Arif aja gak nyolot gitu. Ya kan Mas?" belaku mencari dukungan.
"Pasti!" sahut Mas Arif spontan dengan senyum  terkembang, membuat Rafly ngedumel gak jelas."Kalo gitu, biar Wawan aja yang ngurus mobil Dhek Dimaz ya?"
Aku mengangkat bahu dan menyerahkan kunci mobilku pada Rafly. Dia langsung menyambarnya,masih cemberut dan tak mau melihatku. "Hei! Kalo belum sebulan mobilku udah rewel lagi, aku tuntut kamu ya? 5 kali servis gratis!" godaku geli melihat kekesalannya. Apa lagi saat dia kembali ngedumel gak jelas sambil berlalu.
"Sama pelanggan harus senyum Wa!" goda Mas Arif yang jd ikut-ikutan geli melihatnya.
"Iya! Bikin males dateng aja!" imbuhku.
"Sebodo!" umpat Rafly pelan.   
Mas Arif tertawa kecil. "Kalo gitu,duduk dulu Dhek Dimaz? Mau minum apa?"
"Agak laper nih Mas. Tempat makan yang enak dimana ya?" tanyaku. Sekali lagi, ide dadakan muncul di otakku. Aku tahu, aku tak mungkin mendapatkan apapun kalau aku ngomong dengan Rafly. Tapi mungkin aku bisa mendapatkannya dari Mas Arif. Jadi aku perlu bicara berdua dengan nya.
"Kalau restoran sih, agak jauh Dhek. Mas juga gak tau tuh, mana yang enak. Biasanya, Mas sama yang lain makan di warung sebelah."
Kulihat memang ada sebuah warung kecil di sebelah bengkel Mas Arif. Seumur-umur, aku belum pernah aku makan di tempat seperti itu. "Enak Mas?" tanyaku sedikit ragu.
"Kalo buat Mas sih enak aja. Gak tau kalo dhek Dimaz."
Sepertinya aku tak punya pilihan lain. "Boleh deh Mas," putusku pasrah.
"Ayo Mas temenin. Yang jual namanya Bu Sumilah. Asli orang Surabaya,kaya Mas," jelas Mas Arif dan melangkah mendahuluiku. Yang namanya bu Sumilah ternyata wanita berusia 40 tahunan yang memiliki logat bicara lucu. Meski asli Surabaya, lingkungan beliau adalah orang2 yang datang dari Madura. Dan orangnya super ramah. Beliau menyambut kami dengan suara cemprengnya. Mas Arif memesankanku kari ayam.
"Masakan kari ayam bu Sumilah enak banget lho Dhek," ujar Mas Arif berpromosi. Aku cuma mengangguk pasrah. Apa aja deh. Yang penting kami bisa bicara.
"Mas Arif ikut temani saya makan yah? Sekalian ada yang mau saya omongin," pintaku.
Mas Arif tersenyum paham. "Tentang Wawan?" tanyanya langsung. Karena tahu tak ada gunanya berbohong, aku mengangguk membenarkannya. "Apa yang ingin Dhek Dimaz ketahui?"
"Banyak. Tapi kita bisa mulai dengan apa hubungan Mas Arif dan Rafly. Kalau Mas Arif gak keberatan," pintaku.
"Sebenernya Wawan pernah berpesan agar Mas tidak mengatakan apapun pada Dhek Dimaz.Tapi. . ., Mas yakin Dhek Dimaz punya itikad baik," kata Mas Arif memulai. "Tidak ada hubungan darah antara kami. Tapi Mas Arif kenal baik dengan almarhum bapak dan ibu Wawan. Mereka banyak membantu Mas Arif waktu pertama kali datang kesini. Mereka juga yang dulu melamarkan istri Mas. Mereka benar-benar orang yg baik. Tak adil rasanya kalau mereka harus meninggal dalam kecelakaan.
Saat meninggal, mereka hanya mewariskan rumah itu dan sedikit uang di bank. Tepat 7 hari setelah orangtuanya meninggal, dia datang kerumah dan bilang ingin kerja di bengkel ini. Sebenarnya Mas sudah mengatakan kalau Mas tak ingin dia kerja, dan Mas bersedia membiayai sekolahnya. Dia menolak dan ngotot mau bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Dia berterima kasih atas niat baik Mas,tapi dia sadar kalau kami tidak memiliki ikatan darah. Mas tidak punya kewajiban atas dirinya. Dia tak ingin membebani Mas.
Dia ingin bekerja dan berusaha sendiri. Kalau Mas tak mau menerimanya, dia akan melamar di tempat lain. Kamu mungkin sudah paham dengan sifat keras kepalanya. Jadi. . . Mas menerimanya. Biasanya dia hanya bekerja disini. Tapi krn Dhek Dimaz,sekarang di malam hari dia jg bekerja di sebuah rsetoran di kota yg buka 24 jam."
Penjelasan terakhir itu tentu saja membuatku kaget. "Karena saya Mas?" tanyaku super heran.
Mas Arif tersenyum. "Dia tahu bahwa Dhek Dimaz yang membantu membayar biaya rumah sakit kemarin. Dan dia ingin segera mengembalikannya."
Aku tergagap mendengarnya,"T-ta-tapi. . . "
"Mas tahu Dhek Dimaz tidak menginginkannya," potong Mas Arif menenangkan ku yang jadi gugup. "Tapi anak itu bersikeras ingin mengembalikannya. Sebenernya Mas khawatir. Dia bisa sakit kalau terus begini. Dia hampir - hampir tak punya waktu untuk beristirahat."
Aku menghela nafas mendengarnya. Khas Rafly. "Saya akan coba berbicara dengan nya," kataku pelan.
Mas Arif mengangguk paham."Semoga Dhek Dimaz bisa melunakkannya. Kalo gitu silahkan makan dulu. Mas tinggal ya? Mas masih kenyang," pamitnya dan pergi meninggalkanku untuk makan dan berpikir.
Dan aku punya 1 komentar tentang masakan Bu Sumilah.
SUPER PEDAS!!
Bu Sumilah mengatakan kalau Mas Arif yang akan membayar makananku,tapi aku bersikeras membayar sendiri dan meminta beliau mengembalikan uang Mas Arif. Aku segera keluar dengan membawa sebotol minuman soda dingin, menghampiri Rafly yang sedang memeriksa mobilku.
"Jadi?" tanyaku dan mengangsurkan botol itu padanya. Untuk sejenak Rafly cuma melihatnya,tapi ia lalu menerimanya.
"Tak ada masalah dg mobilmu. Oli nya juga masih bagus. Minim baru seminggu kemarin ganti. Kesimpulannya, bukan mobil ini alasanmu kemari.," tukasnya singkat.
Aduh! batinku.
Rafly minum sebentar. "Jadi. . . ada apa sebenarnya?" tanyanya langsung tanpa melihatku.
Lama-lama aku jadi agak kesal dg sikapnya. Tiap kali ngomong, dia gak pernah mau melihatku. Selalu menatap sesuatu yang lain. "Untuk kasih kamu berita bagus. Tapi berhubung kamu jutek abis dan gak mau ngeliat mukaku, sebaiknya aku batalin aja. Aku pulang. Mas Arif!!!" aku ngeloyor cepat mencari Mas Arif yang ternyata mendengar panggilanku dan segera keluar. "Berapa Mas?"
"Udah bawa saja. Kunjungan pertama gratis. Lagian, gak ada yg perlu diganti/diperbaiki," jawab Mas Arif.
Aku nyengir mendengarnya,"Makasih Mas. Pulang dulu ya?" pamitku dan langsung masuk ke mobil. Tapi lalu sadar kalau kunciku masih dipegang oleh Rafly. Dia yang masih diam cemberut dan tak mau melihatku, berdiri disamping jendela mobil.Tanpa bicara aku menadahkan tangan, meminta kunci.
"Ada apa kesini?" tanya Rafly tanpa memberikan kunciku.
"Aku sudah bilang batal kan? Mana kuncinya!" desakku dengan nada datar. Kulihat dia menghela nafas sebentar.
"Baiklah. Maaf. Ada apa?" tanyanya lagi.
"Bisa melihat aku kalau ngomong?" pintaku yang sedikit terganggu karena dia jelas menghindar.
Kali ini dia langsung melihat kemataku dan menatapku tajam. Waktu itulah aku baru benar-bener tahu kenapa teman-teman yang lain menganggapnya menakutkan. Sorot matanya beneran bisa membuat keder. Apa lagi kalo dia kelihatannya marah seperti sekarang. Aku sendiri hampir membuang muka, tapi setengah mati menahan diri.
"Sebenernya maumu apa sih?" tegurnya kesal. "Kamu pikir aku harus gimana? Kalo kamu jadi aku, apa kamu bisa tenang-tenang saja saat aku melihatmu pake baju gembel dan muka coreng moreng gini?"
Aku melongo mendengarnya. "Terus kenapa? Apa yang salah dengan itu?" bantahku. "Toh kamu melakukan pekerjaan yang halal. Daripada aku melihatmu pake baju keren tapi nyopet?"
"Kamu bener-bener tau cara bikin orang ngerasa rendah ya?"
Jelas aku kaget. "Rendah? Siapa yang ngerendahin? Aku gak pernah berniat gitu kok! Kamu aja yang ambil kesimpulan sendiri. Aku gak pernah mempermasalahkan kamu siapa,kerja apa atau pake apa. Apa pentingnya? Kamu sendiri yang ribut kan? Kalo kamu menilai orang dengan cara seperti itu, salahin dirimu sendiri dong yang picik. Apa hubungannya dengan ku?" berondongku yang akhirnya jadi bener-benar jengkel dengan reaksinya.
"Coba tempatkan dirimu dalam posisiku."
"Kamu juga tempatkan dirimu dalam posisiku!" balasku.
"Kalau aku ada dalam posisimu, aku gak akan merasa rendah dan terhina!" sahutnya dingin dan meletakkan kunci mobilku di dashboard.
Kusandarkan tubuhku dikursi mobil dan mengusap wajahku gundah. Kok malah begini sih? Aku kesini kan mau kasih berita bagus. Malah berantem gak jelas gini,  batinku. Kuhembuskan nafas kuat-kuat untuk menahan diri. "Aku gak pernah ada maksud buat bikin kamu merasa rendah, apa lagi terhina. Tidak sedikitpun. Maaf kalo kamu ngerasa begitu," pintaku padanya dan memasukkan kunci untuk menghidupkan mobil. Rafly masih berdiri disamping jendela dan tak mau melihatku. "Satu lagi. Komite sekolah telah menyetujui pengajuan proposal beasiswa bagimu," ujarku. Dan tanpa bicara lagi aku melajukan mobil meninggalkannya tanpa menoleh lagi.
V
Esok harinya, aku sengaja mengacuhkan Rafly. Tak sekalipun aku bicara atau melihatnya. Beberapa orang teman memang menanyakan perubahan sikapku. Tapi aku hanya tersenyum tanpa memberi pejelasan.
Pada saat istirahat, Rafly mendapat panggilan oleh wali kelasku. Sepertinya beliau ingin memberitahu tentang beasiswa itu secara pribadi pada nya. Aku tetep pura-pura acuh tak peduli, hingga akhirnya bel pulang berdering.
"Aku mau bicara," kata Rafly singkat. Tiba-tiba saja dia sudah berada di sebelahku. Padahal aku sendiri masih mebereskan barang-barangku yang bertebaran di meja. Dua temanku yg tadinya mau kuajak pulang bareng tampak waspada. Mereka pasti berpikir kalau aku dalam bahaya.
"Kalian pulang aja dulu," kataku pada mereka dan tersenyum menenangkan. Meski masih terlihat cemas, akhirnya mereka pergi. "Ada apa?" tanyaku pada Rafly sembari kembali membereskan barang-barangku tanpa melihatnya.
"Kamu yang mengajukan beasiswa itu?" tanya Rafly langsung.
"Bukan!" jawabku langsung. "Aku cuma mengusulkan. Salah seorang anggota komite dan wali kelas kita yang mengajukan. Dan agar kau tak lagi merasa direndahkan," aku menekan kalimat terakhir tadi, ". .kau harus tahu. Bahwa sebelum bisa mendapatkan beasisiwa itu, pihak sekolah telah memeriksamu. Bukan hanya dari segi ekonomi, tapi juga prestasi akademis. Jadi jika komite sekolah sudah menyetujuinya, itu berarti kau layak mendapatkannya. Hal ini tak ada hubungannya dengan keputusan perorangan. Itu mutlak keputusan seluruh anggota komite." jelasku.
Tak ada reaksi dari Rafly.
"Ada lagi?" tanyaku tanpa melihatnya. Mejaku sudah bersih.
"Kamu nggak melihatku!" katanya,lebih ke arah menegur daripada bertanya.
"Kamu yang mengajariku," sahutku singkat dan menyampirkan tas ku. Aku bangkit untuk pergi, tapi Rafly menahan tanganku.
"Bisa melihatku sebentar?" pintanya.
Sebenarnya aku ingin menolak. Tapi nada suaranya benar-benar serius. Pelan aku berbalik dan melihatnya. Aku menatap langsung ke matanya yang juga melihatku datar.
"Terimakasih!" katanya.
Selain kesungguhan, aku tak melihat yang lainnya lagi di sana. "Sama-sama!" sahutku singkat lalu mengibaskan pegangannya untuk segera pergi dari situ.
"Aku belum selesai!" tukas Rafly cepat dan kembali menahanku.
"Apa lagi?" tanyaku tak sabar tanpa berbalik.
"Maaf," pintanya lirih. Nadanya yang terdengar begitu aneh mengusikku. Aku berbalik perlahan dan kembali menatap langsung matanya. Dan akupun terperangah. Belum pernah seumur hidupku, seseorang memandangku seperti cara Rafly memandangku sekarang. Tatapannya begitu dalam dan penuh makna. Aku tak bisa menjabarkannya dalam kalimat, tapi yg jelas, aku tak bisa lari dari matanya. Semua yang ada disekelilingku jadi lenyap dan terasa tak berarti. Seakan-akan semuanya hanya suara latar dari sebuah film murahan tanpa makna.
"Dimaz ..?"
Tegurannya membuat kesadaranku kembali. Cepat aku megerjapkan mata dan berpaling. Untuk beberapa saat lamanya, aku harus berusaha untuk mengumpulkan lagi kepercayaan diri dan gengsiku yang tadi sedikit turun. Aku harus menarik nafas dalam-dalam agar tenang. "Sudahlah!" kataku akhirnya.
"Sepertinya kau sulit untuk memaafkanku," katanya pelan, "Apa yang bisa kulakukan agar kau mau?"
Kalimat terakhirnya itu memberiku ide. "Ada satu hal yang bisa kau lakukan agar aku bisa memaafkanmu," ujarku membuat kening Rafly berkerut heran.
"Katakan!"
Aku menatapnya serius agar dia tahu aku tak main-main. "Berhentilah bekerja di restoran itu! Berhenti kerja gila-gilaan hanya untuk mengumpulkan sebagai ganti biaya rumah sakit. Sudah cukup kau bekerja di Mas Arif. Konsentrasi saja pada studimu. Bisa?"
Rafly terdiam untuk beberapa saat lamanya.
"Menerima bantuan dari orang lain bukan berarti kamu turun derajat Raf. Hal itu cuma menunjukkan bahwa kau manusia biasa.Sama seperti yg lain. Yang juga membutuhkan orang lain dalam satu dan lain hal!" kataku lagi.
"Mas Arif yg cerita," gumamnya pelan.
"Ga penting siapa yang cerita. Itu syaratku untuk mau memaafkanmu! Terima atau nggak, terserah!" putusku dan kembali hendak pergi. Dan sekali lagi, langkahku terhenti karena dia menahanku.
Rafly tampak berpikir. Sesekali ia menggigit bibirnya dan menghela nafas. Sampai akhirnya dia mengusap wajahnya, kalah. "Baiklah! Aku akan berhenti," putusnya pelan.
Aku tersenyum mendengarnya. Sebuah rekor bisa mengalahkan Rafly. Aku yakin bukanlah hal mudah bagi dia untuk mau menurutiku. "Kalau begitu beres! Aku pulang dulu. Ada bimbingan belajar. Dan sore nanti aku mau main ke rumahmu. Itu syarat tambahan untukmu. Bisa kan?"
"Aku baru pulang dari Mas Arif jam 4."
"Baiklah! Aku kesana setelahnya. Aku pulang dulu," pamitku dan pergi dengan senyum senang.