Translate

Rabu, 31 Desember 2014

MEMOIRS III (The Triangle) Chapter 6- Confronting

REGHA

Rumah pada alamat yg tertera di kartu nama Zaki benar-benar menakjubkan. Rumah itu bergaya Eropah klasik dg tiang-tiang ala gedung Yunani kuno yg menakjubkan. Ukurannya kira-kira lima kali lebih besar drpd rumahku yg ada di Majalengka. Pintu pagarnya yg tinggi hanya memberikan pemandangan luar dari lantai dua ke atas. Dan itu sudah cukup membuatku terkesan sekaligus terintimidasi.

Gila!!! Rumahnya segede sarang jin! pikirku ngeri.

Aku menoleh pada Vivi dan Regi yg juga tengah bengong menatap bagunan didepan kami. "Bener ini kan alamatnya?!" tanyaku ragu.

"Kalo menurut alamatnya sih emang ini Gha," sahut Vivi.

"Gila ya Cin! Rumahnya keren abiz!" gumam Regi sembari terus menatap keatas. Sesekali dia menyeruput es rumput laut yg tadi dibelinya.

"Ya udahlah Gha. Lo pencet gih bel nya," kata Vivi.

Bukannya langsung melakukannya, aku malah komat-kamit berdo'a. Entah kenapa, belum lagi berhadapan dg orangnya, aku sudah keder duluan. Jadi ngerasa kaya mau bertamu kerumah pejabat besar aja.

"Jij baca mantera apaan sih Cin? Pelet ya? Ajarin ikke dong?" pinta Regi penasaran.

"Pelet nenek lo kiper!!" gerutuku sewot yg cuma dijawab dengan cengiran oleh Regi. Nih anak bener-bener deh. Bisa aja nemuin celetukan ngaco disuasana kaya gini. Mungkin aku harus berguru padanya, agar aku bisa tetap menemukan sesuatu yg lucu dalam kondisi kritis, gerundengku dalam hati. "Bismillah!" doaku pelan dan memencet bel yg ada disebelah pintu pagar.

Kamipun menunggu dalam cemas.

"Jij tinta lupis bawa dutanya kan cin?" tanya Regi sambil kembali menyeruput es nya lewat sedotan.

"Udah Gi! Nih ada dalam tas dan. . . " kalimatku terputus oleh pintu pagar yg terbuka dengan suara deritan pelan.

Sosok Zaki yg tampak basah kuyup dan hanya menggunakan celana boxer muncul dari baliknya. Dadanya yg telanjang tampak basah. Ada sedikit busa yg menempel dilengannya yg kekar dan sebagian dadanya yg bidang.

Untuk sejenak aku dan yg lain cuman bisa sukses bengong menelusuri penampilannya yang ala tarzan kota itu. Air masih menetes dari rambutnya, turun ke dagunya. Mengalir terus ke leher, dan dada tegapnya yg sedikit berbulu, lalu turun kedaerah perut dan pusarnya yg ditumbuhi rambut-rambut kehitaman sedikit tebal, untuk kemudian berhenti pada kolor boxer hitamnya. Boxer basah itu mencetak jelas apa yg ada dibaliknya.

Sebagian air dirambutnya jg ada yg jatuh ke bahu lebarnya, dan mengalir lewat lengan kekarnya. Ditangan kanannya dia juga memegang semacam spons busa.

Hening!!

Kami hanya saling menatap bengong!

Lalu keheningan kami dipecah oleh suara Regi yg megeluarkan suara tersedak keras dan kemudian batuk-batuk hebat. Dia sampai terbungkuk-bungkuk dan gelas storyfoam yg dia pegang terjatuh. Tangan Regi menutup hidung dan mulutnya. Sepertinya es rumput laut yg dia sedot berganti arah setelah melihat Zaki yg muncul dengan penampilan horornya. Vivi segera tersadar dan dengan tanggap membantunya.

"Masuk!" kata Zaki kemudian pada kami, lalu tanpa menunggu, dia melangkah kedalam.

"A-astajim!!" ujar Regi pelan dan berusaha mengendalikan batuknya lagi. "Ya Allah Ciiiinn!!! Diana seksi bangeeeett!!!" seru Regi heboh sembari mengusap wajahnya dari sisa-sisa semburan es rumput lautnya tadi.

"Dasar sinting! Lo gak inget kalo kita kesini buat Regha?!" gerutu Vivi dan kembali mengulurkan tissue pada Regi untuk mengusap sudut bibirnya.

"Abis diana tiba-tiba muncul pake gaya tarzan gitu! Siapa yg tahan coba?! Neeeeekk. . . jij pegang deh dada ikke!! Serasa mawar meledak!! Pantat ikke serasa berdenyut kenceeeengg!!!! Ya Olooooooohhh!!!!!!!" celoteh Regi. Dia lalu berpaling padaku. "Cin-cin, ntar kita minta foto bareng yuk ma diana?! Ikke mo upload di twitter ma facebook ikke! Bencong-bencong se Indonesia pasti pada heboh! Hihihihi. . . . ," ujarnya centil cekikikan sembari jejingkrakan.

Aku hanya menatapnya kesal. Regi yg sadar segera diem dan nyengir menyesal padaku. "Kita masuk!" kataku pelan dan mendahului mereka.Rumah Zaki ternyata lebih menakjubkan dari perkiraanku. Halamannya yg luas dihiasi dg berbagai tanaman bunga dan anggrek yg ditata dramatis sehingga memberi kesan seakan-akan halaman itu ditata oleh tangan-tangan profesional. Dan sepertinya memang seperti itu.

Aku melihat sebuah M3 yg masih basah tak jauh dari pagar. Sepertinya tadi Zaki sedang mencuci sendiri sedan itu saat kami datang. Jadi dia punya mobil lain, selain yg kubuat ringsek secara tidak langsung kmrn? pikirku kecut. Kira-kira ada berapa lagi ya mobilnya?

Zaki sendiri menunggu kami diteras rumahnya dg pintu rumah terbuka. Dia melangkah masuk saat kami mendekat.Kalau tadi aku sudah merasa terintimidasi hanya dg berdiri diluar pagar rumahnya, kini saat masuk, aku benar-benar merasa kecil. Rumah Zaki benaran seperti ditata khusus oleh tangan-tangan profesional. Ornamen-ornamen yg menghias seperti lukisan, guci-guci antik dan patung-patungnya tampak serasi dengan perabotan seperti kursi dan mejanya. Rumah itu tampak seperti contoh rumah-rumah yg hanya ada dalam majalah design terkenal.

Ruang tamunya terdiri dari seperangkat sova besar berwarna putih yg tampak kontras dengan permadani tebalnya yg berwarna gelap. Bbrp guci dan dua buah gading gajah berwarna putih tulang mengkilat menghias ruangan itu. Juga sebuah photo keluarga besar dg nuansa hitam putih tergantung di dindingnya yg berwarna putih. Lelaki yg berumur 40 an lebih, dan sepertinya ayah Zaki itu adalah seorang lelaki kaukasia. Dan Ibu Zaki adalah wanita berperawakan tinggi langsing dg gurat wajah tegas. Make up diwajahnya tidak mampu menyembunyikan gurat tegasnya. Bahkan di photo keluarga itu, aku bisa menebak kesan keras diwajahnya. Berbeda dg ayahnya yg terlihat santai.

Sementara Zaki, terlihat acuh, dan memandang kami dari kanvas dg tatapan tak peduli.

Sebuah keluarga besar yg membuatku ingin mengorek cerita didalamnya.

"Sudah puas lihat2?!" tegur Zaki dingin, membuat otak jurnalisku langsung tersentil, sedikit kaget. Aku segera kembali berpaling padanya. Vivi dan Regi( meski aku curiga kalo cowok ganjen ini dari tadi lebih fokus pada Zaki yg masih horor. Terutama bagian depan boxernya) yg sepertinya dari tadi ikut bengong dan memperhatikan sekelilingnya ikutan nyengir.

"Ru-rumahnya bagus banget Ki!" komentar Vivi, mencoba memperhalus atmosfir kami.

Zaki hanya mengangkat bahu. "Silahkan duduk!" katanya mempersilahkan. Kali ini aku dan yg lain segera mengikuti nya tanpa banyak bicara. "Kalian tunggu sebentar. Gw mau pake baju dulu!"

"Eh nggak usah! Gitu aja lebih . . TUYUL BENCONG!!! EH BENCONG!!" Regi langsung kumat latahnya saat aku menginjak kakinya dg keras. Mencegahnya meneruskan kalimatnya tadi. Zaki hanya tersenyum sinis dan berlalu kedalam.

"Gatel amat sih?!! Tahan diri kek!" protesku ke Regi saat Zaki telah menghilang kedalam.

"Maaf Cin! Habis naluri sih!" dalih Regi pelan.

"Naluri bencong?!" sindir Vivi tajam. Regi cuma mesem mendengarnya.

Tak lama kemudian Zaki kembali muncul. Kali ini dia telah mengganti celana pendeknya dg celana cardigan pendek warna hitam dan t-shirt putih polos. Dibelakangnya ada seorang wanita awal 30 yg membawa nampan dg beberapa gelas berisi minuman berwarna jeruk dan setoples makanan ringan.

"Silahkan!" kata wanita itu ramah. Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya. Meski sebenarnya aku malas untuk menyantap hidangan dirumah kunyuk Zaki ini, aku memaksa untuk minum jus jeruk itu. Aku butuh minum untuk menenangkan diri.

"Sepi amat Ki! Keluarga yg lain mana?" tanya Regi mencoba berbasa-basi.

"Apa pentingnya?" tanya Zaki balik dingin. Dia yg duduk didepan kami berpaling dari Regi, ke arahku yg kembali gelisah. "So?"

Aku menelan ludah sejenak dan berdehem untuk mengumpulkan suara.

"Ki. . . , untuk saat ini aku hanya bisa mengumpulkan uang sebesar 21 juta. Sisanya menyusul," kataku kemudian dan meletakkan amplop berisi uang ke meja.

Zaki tak mengatakan apapun. Untuk sejenak dia hanya memandang amplop itu. Dia menghembuskan nafas kesal dan mengambilnya. Dia menghitungnya dengan cepat. "Lalu kapan sisanya?" tanyanya kemudian cepat.

Ludah yg kutelan terasa sedikit menyakiti tenggorokanku. "Aku nggak bisa melunasinya dengan cepat. Mungkin dalam satu bulan aku hanya bisa mencicil sebesar 1 juta rupiah saja. Dan. . . ,"

"Dengan kata lain, kau baru bisa melunasinya dalam jangka waktu hampir 2 tahun?" potongnya menusuk.

Lagi, aku hanya mampu menelan ludah. "Maaf Ki! Tapi nggak mungkin aku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat. Harap bisa kamu maklumi," pintaku pelan.

Zaki mendengus.

"Maaf Ki," sela Vivi, "Aku yg jamin kalau Regha pasti akan membayar semua tanggungannya padamu. Tapi memang tidak bisa sekaligus. Kamu nggak usah khawatir dia ingkar."

"Kami minta pengertianmu Ki!" imbuh Regi. "Regha siswa perantauan. Uang yg kamu terima itu juga hasil dari kerja kerasnya selama ini. Lagipula, uang sebesar 41 juta itu jumlah cukup besar untuk sebuah perbaikan mobil kan?"

Ada kilatan tajam dimata Zaki mendengar itu. Dia bangkit dan berjalan kedalam. Sebentar kemudian dia kembali dengan sesuatu ditangannya. Dia melempar beberapa kertas keatas meja didepan kami. "Itu tanda bukti dari perbaikan mobilku. Konfirmasi ke bengkel BMW kalau memang kalian pikir itu penipuan. Lihat tanggal dan logo resmi bengkellnya. Masih ragu? Silahkan cek. Alamatnya bisa kalian temukan disana!" tuturnya lebih tajam daripada tadi.

"Kami percaya Ki!" sahutku cepat dan mengerling kearah Regi yg manyun. "Tapi aku minta. . . , kamu ngerti keadaanku," pintaku lagi.

"Orang tuamu tidak bisa membantu?" tanyanya yg segera kujawab dg gelengan.

"Mereka bisa pingsan kalau tahu! Ini tidak ada hubungannya dg mrk," kataku cepat. Tidak akan kulibatkan mereka dalam masalah ini.

"Pinjaman?"

"Uang itu," tunjukku pada amplop yg ada dimeja, " hanya 6 juta dari total keseluruhannya yg murni uangku. Kedua temanku ini meminjamiku 5 juta. . ,"

"Itu bukan pinjaman!" potong Vivi. "Uang itu murni milikmu!" tegasnya lagi.

Aku memandang penuh terimakasih padanya, juga pada Regi yg mengangguk membenarkan. "10 jutanya kupinjam dari seorang teman," lanjutku.

Zaki sepertinya sudah hendak menyahut, tapi urung saat suara dering hp nya menyala. "Ya halo?" katanya dan bangkit sedikit menjauh dari kami. "Iya! Ngerti! Iya. . . .! Fine!" sahutnya lalu menutup hp nya. Zaki kembali duduk didepan kami. Diam sejenak dan tampak berpikir keras.

"Bagaimana Ki?" tanyaku setelah beberapa saat kami dalam keheningan yg mencekam.

"Dimana kau kerja?" tanyanya tiba-tiba mengagetkan.

"Di. . . rumah makan Bu Indri," jawabku sedikit heran

"Setiap hari?" tanyanya lagi, membuatku semakin heran.

"Dari hari senin sampai sabtu saja. Aku kerja sampai jam 12 siang.Kenapa memangnya?" tanyaku tanpa dapat menahan diri.

"Hari minggu kamu gak kerja?" tanya Zaki kembali tanpa menghiraukan pertanyaanku.

"Biasanya sih ngasih les ke anak SD! Tapi sekarang udah enggak, karena mereka sekeluarga pindah kota," jawabku sedikit bingung ke arah mana pembicaraan kami ini menuju.

"Dengan kata lain, skrng kamu nganggur dihari minggu kan?" gumam Zaki pelan setengah berpikir. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

Aku melirik cemas kearah Regi dan Vivi. Keduanya terlihat sama bingungnya denganku. Sama2 tak tahu maksud dari pertanyaan-pertanyaan Zaki tadi.

"Baiklah! Mulai hari minggu besok, kau kerja padaku! Kujemput kau jam 6 pagi. Tulis alamatmu sekarang!" kata Zaki akhirnya, membuatku sontan melotot.

HAH??!!

DIA BILANG APA?!!


ZAKI

Hampir 1 jam setelah kepergian mereka, aku masih duduk di sova ini. Berpikir. Terus terang aku terkesan. Dengan keadaannya, kukira Regha hanya akan membawa jauh lebih sedikit dari yg ia berikan padaku tadi. Kukira dia akan datang dengan berbagai macam dalih tentang ketidakmampuannya. Atau mungkin memohon padaku agar aku bersimpati padanya dan tidak menuntutnya lagi. Merelakan kerugianku.

Tapi aku salah.

Dia hanya meminta waktu padaku. Agar dia bisa mengumpulkan uang untuk melunasi kekurangannya.

Dan dua orang temannya juga sangat menarik, juga fakta yg mereka ungkapkan sekilas tadi.

The Flaming one, Regi?! Orang seperti dia biasanya hanya akan menjadi bahan celaan teman-temanku di Australia. Cowok melambai dan kecewek-cewekan seperti dia hanya akan jadi bulan-bulanan. Di bully oleh teman-temannya. Dikunci dalam toilet, kepala diceburkan ke toilet, atau bahkan mungkin ditelanjangi rame-rame. Tapi mungkin disini berbeda. Aku sebenarnya agak sedikit terganggu dengan caranya memandangku tadi. Tapi selama dia tidak bikin gara-aku, aku tak akan memperdulikannya.

Lalu Vivi, cewek bertubuh subur yg sepertinya begitu nyaman bersama Regha dan Regi (Baru aku sadari kalau nama mereka berdua ber rima). A fag hag? Atau hanya sesama orang terasing dalam strata sosial kampus? Entahlah.

Yang jelas, keterangan Regha bahwa mereka telah ikut menyumbang -bukan meminjamkan seperti kata Regha sebelumnya- sebesar 5 juta uangnya, cukup mengesankan. Hanya sedikit orang yg kukenal, apalagi dalam kondisi mereka yang tidak begitu spesial, mau menyisihkan apa yang mereka miliki, demi teman mereka.

Aku harus menyelidiki mereka, putusku dan segera menelepon Pak Bima. HeadSecurity yang kemarin membantuku mencari data tentang Regha. Data yg selanjutnya tentang Regha, akan ku gali sendiri. Toh kami akan bertemu hari minggu besok.

Kuakui, keputusanku untuk membawa Regha ke panti memang sedikit impulsif. Tapi hal itu terjadi begitu saja, tanpa dapat kutahan. Mungkin karena ketertarikanku pada karakter Regha. Aku berniat untuk tahu lebih banyak tentang anak itu.

Dan akan kupastikan kalau dia merasa menyesal telah berurusan denganku.


RIZKY

Aku memandang kearah gedung kampusku. Empat tahun aku menghabiskan waktuku belajar ditempat ini. Banyak kenangan tercipta disini. Dan untuk waktu yang lama, mungkin aku tak akan melihatnya. Saat ini, aku hanya ingin sedikit bernostalgia hanya dengan melihatnya. Gedung Laboratorium tempat aku praktek, Ruang kelas tempat aku berkutat dengan berbagai materi, Perpustakaan tempat aku belajar, bahkan kamar kecil yang sering kugunakan, tadi telah kulewati dan melihatnya sekilas.

Kini, saat aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru, aku bisa mengingat kembali hal-hal yang telah terjadi dulu. Saat aku berlari melintasi lapangan ini karena terlambat, saat aku berjalan melewati koridor-koridornya, dan saat aku duduk dibawah rindang pohon bersama teman-teman atau. . . Ferdy.Aku sedikit memicingkan mataku melihat sosok yg berdiri dibawah sebatang pohon akasia. Mulanya kukira dia hanya bayangan kenangan seperti yang terlintas dibenakku tadi. Tapi dia nyata. Dan dia jelas sekali sedang berdiri tak begitu jauh, memandangku. Senyum lebarnya tersungging, menampakkan dua lesung pipitnya yang dulu pernah kusuka.

Aku tak berharap bertemu dengannya setelah apa yg telah terjadi. Dia orang terakhir yg kuharapkan bisa kulihat ditempat ini. Aku sudah berhasil menghindarinya selama 3 bulan terakhir ini. Tapi sepertinya sekarang, aku harus menghadapinya. Kulihat dia melangkah mendekat dan aku cuma diam ditempatku berdiri.

"Masih ada urusan?" tanyanya ringan.

Aku mengangguk. "Hanya menyelesaikan beberapa berkas," sahutku.Mata Ferdy menatapku intens. Ada kerinduan yang jelas terpancar dan coba tak kuperdulikan disana. Salahku sendiri. Dia jatuh terlalu dalam padaku, meski aku sering bersikap keterlaluan padanya.

"Aku kangen," katanya pelan tanpa berkedip.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Kamu ngapain disini? Koas nya emang dimana?" tanyaku tanpa menanggapi pernyataannya tadi.

"Diluar kota," jawabnya sembari kembali terseyum, seolah-olah sikapku tadi sudah diduganya. "Kamu punya waktu?" tanyanya lagi.

"Aku harus packing barang-barangku dikost untuk kukirim pulang, dan. . ,"

"Baguslah! Aku bantu. Ayo?!!" sahutnya cepat dan menggamit lenganku. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi selama ini sikapku sudah keterlaluan. Setidaknya, aku harus meninggalkan kesan yg baik terakhir kali, pikirku. Aku menghela nafas dan menurut pada tuntunannya. Wajah Ferdy terlihat sumringah karenanya. Kami berjalan menuju mobil Ferdy. Aku sendiri membiarkan lamunanku melayang.

Pertama kali aku mengenal Ferdy atau lebih tepatnya, menyadari keberadaan Ferdy adalah saat kami mengerjakan tugas kelompok tentang kelainan pada usus manusia. Seperti di Bandung, di Yogyakarta ini aku tetap menjadi diriku yang biasanya, sedikit sulit untuk bersosialisasi. Aku lebih suka melakukan segala sesuatunya sendiri. Tanpa yg lain.

Sialnya tugas kali ini harus dilakukan secara berkelompok. Jadilah aku celingukan gak jelas.

"Rizky sudah ada kelompok?" tanya seseorang dari arah depanku.

Aku berpaling dan mendapati seorang cowok berkulit putih tersenyum ramah padaku. Dipipinya kulihat 2 lesung pipit yg membuatnya tampak menarik. Aku tak mengenalnya. Tapi dia tahu namaku. Aku hanya tahu kalau anak ini memang seangkatanku, tapi tak pernah sekalipun kami berkomunikasi. Meski sudah bertahun-tahun kami belajar diruang yang sama. Sepertinya aku benar-benar seorang misanthrope sejati, pikirku kecut. Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya.

"Kalo gitu bareng sama Ferdy," dia memegang dadanya, "Nathalia dan Reyna aja ya? Sekelompok 4 orang," jelasnya lagi tanpa kutanya. Dia menunjuk kedadanya sendiri lalu ke beberapa orang lain dibelakangnya. Aku hanya menjawabnya dengan angkatan bahuku.

Tanpa melepas senyum diwajahnya dia memanggil dua orang teman yg dia sebutkan tadi dan mengenalkannya padaku.

Nathalia, cewek keturunan dengan tinggi sekitar 155cm dg potongan rambut trendy dan sepertinya cerdas. Reyna, cewek berkerudung berwajah ramah, hampir sama tingginya dengan Nathalia, dan sepertinya asyik diajak untuk ngobrol.

Kami segera duduk bersama. Ferdy berada disebelahku. Dan entah sengaja atau nggak, bahu dan tangan kami sering bersentuhan. Mulanya aku acuh dan tak menyadarinya. Tapi jika hal itu terjadi berulang kali dalam rentang waktu yang begitu singkat, aku mulai curiga kalau dia sengaja melakukannya. Saat aku melihatnya, Ferdy hanya tersenyum dan menunjukkan wajah santai.

Lama kelamaan aku jd kesel juga. Nih anak muka tanpa dosa tapi berani jg, batinku. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena kami berada dalam kelas, jadi aku berusaha menahan diri. Tapi ternyata tugas kami cukup sulit, jadi kami sepakat untuk melanjutkannya diperpustakaan.Disana Ferdy kembali duduk disebelahku, dan kejadian yg sama terulang. Kalau dikelas aku tak bisa berbuat apa-apa, di perpustakaan aku membuat Ferdy terbatuk-batuk keras saat aku meletakkan tangan kananku dipahanya, lalu meremasnya sekilas.

Nathalia dan Reyna sempet kaget juga dg Ferdy yg tiba-tiba saja terserang bengek.

"Kenapa sih lo?" tanya Nathalia.

"Sorry! Tadi kemasukan debu kali," elaknya cepat dg muka memerah.

Aku pura-pura cuek dan menancapkan mataku pada buku yg ada didepanku. Tugas kami selesaikan pada jam 7 malam. Dan kami segera berpamitan untuk pulang ke kost masing-masing.

"Rizky aku anter ya?" tawar Ferdy.

"Nggak usah. Kost ku deket kok," tolakku.

"Tapi aku pengen tahu kost Rizky dimana, jadi kapan-kapan bisa maen," katanya lagi. Aku tahu apa yg dia maksud. Jujur dia orang yg cukup menarik. Jadi aku mengangkat bahu dengan paksaannya.Kami menuju mobil Ferdy yg ada ditempat parkir. Masih ada beberapa kendaraan mahasiswa disana. Sebuah mobil sedan keluaran Jepang menyala saat Ferdy memencet remote yg diambilnya dari saku. Tanpa suara aku hanya mengikutinya masuk ke mobil.

"Kemana Ky?" tanya Ferdy.

"Sepertinya tanpa kusebut, kamu sudah tahu kostku dimana. Jalan saja," kataku dengan nada datar. Dari tadi sebenarnya aku curiga kalau anak ini tahu beberapa hal tentangku. Sikapnya tadi yang membuatku menarik kesimpulan itu. Seperti dugaanku, pipinya terlihat merona. Dia tertunduk sedikit malu, lalu segera menghidupkan mobil.

"Sudah berapa lama?" tanyaku saat kami mulai meluncur pelan.

"Huh?! Apanya?" tanya Ferdy tak mengerti.

"Kamu merhatiin aku," jelasku datar.

Hening sejenak. Ferdy tak langsung menjawabnya. Matanya masih menatap lurus kejalan didepan kami. "Sudah lama," jawabnya akhirnya setelah menarik nafas dalam.

Aku tak bereaksi. Tak berapa lama, kami berhenti didepan bangunan kostku. Dia benar-benar tahu beberapa hal tentangku. Apalagi yg dia ketahui kira-kira ya? batinku. Tapi aku tak tertarik untuk bertanya. Aku sudah hendak keluar, tapi tangan Ferdy menahanku.

"Apa aku harus minta maaf?" tanyanya.

"Karena kau menyelidikiku? Aku tak peduli," jawabku acuh.

"Tidak ingin yahu kenapa aku melakukannya?"

"Kita berdua tahu kenapa kau melakukannya. Rasanya tak perlu dibahas lagi."

Mata Ferdy membesar dengan jawabanku tadi. "Jadi apakah kau juga. . .," dia tak meneruskan kalimatnya. Aku sendiri tidak memberinya jawaban pasti, hanya kembali mengangkat bahu dan hendak keluar.

Tapi lagi-lagi dia menahanku.

"Apa lagi?" tanyaku.

"Hmm. . . , Rizky malem minggu besok ada acara?" tanya Ferdy sedikit ragu. Aku tidak langsung menjawab, hanya diam memperhatikannya.

"Ka-kalau ng-nggak keberatan, m-mmau nonton bareng?" tanyanya lagi dengan nada gugup dan sedikit ragu.

Aku hanya mengangkat bahu. Kupikir apa salahnya, toh dia lumayan juga.

"Kujemput jam 7 ya?" tanyanya memastikan. Aku hanya mengangguk dan segera keluar.


Itu kencan pertama kali. Dan seterusnya berjalan dengan sendirinya. Ferdy jadi sering main ke kostan ku. Terkadang juga menginap. Aku sendiri tak keberatan karena bersama dengannya, salah satu kebutuhanku terpenuhi. Apalagi Ferdy adalah orang yang cukup perhatian, sabar dan pengertian.

Dia tak pernah mengeluh dengan sikapku yang terkadang bisa mendadak dingin kalau suasana hatiku buruk. Dia tak pernah protes saat aku tak mau atau tak bisa memenuhi permintaannya. Dan akan segera mengatakan 'YA' kalau aku meminta sesuatu. Terkadang aku merasa salut dengan kesabaran dan toleransinya pada sikapku. Meski bahkan aku sendiri kadang merasa kalau sikapku keterlaluan. Tapi Ferdy tak pernah bersuara.

Yang selalu kujaga, selama kami bersama, tak pernah sekalipun aku mengucapkan kata jadian. Tak sekalipun aku mengatakan aku menyukainya, apa lagi mencintainya. Tiap kali dia mengatakan tiga kata itu, aku hanya diam saja, atau paling banter tersenyum. Kalimat-kalimat itu tak pernah keluar dari mulutku sendiri. Karena aku tahu, aku tak menyukai Ferdy dalam artian romantis. Dan aku tak ingin memberikan harapan palsu padanya.

Ferdy sendiri tak pernah menuntutku. Seperti yg pernah dia katakan, dia sudah merasa cukup bisa berada didekatku. Apa lagi aku tak pernah bersama dengan orang lain. Dalam bayangannya, seakan-akan kami adalah pasangan eksklusif yg hanya memiliki 1 pasangan. Aku tak pernah tertarik untuk mengoreksi pemikirannya.

Tak pernah sekalipun aku mengatakan tentang Regha padanya.

Ada beberapa kejadian yg sampai sekarang membuatku ingat padanya, meski kami sudah tak bersama.

Yang pertama adalah saat ulang tahunku tanggal 9 Februari, 2 tahun yg lalu. Beberapa hari sebelumnya, aku berada di Bandung. Mudik karena ada suatu urusan. Saat Ferdy telepon, aku mengatakan kalau aku berencana pulang tanggal 9 dengan penerbangan siang.

Aku sendiri tidak berpikir kalau dia ingat tanggal ulang tahunku. Dan ternyata , hari itu aku baru bisa pulang dengan penerbangan terakhir. Aku baru sampai di kostan pada pukul 3 pagi. Saat masuk kekamar kostku, aku sempat mengira kalau aku salah masuk.Kamar kostku terlihat seperti ruang pesta kecil. Ada hiasan balon-balon dan kertas warna-warni. Ada tulisan selamat ulang tahun besar yang dibuat dari kertas berwarna emas tergantung didinding. Lalu ada sebuah kue tart besar dengan lilin bertuliskan angka 20 ditengah ruangan.

Di tempat tidur, kulihat Ferdy yang tertidur dengan pakaian lengkap. Wajahnya tampak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Ada bekas tangis disudut matanya yg sudah mengering.

Aku mengumpat lirih. Sepanjang hari tadi aku memang tak mengaktifkan ponselku. Aku sama sekali tak ingat untuk menghubunginya soal perubahan jadwal pesawat yang kutumpangi, karena memang biasanya aku tak melakukannya. Aku merasa sedikit bersalah.

"Fer. . . ," panggilku dan sedikit mengguncang bahunya. Pada panggilan ketiga, dia mulai bereaksi. Matanya mengerjap beberapa kali. Untuk sejenak dia memandang berkeliling, sedikit bingung dan tampak tak tahu tempat. Saat dia melihatku, sepertinya dia mulai sadar.

"Hei. . . ," sapanya, sedikit serak karena kantuk. "Baru nyampe?" tanyanya dan mengucek matanya dengan punggung tangan.

"Yeah," jawabku dan kembali memandang berkeliling. "Seharusnya kau tak perlu melakukan ini."

"Happy birthday," bisik Ferdy pelan lalu mencium pipiku. Secara naluriah tanganku memeluk pinggangnya, dan menariknya.

"Kau seharusnya tak melakukan ini," ulangku dan mencium sekilas ujung kepalanya.

"Seharusnya ini jadi pesta kejutan untukmu. Tadi sih banyak anak-anak. Tapi mereka udah pulang karena kamu gak dateng2!Kenapa baru nyampe jam segini?" tanyanya.

Sejenak aku memandangnya. "Aku dapat penerbangan terakhir," jelasku.

"Ponselmu. . ,"

"Kumatikan sejak siang," sahutku, memotong kalimatnya.

"Well. . . . , sekarang sudah bukan kejutan lagi. Tapi. . . bagaimanapun juga selamat ulang tahun ya?" kata Ferdy dan mengecup lagi rahangku.

Aku meraih wajahnya dan mencium bibirnya. Mengucapkan terimakasihku lewat ciuman itu. Tanganku masuk ke dalam T-shirt Ferdy, mengusap bagian depan dadanya, membuat Ferdy mengerang pelan.

"Hadiahmu. . ," desahnya pelan.

"Nanti," kataku singkat dan menarik lepas T-shirt Ferdy dari tubuhnya.Sedikit banyak aku memang tersentuh dengan apa yang Ferdy lakukan. Tapi sayangnya itu hanya sensasi sesaat bagiku. Karena aku sendiri tak tahu kapan ulang tahunnya, dan juga. . . , aku tak perduli. Mungkin terdengar kasar, tapi itulah kenyataannya.


Sekitar 8 bulan kemarin Ferdy tiba-tiba saja muncul dikamar kostku dengan wajah cerianya.

"Ky. . . , ntar malem traktir dinner ya?" pintanya mendadak.

Aku yang sedang membuat sebuah laporan hanya mendengus. "Aku sibuk dengan laporanku," jawabku singkat tanpa memalingkan mukaku dari screen laptop.

"Khusus malam ini Ky. Bisa ya?" pintanya lagi.

"Ujian sudah didepan mata. Apa nggak sebaiknya kamu belajar," sahutku sedikit menggerutu.

"Ky! Aku cuma minta malem ini saja kok. Nggak akan minta lagi deh!"

Aku jadi sedikit heran dengan sikapnya yang sedikit memaksa akhirnya berpaling menatapnya yang sedang duduk di tempat tidur. "Kamu kenapa sih?!" tanyaku sedikit kesal.

Ferdy memalingkan muka dengan ekspresi yg tak kumengerti. Dia tak menjawab, hanya menghela nafas berat lalu bangkit. "Sudahlah," katanya pelan membuatku semakin heran. "Kamu sibuk! Seharusnya aku gak ganggu. Maaf," katanya dan kemudian pergi.

Untuk sejenak aku benar-benar dibuat heran dengan tingkahnya. Sesaat aku cuma diam bengong. "Dasar aneh!" gerutuku pelan lalu kembali berkonsentrasi dengan tugasku.


3 hari berikutnya, Ferdy tak terlihat dikampus. Aku sendiri tak tahu kalau saja pada hari itu aku memerlukan buku anatomi yang kemarin sempat dipinjamnnya.

"Ferdy gak masuk Nat?!" tanyaku pada Nathalia yg waktu itu sedang berjalan menuju kantin.

"Lho? Dia kan opname sejak 2 hari kemarin," ujarnya heran.

"Opname?" gumamku.

"Sudah 3 hari ini dia gak masuk kuliah kan? Masa lu gak nyadar Ky?" tanya Nathalia semakin heran. Aku hanya menggeleng. Aku segera pergi setelah dia memberitahuku dimana Ferdy dirawat.

Saat aku tiba kamarnya, Ferdy sedang duduk sembari membaca sebuah buku. Mulanya dia sedikit agak kaget dengan kedatanganku. Tapi Ferdy segera menguasai diri. "Sendiri?" tanyanya datar dan meletakkan buku yg dibacanya.

Aku mengangguk. Kuletakkan parcel yg kubawa dimeja kecil yg ada disisi tempat tidurnya. "Nathalia yg kasih tahu aku," kataku memberitahunya tanpa ditanya. "Sakit apa?" tanyaku.

"Lambung," jawab Ferdy singkat. Aku hanya manggut mendengarnya. Dengan itu aku tak tahu apa lagi yang harus aku katakan. Aku hanya diam dan memandang sekeliling. Kamar Ferdy dilengkapi dengan tv dan sebuah tempat tidur tambahan yg sepertinya diperuntukkan bagi keluarga yang menginap.

Tak ada tanda-tanda keluarga Ferdy yang datang. Selain parcel yang kubawa, serta beberapa buku dimeja itu, aku tak melihat benda pribadi apapun disana. Aku lalu melihat pada tabung infus yang dialirkan ketubuh Ferdy melewati lengannya. Lalu pandanganku beralih pada wajahnya.

Baru kemudian aku sadar kalau sedari tadi Ferdy memperhatikanku dengan tatapan sedih. "Apa?" tanyaku sedikit tak nyaman dengan caranya menatapku.

"Aku tahu kau menyukai seseorang bernama Regha," katanya pelan.

Aku kaget bukan main!

Seingatku, tak sekalipun aku menyebut nama Regha didepannya. Pernyatannya yg begitu tiba-tiba membuatku terpaku diam ditempatku.Ferdy kembali tersenyum sedih. "Beberapa kali kau menyebut namanya dalam tidurmu," katanya kemudian.

"K-kapan?" tanyaku beberapa saat kemudian.

"Ketika pertama kali kita tidur bersama," jawab Ferdy. "Juga saat ulang tahunmu kemarin. Juga pada beberapa malam lainnya saat aku menginap dikamarmu. Mulanya kukira itu cuma igauan tak jelasmu. Tapi kalau kau begitu sering menyebutnya dalam tidurmu. . . . , berarti dia seseorang yg sangat berarti bagimu kan?"

Aku tak menjawabnya.

"Kau menyukainya? Pacarmu?" tanya Ferdy pelan.

Aku hanya mampu menggeleng untuk menjawabnya.

"Lalu siapa dia?" tanya Ferdy ingin tahu. Kukira, pada saat kalimat ini dia tanyakan, dia akan melakukannya dengan penuh kemarahan. Berteriak-teriak histeris, memaki, atau menyumpah geram. Tapi Ferdy begitu tenang dan terkontrol. Hanya dari matanya aku bisa melihat gejolak hebat yang dia rasakan. Reaksi pertamaku adalah ingin menyangkal fakta yg sebenarnya. Mengucapkan kebohongan-kebohongan yg mungkin akan sedikit menenangkannya. Tapi. . . . ,apa itu yg terbaik baginya?

"Dia. . . , orang yang kucintai," jawabku akhirnya, jujur. Ferdy tidak layak untuk dibohongi. Dia patut mendapatkan kebenaran dariku. Dan seperti yg kuduga, sorot terluka dimatanya makin kentara. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa untuknya. Tidak lagi.

"Seharusnya tahu," desahnya, lalu diam sejenak. "Satu hal yang kusadari. . . ," kata Ferdy lirih kemudian dan sedikit bergetar, ". . . selama kita bersama, nggak sekalipun kamu bilang kalo kamu. . . , mencintaiku. Aku kira aku sudah berusaha sebaik mungkin menunjukkan perasaanku padamu. Berharap kau tahu kalau aku tulus. Tak pernah kuperdulikan sikapmu yang terkadang dingin dan acuh. Meski aku tahu ada Regha dihatimu. Kini aku tahu. . . , kalau semua usahaku itu tak berarti. Kenapa. . . , kamu tak bisa menyayangiku Ky?"

Sial!!! Aku merutuk dalam hati.

Aku benci melihat air mata Ferdy yg turun dipipinya. Aku tidak suka melihatnya begitu. . . ,terluka. Parahnya lagi, aku yang menyebabkannya begitu. Tapi dari awal kebersamaan kami, aku memang tak pernah menjanjikan apapun padanya. Aku benar-benar ingin pergi dari kamar ini sekarang. Tapi kakiku menahanku. Sepertinya, menyaksikan penderitaan Ferdy menjadi sebuah hukuman bagiku. Namun lebih dari itu aku tahu, bahwa aku harus menyampaikan kebenaran padanya.

"Pernah. . . ,"Ferdy menarik nafas panjang dan mengusap aliran air dipipinya, ". . . , pernahkah kamu mencintaiku?" tanyanya kemudian.Kembali aku berpikir untuk berbohong padanya. Namun aku berusaha menekan keinginan itu. "Tidak dalam artian seperti yang kaupikirkan," jawabku datar. "Aku sayang kamu, tapi tidak mencintaimu. Sudah lama aku mencintai Regha."

Ferdy menutup matanya sejenak, terlihat makin rapuh dan terluka. "Dia tahu?" tanya Ferdy setelah mampu menguasai diri.

"Tidak! Dan mungkin tak akan pernah tahu. Setahuku. . . dia bahkan bukan seorang gay," jawabku dan berusaha menampilkan wajah yg biasa-biasa saja, meski fakta yang kusampaikan tadi cukup menyakitkanku.

"Kenapa?"

"Karena aku tak bisa. Itu saja!" jawabku, tak ingin melanjutkan topik itu.

"Aku tak bermakna bagimu?"

Aku menggeleng. "Tidak dalam artian yg kau maksud. Tapi aku peduli padamu. Karena itu aku tak pernah berusaha membohongimu. Aku selalu berusaha untuk bersikap netral. Tidak menjanjikan atau menjurus ke arah suatu hubungan yang serius denganmu. Karena itu aku tak pernah mengatakan hal-hal yang kau inginkan. Karena aku tak mau membohongimu, memberimu harapan palsu, atau menjanjikan sesuatu yg tak akan bisa aku penuhi."

"Jadi aku hanya pemuasmu?"

Aku dia sejenak untuk memberi waktu. Bukan hanya padaku, tapi juga pada Ferdy yang emosi. Pertanyaan tadi bisa membuat segalanya menjadi lebih buruk. Aku tahu aku harus berhati-hati. "Kau lebih berharga dari itu Fer! Jauh lebih berharga. Kalau aku menganggapmu begitu, maka aku juga tak lebih dari seorang gigolo. Anggap saja kita adalah teman yang saling membantu. Hubungan kita lebih pada suatu hal yangg platonik," jawabku.

"Apa aku harus tersanjung dengan itu?" tanyanya getir. "Sang Romeo memilihku untuk menjadi selirnya," katanya lagi dengan nada sarkas.

Aku mendiamkan komentarnya tadi.

"Mungkin seharusnya aku tak jatuh cinta padamu," gumamnya kemudian lirih.

"Kalau begitu jangan!" sahutku tegas. "Jangan jatuh cinta padaku. Atau lebih baik, jangan mendekatiku. Jangan berteman denganku. Karena aku tak akan baik untukmu," lanjutku dengan senyum sedikit sedih. Aku tahu sudah saatnya kalau aku harus menjauh dari Ferdy. Untuk kebaikannya.

"Menurutmu begitu?" tanyanya sedikit tajam.

"Lihat saja hasil yang kau rasakan. Mungkin sudah saatnya kau menjauh dariku," kataku pelan. Dengan kalimat itu, kini aku sudah merasa tak ada lagi yang harus kukatakan padanya. Sudah saatnya Ferdy dan aku kembali menjalani kehidupan kami masing-masing sendiri. Karena tidak selayaknya dia menghabiskan waktu dan tenaganya denganku. Ada hal yang pasti lebih bermanfaat baginya daripada denganku. Karena itu, aku berbalik dan melangkah pergi. Pergi dari kamar dan -sepertinya- hidup Ferdy.

"KY!!!" pangggil Ferdy, membuatku aku yang sudah memegang handle pintu, urung membukanya. "Aku tetap akan menunggumu," katanya dengan nada yg terdengar yakin.

"Jangan!" potongku cepat masih memunggunginya. "Jangan sia-siakan waktumu."

"Aku akan tetap menunggumu. Dan akan kubuat kau mencintaiku," kata Ferdy tanpa memperdulikan kata-kataku tadi.

Perlahan aku berbalik dan menatapnya dingin. Aku mungkin harus membuatnya membenciku agar dia tidak berbuat bodoh lagi, pikirku. Aku tak suka Ferdy melakukan hal konyol yang pada akhirnya, hanya akan melukainya. Bahkan meski itu dia lakukan untukku. Sudah waktunya dia lebih menghargai dirinya sendiri. "Lakukan apa yang kau mau! Tapi jangan berharap aku akan menanggapinya!" kataku tajam dan berbalik tanpa melihatnya lagi.

Sejak saat itu aku menjaga jarak dari Ferdy. Dalam kelas, kuusahakan untuk duduk sejauh mungkin darinya. Kalau ada tugas kelompok, aku akan segera bergabung dengan yang lain, siapapun itu. Aku menghindar jika melihat sosoknya dari kejauhan. Dan aku segera pindah kost setelah membawa mobilku dari Bandung. Karena dengan begitu, aku bisa lebih bebas.

Aku juga bersikap sedikit kejam dengannya. Tidak pernah sekalipun aku mau menjawab sapaannya. Semua sms dan teleponnya tidak kutanggapi. Bahkan aku sengaja membeli ponsel dan nomor baru. Sementara nomor lamaku yang sudah terlanjur kusayang, lebih sering ku nonaktifkan. Hanya kuaktifkan saat mengisi pulsa atau ada perlu penting. Nomor baruku yang lebih sering kupakai. Aku berusaha merahasiakan nomor baruku itu dari Ferdy. Tapi entah bagaimana, dia tahu dan meneleponku. Saat aku tahu itu dia, aku langsung memutuskan koneksi kami.

Semua usaha Ferdy untuk mendekatiku, tak sekalipun kutanggapi. Aku benar-benar menghindar darinya. Dan selama 3 bulan terakhir ini aku berhasil.

Hingga hari ini.

MEMOIRS III (The Triangle) Chapter 5- Helping hands

REGHA

Aku masih tak percaya dg semua yg terjadi beberapa menit tadi. Bukan hanya krn Mas Rizky, yg biasanya begitu kaku, dan kukira akan memecatku, dg begitu lembut dan perhatiannya menenangkanku. Tapi jg sikapku yg benar2 memalukan. Tak ubahnya anak kecil yg kolokan, aku menangis sepuasnya dalam pelukan Mas Rizky. Aku tak bisa menahan diri, bahkan nyaris tak sadar dg apa yg kulakukan. Sikap Mas Rizky benar2 membuatku merasa cengeng dan lemah. Sikapnya membuatku merasa kalau aku bisa mengandalkannya. Bahwa dia ada disisiku untuk mendukungku. Bahwa aku tak sendiri. Hal itu membuatku nyaman, tahu bahwa aku tak sendiri.

Kenyataan yg cukup mengagetkanku.

Selama ini, aku bahkan sangat jarang berbicara dengannya. Meski telah bbrp bulan aku bekerja pd Bu Indri, Mas Rizky adalah sosok yg biasanya hanya kulihat dari kejauhan. Kalo berpapasan, paling2 kami hanya saling mengangguk dan tersenyum kecil. Pembicaraan verbalku dgnya tak pernah lebih dari 5 kalimat. Sosoknya selalu misterius bagiku. Kepribadiannya asing. Yg ku tangkap hanya kesan pendiam, tak banyak bicaranya. Bagiku dia adalah sosok yg membuatku segan.

Tapi tadi, aku benar2 telah mempermalukan diriku didepannya. Cowok mana cobayg bisa nangis sedemikian hebatnya dipelukan cowok lain.Demi Tuhan! Aku seorang mahasiswa! Bukan balita!

Dasar bodoh! rutukku dalam hati kesal.

Masih kuingat tadi usapan lembut Mas Rizky di rambutku. Ucapannya yg mencoba menenangkanku. Mungkin setelah 10 menit yg lama, aku baru bisa menguasai diri. Aku melepaskan pelukanku pd Mas Rizky cepat2 dg kepala makin tertunduk.

"Kamu lebih baik kembali ke kost mu dulu. Tenangkan diri. Tunggu aku disana, kita akan bicara. Sebentar lagi Ibu jg pulang. Aku akan mencoba un. . ."

"Jangan Mas!!!" potongku cepat. "Tolong jangan katakan apapun pada Ibu!" pintaku.

"Tapi mungkin Ibu bisa membantu dan. . ," Mas Rizky terdiam saat aku menggeleng cepat.

"Saya nggak mau ngerepotin Ibu Mas!" dalihku. Aku tahu Bu Indri orang yg sangat baik. Tapi uang 40 juta bukanlah urusan enteng. Aku tak akan lagi punya muka kalau sampai aku melibatkan beliau.

Mas Rizky akhirnya menghela nafas dengan penolakanku. "Ya sudah! Kamu pulang dulu. Tunggu aku di kostan mu!" kata Mas Rizky.

"Mas Rizky tau tempatnya?" tanyaku, kembali tanpa melihatnya.

"Aku pernah mengantar Ibu kesana, hanya saja waktu itu kamu pulang kampung," jelasnya dan menepuk bahuku pelan, kemudian berlalu.


Kini, saat aku berada disini, dan sadar kalau Mas Rizky akan datang, aku baru menyadari bahwa kamarku sedang berada dalam kondisi chaos! Barang2 berserakan.Bbrp celana dalam kotor berserakan. Tanpa membuang waktu aku segera membereskannya. Aku jelas tak ingin memberi kesan jelek pada Mas Rizky.

Hanya berselang beberapa detik setelah kamarku tampak rapi, terdengar ketukan pada pintu kamarku.

"Yaaa. . !" sahutku dan segera mendekat. Untung saja selesai, pikirku.Aku membuka pintu, dan sedikit kaget saat melihat Regi dan vivi berdiri didepanku. Regi berpose seakan-akan dia model sebuah pakaian kuntilanak seksi, sementara Vivi cuma nyengir saja padaku.

"Kalian!" kataku pelan dan menghembuskan nafas.

"Ih! Kok gitu sih?" tegur Regi cemberut. "Mestinya jij seneng dong ikke mawar maen ke kostan lo yg joorr. . . " celotehan Regi terhenti saat dia masukkekamarku. "Aje gile!!! Adinda ampar Cin?! Tumben kamar jij rapi jali gindang? Biasanya disana ada kolor ijo. Trs dipojokan ada celana dalem jij warna krem. Disana buku. Trs dibelakang pintu ada gambar Pamela Anderson telenji. Eh. . . masih ada!"

Aku dg cepat menyambar gambar topless Pamela Anderson yg kutempel dibelakang pintu kamarku. Untung aja Regi menginventaris barang2 maksiatku. Kalo nggak, gambar tadi pasti lolos dari sensorku dan dilihat Mas Rizky.

Melihat reaksiku, Vivi dan Regi langsung memicingkan mata curiga."Siapa yg mau dateng Gha?! Ortu lo?" tanya Vivi dan duduk dikarpet.

"Prewi ya Cin?! Gacoan jij, em?!" sambung Regi, ikutan duduk.

"Nggak kok!" sangkalku cepat. "Bukan siapa2! Tumben nih? Ada apa?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatian.

"Kita khawatir ma elo Gha. Udah dapet jalan?" tanya Vivi pelan.

Aku hanya tersenyum kecut dan menggeleng. "Jalan darimana Vi? Duit 40 juta bukan jumlah kecil. Butuh waktu 4 tahunan lebih kerja di rumah makan Bu indri bagi gw buat ngumpulin duit segitu. Tadi aja gw hampir dipecat?"

"Hah?! Kok bisa?" tanya Vivi lagi.

"Gw gak bisa konsen kerjanya. Yg ada dipikiran gw adalah uang 40 juta itu. Beberapa kali gw salah kasih pesenan orang. Orang minta air minum malah gw kasih aer kobokan!"

Tanpa dapat ditahan Regi ngakak keras mendengar ceritaku. "Aduh Cin! Gilingan jij! Masa orang disuruh minum aer kobokan wkwkwkwkk. . !!"

Aku hanya mesem kecut dengan reaksinya. Dalam keadaan biasa mungkin aku akan bereaksi yg sama seperti dia sekarang. Tapi tidak saat ini. Pikiranku masih terbebani. Vivi yg bisa menahan diri. Namun toh masih harus mesem jg menahan geli. Dia segera menowel Regi yg ngakak pake acara guling2 segala.

"Eh tuyul bencong!" seru Regi yg latahnya jadi kumat gara2 kaget ditowel Vivi. "Sorry Nek. Abis jij sinting sih."

"Lo tuh bencong sinting!" gerutu Vivi kesel yg dibales dg juluran lidah oleh Regi.

"Dasar kebo Thailand! Gak bisa liat orang seneng!" gerundeng Regi lalu berpaling padaku. "Gini Cin, kita berdua kesini buat kasih ini ke lo!" kata Regi dan menyerahkan sebuah amplop padaku.

Dg keheranan aku menerimanya. Mataku membelalak melihat isinya."Cuman 5 juta Cin. Hanya segitu yg bisa kita kumpulin buat bantu elo," kata Regi pelan.

"Nggak banyak sih Gha. Maaf ya? Tapi cuma segitu yg kita berdua miliki," imbuh Vivi.

"Kalian. . ."

"Ikke gak mau denger segala omong kosong jij!" potong Regi sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku. "Lo pake aja uang itu. Kita ikhlas. Semoga aja bisa bermanfaat!" lanjutnya dg senyum tulus.

Untuk kedua kalinya dihari itu, aku dibuat tertunduk. Masih ada! batinku. Masih ada orang sebaik mereka berdua di tempat ini! Masih ada orang yg mau membantu orang lain seperti mrk. Aku tak bisa berkata apa2. Hanya tertunduk dg dada sesak dan tangis yg tertahan.

"Orang2 seperti merekalah yg bisa kau sebut sebagai sahabat Gha!"Kami semua sedikit terlonjak oleh suara pelan yg memecah keheningan tadi. Mas Rizky hanya tersenyum lalu melangkah masuk. Aku sendiri hanya mampu menatapnya sejenak, dan kembali tertunduk. Kembali aku mempermalukan diriku didepannya. Aku tak bisa menahan diriku dan menangis. Apalagi saat Mas Rizky duduk disebelahku dan meraih kepalaku untuk dia sandarkan kebahunya.

"Sudah dong! Malu tuh sama temennya!" tegur Mas Rizky menyadarkanku. Aku segera menegakkan diri. Sekuat tenaga aku menahan diriku. Kuusap pipiku dg punggung tanganku. Tapi sedikit tercenung saat Mas Rizky mengangsurkan sebuah sapu tangan padaku.

Aku yg semula hendak menolak jd urung saat Mas Rizky mengusapkan saputangan itu pada bawah hidungku yg jg berair.

"Makasih Mas!" kataku pelan dan meraih saputangan Mas Rizky agar aku bisa membersihkan diriku sendiri.

"Dan ini!" sambung Mas Rizky, mengeluarkan sebuah bungkusan.

"Kamu melarangku untuk ngomong sama ibu. Jadi aku cuma bisa kasih kamu apa yg aku mampu!"

Aku lagi2 dibuat terbungkam.

"Hanya 10 yg kupunya. Kalau digabung sama punya temenmu, masih belum cukup 40. Kamu punya simpanan Gha?!" tanya Mas Rizky.

Sejenak aku tercenung diam, terlalu kaget untuk bereaksi. Begitu bisa menguasai diri, aku mengangguk. "Ada sekitar 6 jutaan Mas!" jawabku pelan.

"Kalo gitu, kita tinggal mikirin sisanya," gumam Mas Rizky dg nada mengambang. Sepertinya berpikir. Aku meliriknya, tp kemudian justru dibuat sadar dg tingkah Regi dan Vivi. Regi kasih isyarat towelan heboh ke Vivi sambil bibirnya berbisik rumpi.

Saat tahu kalo aku memperhatikannya, Regi lngsung nyengir. Siapa dia Ciinn? Cakeeeepp!!! teriaknya histeris dalam bahasa bibir tanpa suara dg tampang mupeng, membuatku mendelu dalam hati.

"Eh Mas, kenalin temen Egha. Ini Regi dan Vivi!" kataku memperkenalkan mrk setelah berdehem sejenak.

"Waduh!! Maaf, Rizky!" kata Mas Rizky yg cepat menguasai diri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dg mereka.

"Mas Rizky ini putra dari Bu Indri Vi,Gi!" jelasku.

"Oooh!! Mas Rizky udah kerja? Dimana?!" tanya Regi dg nada super sopan sehingga membuatku mengangkat sebelah alis heran.

"Belum Gi. Masih kuliah jg!"

"Mas Rizky kuliah di Kedokteran UGM Gi!" imbuhku.

"Wuuuaaahh!!!! Hebat banget. Saya dulu pengen lho Mas masuk ke UGM tapi gak lolos seleksinya," decak Regi. Kali ini aku dan Vivi yg berkernyit heran. Saya?! Sejak kapan Regi kenal dan memakai kata 'saya' dalam kalimatnya? Setahuku, kosakata yg dia miliki untuk kata ganti orang pertama adalah ikke,gue atau akika. Lagipula sikap sopan yg dia gunakan belum pernah sekalipun kami lihat. Ngomong sama dosen saja gak sesopan ini deh? batinku.

"Biasa aja Gi!" sahut Mas Rizky dan tersenyum tipis.

"Aahh Mas Rizky mah merendah! Jarang2an lho ada cowok dg kualitas seperti Mas Rizky ini bisa begitu bersahaja," sanjung Regi makin menjadi.

Aduh! Kumat deh! batinku. Sementara Vivi memutar bola matanya seakan-akan berkata Ooookay Here We Go!

"Udah pinter, cakep baek lagi. Saya sendiri TUYUL BENCOONG!!!" seru Regi saat dia terlonjak kaget, diikuti oleh suara dering ponselnya yg berbunyi keras, memperdengarkan lagu dangsut Julia Perez yg asyik belah duren!

Aku dan Vivi kontan ngakak keras, sementara Mas Rizky hanya tersenyum kecil. Regi sendiri yg mukanya merah padam akibat latahnya sendiri pamit untuk mengangkat telepon diluar.

"Indra bencoooong!!! Lu ngapain sih pake telepon2?! Ikke malu tau!!" umpatnya sedikit keras sehingga kami yg berada didalam ruangan bisa mendengarnya.

"Teman kalian sangat menarik," kata Mas Rizky dg senyum geli. Vivi ngikik pelan sementara aku tertawa kecil. "Jadi. . . . , gimana dg sisanya?" tanya Mas Rizky kemudian, kembali menyadarkanku akan masalahku yg belum terselesaikan.

"Biar Egha yg nyari solusinya Mas," jawabku pelan. "Mas Rizky udah sangat membantu Egha. Yg lainnya, biar Egha saja yg urus," kataku pelan. Entah dg cara apa, batinku.

"Egha?!" tanya Mas Rizky dg sebelah alis terangkat.

"Regha maksudnya Mas!" ralatku cepat.

"Egha tuh nama kecil sok imutnya Regha Mas Rizky," seloroh Vivi enteng membuatku sontan melotot padanya. Tapi kuntilanak pengidap obesitas krn kebanyakan nelen kemenyan itu cuek bebek. "Waktu kecil dia panggilannya emang Egha. Orang2 dikampungnya yg terisolasi itu manggil dia Egha. Sok imut banget kan? Saya aja gak tega nyebutnya. Apalagi ka. . ."

PLOK!!!!

Aku sudah melempar sebuah buku untuk menutup cerocosan tak jelas Vivi.

"Makasih ya?" kataku dg geraham terkatup krn jengkel.

Mas Rizky tertawa kecil. Harusnya dia sering2 melakukannya. Krn sosok misterius yg biasanya kutangkap darinya jadi lebih terlihat membumi bagiku. Ekspresi ramahnya yg dia tunjukkan benar2 berbeda dg imej dirinya yg selama ini kukenal.

"Egha?! Hmmm . . . , imut juga," gumamnya membuatku salah tingkah krn malu. Vivi yg mendengarnya nyengir senang dan menjulurkan lidahnya padaku. "Mau dipanggil Regha atau Egha aja?"

Aku cuma mampu nyengir tersipu dg godaannya. Vivi kancrut! makiku kesel. "Terserah Mas Rizky saja," sahutku tanpa berani menatapnya.

"Kalo gitu, aku kembali ke rumah makan dulu Gha. Kasian yg lain disana kalo kutinggal lama2. Kasih tau perkembangannya ya?" kata Mas

Rizky dan bangkit. Aku hanya membalasnya dg anggukan. Tepat pada saat itu Regi kembali nongol didepan pintu.

"Lho?! Mas Rizky mau kemana?! Kan belom ngobrol banyak sama Regi?" tanyanya sok akrab. Insiden memalukan bbrp saat tadi ternyata tidak cukup membuatnya mundur.

"Harus kembali kerumah makan dulu Gi. Kapan2 saja dilanjut ya?" balas Mas Rizky dan berlalu.

"Janji ya Mas?!!" seru Regi tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Mas Rizky yg menjauh.

"Cakep ya?!" komentar Vivi begitu Mas Rizky hilang.

"GYAAAAAA!!!!! Cucok pisan CIIIIINNNN!!!!! Sumpah gw rela diapa-apain ma cowok sekeren dia!!!" sorak Regi sembari lompat2 kegirangan. Aku tersenyum dibuatnya.

"Berkah buat lo, tapi kutukan buat Mas Rizky!" umpat Vivi nyolot!

"Yeeeee!!! Sirik lo! Eh, trs gimana urusan lo Gha?!" tanya Regi.

"Besok gw akan kerumah Zaki, dan bicara padanya," putusku pelan. "Gw harus bicara dan ngejelasin keadaan gw yg sebenernya. Kalo bisa, gw akan nyicil kekurangannya."

Regi dan Vivi saling berpandangan sejenak.

"Kita temenin Gha!" kata Vivi.

"Iya! Kita bareng kesana!" sambung Regi.

Lagi2 aku tersenyum dan bersyukur dalam hati telah memiliki teman sebaik mereka berdua. Semoga saja besok berjalan lancar, doaku dalam hati resah.

ZAKI

Aku selesai mengisi formulir klaim ansuransi itu dan segera memberikannya pada Pak Rusdi, pengacara keluarga kami yg akan segera mengurusnya. Mungkin akan butuh waktu beberapa minggu agar aku mendapatkan gantinya. Yang jelas, aku sudah membuat laporan. Jadi biar Pak Rusdi saja yg mengurus.

Untuk sementara, aku harusrela tidak memakai BMW ku yg ringsek dan menggunakan mobil sedan keluaran Jepang yg ada di garasi. Sebenarnya ada peugeot milik Mommy. Tapi aku tak ingin memakai apapun yg biasa beliau pakai.

"Saya permisi dulu," kata Pak Rusdi dan bangkit.

Aku hanya mengangguk dan menjabat tangannya. Tanpa menunggunya lagi aku segera kedalam, menuju ke ruang kerja. Ada beberapa surat yg seharusnya aku bereskan kemarin, tapi jadi tertunda krn insiden menjengkelkan itu. Aku juga sudah meminta seseorang untuk menyelidiki latar belakang Regha. Siang tadi aku sudah menerimanya, dan aku masih belum meliriknya.

Aku sedikit bergegas saat kudengar suara telepon yg berdering. "Ya hallo?"

"Zaki, ada klaim yg diajukan atas namamu. Mommy mu meminta laporan yg jelas. Ada apa?" tanya asisten Mommy dg suara yg terdengar efisien dan resmi.

Aku menghela nafas mendengarnya. Aku tahu kalau gerak-gerikku selalu diawasi. Tapi kecepatan berita yg beredar cukup mengesalkanku.

"Aku mendapat kecelakaan, dan mobilku ringsek. Karena itu aku mengajukan klaim," sahutku singkat.

Hening sejenak.

"Kau baik-baik saja?" tanya

"Fine. Hanya sedikit perban di jidatku. Ada lagi?" tanyaku tak perduli. Aku tahu kalau penjelasan detil justru akan membuatku terdengar seperti anak kecil yg merajuk.

"Bagaimana dengan urusan Pak Nurcahyo kemarin?"

"Pak Arya sudah menyelesaikannya. Aku tak bisa krn berada dirumah sakit kemarin."

"Sudah beres? Tak ada masalah?"

"Seharusnya kau sudah dengar kalau memang ada masalah. Apa kau dapat berita ada kebocoran informasi?" tegurku terdengar sedikit kesal.

"Hanya memastikan," sahutnya datar. "Itu saja. Kalau begitu, selamat siang," katanya lagi dan menutup telepon.

Aku mengumpat keras dan sedikit membanting horn telepon pada tempatnya. Tak pernah berubah! gerutuku dalam hati.

Selama bertahun-tahun seharusnya aku sudah terbiasa. Tapi aku tetap kesal. Dari dulu aku lebih sering berhunungan dg asisten Mommy daripada dengan Ibuku sendiri. Komunikasi kami hanya berjalan sesekali dan singkat. Kadang malah nihil.

Sejak dulu Mommy memang sibuk dengan berbagai kegiatan. Apalagi setelah Dad meninggal. Aku masih ingat kejadian saat aku kelas 3 Elementery itu. Malam setelah pemakaman Dad, Mommy menemuiku yg sedang terisak dikamar.

*flashback*

"Kau masih menangis?" tanya Mommy dengan suaranya yang nyaris dingin.

"Miss Daddy," kataku diantara tangis pelanku.

"Fine! Kamu bisa menangis sepuasmu hari ini. Tapi Mommy ingin kamu berjanji satu hal," kata beliau dan meraih daguku. Dia membuatku memandangnya. Menatap wajahnya yg datar dan sorot matanya yg keras. Mommy memang sosok yg tegas. Bahkan aku tak pernah melihatnya menangis sejak kami menerima kabar kematian Daddy. "Besok, kau tidak boleh lagi menangis!" kata Mommy yg terdengar seperti sebuah perintah.

Aku menatapnya tak mengerti.

"Kau boleh menangis sepuasnya hari ini, tapi besok dan seterusnya, Zake tidak boleh menangis lagi. Ever! You hear me? Zake harus jadi kuat. Zake tidak boleh jadi orang lemah yg hanya bisa menangis dan meratap!" kata Mommy dengan suara tegasnya. "Sekarang hanya ada Zake dan Mommy. Dan mulai besok, semua akan berubah. Mom ingin Zake jadi orang yg berbeda dari yg sebelumnya. Mom ingin Zake jadi orang yang kuat dan terbaik dari semuanya. Zake harus berusaha mati-matian agar Zake menjadi orang yg terbaik, krn Daddy sudah tidak ada. Dan Mommy mungkin tidak bisa terus berada didekat Zake Mommy yg sekarang harus mengurus semua bisnis keluarga kita. Tapi Mommy minta Zake berjanji pada Mommy, kalau Zake harus berusaha berubah. Zake harus jadi kuat dan terbaik dalam segala hal. Zake tidak boleh terlihat lemah, apalagi menangis seperti sekarang didepan orang lain. Jangan biarkan orang lain tahu kelemahan Zake, dan memanfaatkannya untuk menjatuhkan Zake. Jangan pernah terlihat lemah. Zake harus selalu jadi yg teratas dalam segala hal. Zake mengerti?" tanya Mommy.

Waktu itu aku hanya mengangguk. Mommy tersenyum dan memelukku. Pelukan terakhir yg pernah kuperoleh dari beliau.

"There's only you and me now," gumam Mommy pelan ditelingaku.


Dan sejak itu hidupku berubah.

Mommy mulai mengatur perbaikan dalam pendidikanku. Aku mendapat seorang asisten yg mengurus semua keperluanku, serta serangkaian pengajar privat yg membantuku. Mommy selalu mengevaluasi hasil belajarku setiap minggu. Dan beliau tidak akan mau menerima kalau aku mendapat nilai B untuk setiap mata pelajaranku disekolah. Nilaiku harus selalu A.

Pada saat di Senior High, aku dengan tegas meminta Mommy agar asistenku ditarik. Karena aku tak suka dikuntit kemanapun aku pergi. Beliau tidak keberatan asal aku masih tetap mempertahankan prestasiku. Bahkan sejak aku kelas 11, beliau mulai melibatkanku dalam urusan pekerjaan.

Sedikit demi sedikit beliau memintaku menyelesaikan beberapa hal kecil yg semakin lama semakin berat. Dan gagal bukanlah pilihan. Setiap ada urusan yg tidak beres, beliau akan memintaku untuk mengulanginya hingga aku mampu.

Aku sendiri kadang merasa lucu. Aku seperti memiliki 2 kepribadian yg berbeda.

Saat disekolah, aku hanyalah murid Senior High biasa yg bergaul dengan teman2ku. Hang out bareng, kencan dengan pacar, aktif dalam club baseball, dan terkadang berpesta dengan teman-teman.Tapi dirumah, aku lebih mirip orang kantoran yg selalu punya pekerjaan dan memiliki beberapa asisten yg siap membantuku. Ironis? Terkadang aku jg berpikir begitu. Tapi aku sudah terbiasa. Aku sudah mulai bisa membagi waktuku. Kapan aku bersenang-senang, serta kapan aku harus serius dengan pekerjaanku. Karena sekali lagi, gagal bukanlah pilihan bagiku. Mommy tidak akan menerimanya. Sosok Mommy sendiri nyaris seperti legenda bagiku. Setelah Daddy meninggal, aku jadi lebih jarang bertemu. Komunikasi kami lebih sering lewat telepon. Klasik sebetulnya. Beliau selalu sibuk dg bisnis keluarga kami yg semakin membesar.

Kurang dari setahun kemarin aku pindah ke Indonesia, karena Mommy ingin aku mengurus panti Jompo yg beliau dirikan disini. Aku sempat mengalami sedikit culture shock saat pertama kali pindah. Lebih karena lifestyle sebetulnya. Aku tak memiliki kendala dalam bahasa. Karena dari kecil, bahasa Indonesia telah menjadi bahasa keduaku. Mommy memastikan aku tahu akarku yg juga berada disini.

Saat test untuk bisa transfer disinipun aku tidak mendapatkan kesulitan, karena nilaiku tak pernah mengecewakan. Jadi meski universitas tempatku belajar skrng cukup dikenal, aku bisa masuk dengan cukup mudah.

Selain itu, tak ada yg berubah dalam kehidupanku.

Aku mengambil map laporan tentang penyelidikan Regha dan membacanya. Detil yg tertera disana sedikit diluar dugaanku. Tapi yg jelas aku akan memberi anak itu pelajaran. Tunggu saja!

Kamus kecil bahasa 'planet asing'

Mawar = Mau
Gindang = Gini
Gilingan = Gila
Adinda = Ada
Prewi/peureu(pere)/perpewi/prewong = Perempuan
Ampar =  apa

MEMOIRS III (The Triangle) Chapter 4- One step closer

REGHA

Hari ini kerjaku jadi berantakan! Beberapa kali aku salah meletakkan pesanan pelanggan rumah makan. Koordinasi antara pikiran, pendengaran dan gerak kakiku bener2 gak nyambung. Ada orang pesen air putih aku kasih aer kobokan. Orang pesen es campur, aku kasih kopi pahit. Paling parah ada yg pesen ayam lalapan malah aku kasih tumis kangkung! Semua itu diperparah oleh kehadiran Mas Rizky! Hari ini Bu Indri tidak masuk krn ada keperluan. Jadi Mas Rizky yg ngegantiin beliau jaga kasir. Kehadiran Mas Rizky selalu membuatku gugup.

Putra tunggal Bu Indri itu orang yg pendiam, jarang sekali berbicara. Sosoknya yang tinggi besar membuatnya tampak mengintimidasi. Wajahnya yg selalu datar dan acuh justru membuatnya semakin tampak misterius. Meski sebetulnya dia orang yg menarik. Padahal aku saja yg cowok bisa kasih nilai tinggi pada fisiknya.

Mas Rizky berkulit putih bersih, dg wajah mulus yg sepertinya tak pernah sekalipun berjerawat. Raut mukanya tenang dan sulit ditebak, dg bibir yg herannya, selalu tampak kemerahan basah. Brewok dan kumisnya selalu tercukur dan menyisakan warna kebiruan yg membuatnya terlihat dewasa. Tubuhnya tinggi besar dan tegap. Kelihatan banget rajin nge gym.

Di rumah Bu Indri memang ada bbrp alat olahraga yg sepertinya dia manfaatkan dg maksimal. Ditunjang dg tinggi tubuhnya yg 180 lebih, sosoknya jadi menakjubkan. Gaya berpakaiannya yg rapi cukup bikin aku minder. Baju2 yg dia pakai selalu tampak pas dan apik, seakan-akan memang dibuat khusus untuknya.

Beda banget sama aku. Mati2an buat tampil gaul, jatohnya malah alay gak jelas. Sikapnya yg berwibawa membuat aku kagum dan sering meniru tingkahnya. Kemampuan otaknya pun bikin iri berat. Buktinya dia bisa masuk fakultas kedokteran UGM. Cuman itu tadi! Orangnya irit banget ngomongnya. Bikin segan kalo kita mau berakrab ria. Kita ngomong panjang kaya kereta api express, dia jawabnya sependek bemo. Ngomong seperlunya aja. Aku sendiri lebih memilih menjauh darinya. Lebih senang memperhatikannya dari jauh dan. . .

PRAANGG!!!

Aku terpaku diam ditempatku berdiri. Baki dg dua piring nasi goreng yg kubawa tiba2 saja jatuh dengan suara keras. Isinya berserakan dikakiku. Anehnya, aku hanya diam dengan begonya dan memandang kekacauan yg kubuat dg tatapan kosong tak sadar.

"Regha!" panggilan sedikit keras dari belakangku membuatku terjingkat. Tatapan Mas Rizky yg tajam membuatku seolah-olah ditampar dg tiba2.

"M-MAAF Mas!!" pekikku nyaring dengan suara yg terdengar aneh. Aku celingukan bingung. Tahu kalau aku harus membersihkan makanan dibawahku. Tapi aku tak tahu harus bagaimana memulai atau dengan apa aku melakukannya. Gumaman bbrp pelanggan yg ada disekitarku hampir2 tak kudengar.

"Gha?!" panggil Mas Rizky lagi, kali ini dg nada menegur yg membuatku tanpa sadar menelan ludah! Aku mengangkat wajahku untuk bertemu dg tatapannya.

"Ikut aku! Andy, bisa tolong bereskan? Tita, tolong jaga kasir sebentar!" pinta Mas Rizky pada Andy yg jg hanya mampu diam dibelakangnya. Andy mengangguk cepat dan segera meraih sapu dan peralatan bebersih lainnya. Mas Rizky memberiku isyarat untuk mengikutinya. Mati gue! pikirku melas. Aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya kebelakang. Mas Rizky terus melangkah hingga keluar dari pintu belakang rumah makan. Aku jg keluar dengan kepala tertunduk lemas. Setelah aku sampai diluar, Mas Rizky menutup pintu dibelakangku.

"Katakan ada masalah apa?" tanya Mas Rizky langsung.

"Sa-saya nggak sengaja M-mas. Nggak tahu ke-kenapa bisa jatuh dan. . . ."

"Aku sudah perhatikan dari tadi kamu sama sekali nggak konsen kerjanya. Beberapa kali salah bawa pesanan pelanggan. Sampai makanan tadi kamu jatuhkan. Krn itu pasti ada sesuatu yg kamu pikirkan. Katakan ada masalah apa sebenarnya!

"pintanya tegas.Aku semakin tak bisa mengangkat muka. Lagi2 aku membuat masalah dg keteledoranku. Kalau sampai aku dipecat dari sini, akan tambah gawat kondisiku. Bagaimana aku bisa mengumpulkan uang 41 juta yg diminta Zaki?! Bagaimana aku bisa membayar kuliah dan biaya hidupku disini?!

"Gha?!" tegur Mas Rizky. Aku sedikit terjingkat dan dg takut2 mengangkat muka untuk melihatnya. Dia berdiri dg tangan terlipat didadanya. Ekspresi mukanya datar tp hal itu semakin membuatku merasa kalau aku sedang berada dalam masalah. Cepat aku kembali menunduk.

"Ma-maaf Mas!" pintaku lirih dan meremas-remas tanganku sendiri dg resah. "Sa-saya akan ganti piring yg pecah dan makanannya. Saya janji gak akan. . . "

"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku tadi!" potong Mas Rizky tajam. Aku hanya berjegit kecil karenanya. Tanganku semakin kuat saling meremas celemek seragamku untuk mengatasi kegugupanku. Sayangnya hal itu sama sekali tak membantu. Aku masih bisa merasakan tatapan Mas Rizky yg ada didepanku. Kediamannya jelas menuntut jawabanku yg sebenarnya. Akhirnya dg suara yg terbata-bata aku menceritakan apa yg sedang kuhadapi. Yg membuatku semakin merasa kecil adalah aku tak mampu menahan tangisku. Aku tak bisa menahan airmataku yg mengalir tanpa ampun saat aku bercerita.

Aku benar2 tak punya pilihan sekarang selain memintanya untuk tidak memecatku. Aku tak sanggup memikirkan kalau aku kehilangan pekerjaanku disini dan harus mencari uang sebesar 41 juta. Belum lagi masalah keperluan hidupku yg harus kupenuhi. Dg bekerja disini aku banyak mendapat keuntungan. Selain makan gratis, juga pemasukan tetap.

Kalau aku dipecat, aku akan semakin terbelit masalah besar.Pemikiran bahwa mungkin akan terpaksa berhenti kuliah krn semua hal yg terjadi membuatku menangis seperti anak kecil. Aku benar2 merasa ngeri kalau hal itu terjadi. Namun hal yg terjadi kemudian melebihi kengerianku. Mas Rizky mendekat dan tiba2 saja langsung memelukku. Dan beberapa detik kemudian kurasakan usapan lembut tangannya rambutku. Dengan perasaan ngeri aku sadari bahwa aku menangis dengan lebih hebat, dan kedua tanganku tanpa kutahan, telah melingkar dibelakang tubuh Mas Rizky!Tapi kedamaian yg menenangkan langsung membungkusku setelah itu!

RIZKY

Aku diam duduk diruang belakang rumah makan sendiri, masih sedikit terguncang dengan kejadian beberapa menit tadi. Aku tahu dengan pasti kalau aku menyukai Regha. Aku sudah memperhatikannya beberapa lama. Bahkan dia mendominasi pikiranku selama ini. Tapi memeluknya, mendekap tubuhnya dalam pelukanku merupakan sebuah cerita lain.

Selama ini aku bisa menguasai diriku dg baik. Aku dapat menahan keinginan besarku untuk bahkan sekedar berbicara dgnya. Tapi tadi, melihatnya yg tertunduk didepanku dg tubuh gemetar, membuat kendali tubuhku lepas. Saat tangis pelannya pecah, saat itu pula aku sadar kalau aku mencintainnya. Nyaris masih bisa kurasakan tubuhnya yg terguncan karena tangis dalam pelukanku. Masih terasa di tanganku gemerisik rambutnya yg tadi kubelai untuk menenangkannya. Bagian depan kemejaku pun masih basah oleh air matanya.

Aku menghela nafas berat.Aku tahu kalau aku tak akan bisa lagi melangkah mundur. Aku tak akan lagi menahan diri padanya. Aku akan menjadi orang yg memilikinya, karena dia telah memilikiku. Dan saat ini, dia membutuhkan bantuanku. Dan aku harus bergegas. Aku masih harus menjemput Ibu.

Ibu sudah menungguku. Wajah beliau tampak sumringah meihatku. Reaksi yg sedikit mengherankan, tapi aku segera paham begitu melihat seorang cewek yg keluar dari ruagan dalam rumah Tante Rina.

"Rizky!" sambut Tante Rina yg menyusul keluar dibelakang cewek yg kini tampak memperhatikanku. Aku tersenyum sopan pada Tante Rina.

"Siang Tante. Rizky mau jemput Ibu," kataku.

"Kapan pulang dari Yogyakarta Ky?" tanya Tante dan mendekat. aku segera menyalaminya.

"Baru beberapa hari Tan. Ada yg harus diurus," jelasku.

"Udah wisuda ya?"

"Sudah Tan. Tapi masih harus koas dulu," jelasku lagi, masih dengan senyumku.

"Rizky, kenalin ini lho Meisya, keponakan Tante Rina yg datang dari Jakarta," kata Tante Rina. Aku tersenyum pada cewek itu dan mengulurkan tangan sembari menyebut nama. Dia membalasnya, dan menggenggam tanganku lebih lama dari seharusny.

"Meisya. Rizky Dokter Muda ya?" tanyanya ramah. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

"Meisya ini hampir lulus lho. Calon pengacara handal dia," jelas Ibu tanpa disuruh. Siapa peduli? pikirku jengkel. Apa-apan coba Ibu?! Ngapain jg promosiin anak orang.

"Bu, kita harus pulang. Ada sesuatu yg harus Rizky urus," kataku singkat tanpa memperdulikan iklan gratisnya tadi. Sengaja aku membuat nada suaraku terdengar mendesak. Sepertinya berhasil karena Ibu segera bangkit.

"Ada apa Ky?" tanya beliau cepat.

"Nanti saja di mobil. Tante Rina, Rizky permisi dulu. Meisya!" pamitku.

"Ibu, Rizky tunggu dimobil," kataku pada Ibu lalu segera menyalami Tante Rina dan Meisya yg tampak sedikit kecewa. Beberapa menit kemudian Ibu segera keluar menyusulku. Ada sedikit kecemasan yg membayang diwajahnya.

"Ada apa Ky?" tanya beliau langsung begitu masuk kemobil.

"Bu, Rizky mau ambil uang Rizky di Bank buat bantu temen," kataku singkat dan menghidupkan mobil.

"Teman? Siapa? Ibu kenal?" tanya Ibu.Aku diam berpikir. Regha sudah memintaku untuk merahasiakannya, meski mungkin Ibu bisa membantunya. Jadi. . . . , apa lebih baik beliau kuberitahu saja?

"Ky?" tegur Ibu pelan. Aku menoleh pada beliau. Nama Regha sudah ada diujung lidahku. Tapi secara instingtif aku hanya menggeleng dan kembali berpaling pada jalan yg kami lalui.

"Perempuan?" tanya Ibu lagi, sedikit mengharap. Aku jadi sedikit meggerutu dalam hati karenanya. Kembali aku menggeleng.

"Memang berapa uangmu si Bank?"

"Sekitar 12 juta Bu," jelasku."Semuanya mau kamu pakai?" tanya Ibu lagi."Mungkin hanya 10 juta yg akan Rizky ambil," kataku.

Tidak mungkin juga aku ambil semua karena mungkin aku membutuhkan uang nantinya. Ibu diam sejenak. Beliau kemudian menarik nafas panjang.

"Kalau begitu, terserah Rizky. Toh uang itu hasil usaha Rizky selama ini kan? Tapi besok Ibu akan transfer 10 juta buat jaga-jaga," putus beliau.

"Bu. . !"

"Kamu mungkin membutuhkan uang kan? Kamu boleh bantu temenmu, tapi Ibu akan transfer uang buat menggantinya. Ibu percaya kamu punya alasan kuat untuk melakukannya," kata Ibu pelan. Aku tersenyum penuh terimakasih padanya, meski dalam hati aku merasa sedikit miris. Beliau terlalu mempercayaiku, meski aku tahu kalau aku tidak sebaik perkiraannya. Selesai mengantar Ibu aku segera ke Bank untuk mengambil uang. Setelahnya langsung ke menuju kost Regha. Ada sebuah mobil merk Jepang yg terparkir disana. Aku hanya menatapnya sedikit heran tapi segera menuju kamar Regha.

Tempat kost disini lebih mirip kios toko. Bangunannya berbentuk letter U yg disekat-sekat menjadi kamar kost. Ada dua tingkat dan tempat itu mempunyai sebuah tempat nonton bareng yang cukup besar di tengahnya. Aku tersenyum pada seorang pemuda yg lagi ngobrol santai dengan bbrp orang temannya. Aku pernah bertemu dgnya pada waktu mengantar Ibu dulu.

"Mencari Regha Mas?" sapanya.

"Iya," sahutku tersenyum.

"Ada kok dikamarnya," sahutnya. Aku tersenyum lagi dan melambai, segera menuju kamar Regha yg berada dipojokan kanan bangunan. Dan aku mendengar tawa seseorang dari kamar itu. Aku menghentikan langkahku didekat pintu yg terbuka.